Gugur di Lebanon, Keluarga Tunggu Pemulangan Jenazah Kapten Zulmi

- Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, prajurit asal Cimahi, gugur dalam serangan di Lebanon saat bertugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB pada 30 Maret 2026.
- Keluarga Kapten Zulmi masih menunggu kepastian waktu pemulangan jenazah dari Lebanon ke Indonesia untuk prosesi pemakaman di tanah air.
- Mabes TNI mengonfirmasi tiga prajurit gugur dan dua luka akibat ledakan saat pengawalan konvoi UNIFIL di wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan.
Bandung, IDN Times - Keluarga salah satu prajurit TNI, Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar masih menunggu kepulangan jenazah setelah almarhum dikabarkan gugur dalam serangan di Lebanon saat menjalankan tugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB pada Senin (30/3/2026).
Adapun Kapten Zulmi merupakan prajurit asal Kampung Cikendal, RT 01/04, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi. Terakhir berdinas tergabung dalam East Mobile Reserve (SEMR).
Saat ini keluarga masih menunggu kedatangan jenazah untuk kemudian dikebumikan.
Zulmi gugur saat mengawal konvoi kendaraan pasukan UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan. Kabar meninggalnya Kapten Zulmi langsung diterima keluarga.
"Ya benar, adik kami Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar meninggal di Lebanon. Mudah-mudahan almarhum diterima di sisi Allah SWT," kata kakak sepupu almarhum, Risman Efendi, dikutip Rabu (1/4/2026).
1. Keluarga dapat informasi lebih dulu

Risman menyampaikan, keluarga sudah menerima informasi awal atas gugurnya Zulmi dalam tugas sejak Senin sore. Namun saat itu, kabar tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.
"Informasi kemarin sebetulnya, cuma belum berani memastikan, karena memang belum ada kepastian. Nah tadi sekitar jam empat sore, dapat update adik kami benar yang gugur di Lebanon," ujarnya.
Keluarga, kata dia, saat ini masih menunggu proses pemulangan jenazah Kapten Zulmi dari Lebanon ke Indonesia, dan hingga kini, belum ada kepastian waktu kedatangan almarhum di tanah air.
"Jenazahnya masih di sana, kami lagi menunggu pemulangan ke Indonesia. Mudah-mudahan segera bisa dipulangkan, sekarang keluarga masih menunggu kabar dari komandan kesatuan," tutur Risman.
2. Mabes TNI benarkan ada tiga prajurit gugur satu diantaranya Kapten Zulmi

Sebelumnya, Mabes TNI membenarkan ada dua prajurit lain yang gugur dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Mereka gugur ketika sedang bertugas mengawal operasional UNIFIL di Lebanon.
Total dalam kurun waktu 24 jam, sudah ada tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas di UNIFIL.
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah mengatakan, dua prajurit yang gugur atas nama Kapten Inf Zulmi Aditya dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan.
Zulmi diketahui sehari-hari bertugas di Grup 2 Kopassus. Sedangkan, Ichwan berasal dari Kesdam IX Udayana. Selain mereka, ada pula dua prajurit TNI yang mengalami luka.
"Mereka yang luka atas nama Letnan Satu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto," ujar Aulia kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Selasa (31/3/2026).
Kedua prajurit yang luka dan gugur sudah dievakuasi ke Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon untuk diberi penanganan medis.
3. Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah

Aulia mengungkap kronologi peristiwa yang terjadi pada Senin kemarin. Dia mengatakan, insiden itu terjadi pada saat tim escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung di dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU).
"Pengawalan itu dilakukan dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIl United Nations Post (UNP) 7-2 menuju ke Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1. Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi," kata jenderal bintang dua itu.
"Di mana ketika itu terjadi ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan dua prajurit yang gugur," kata dia.
Sementara, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian (United Nations Peacekeeping), Jean-Pierre Lacroix mengatakan, peristiwa ledakan terjadi di dekat Bani Hayyan. Menurut penjelasan UNIFIL, kendaraan mereka hancur akibat ledakan yang belum diketahui sumbernya.


















