Kelompok Usaha Bentukan CDF di Bandung Raup Omzet Rp75 Juta

- Program Community Development Forum (CDF) di Kabupaten Bandung melibatkan 1.812 peserta dari pekerja, masyarakat, dan pemerintah desa untuk memperkuat komunikasi serta perlindungan perempuan dan anak.
- Melalui CDF, terbentuk tiga Kelompok Usaha Bersama di perkebunan Malabar, Pasir Malang, dan Nagara Kanaan dengan omzet mencapai Rp75,6 juta per tahun hingga November 2025.
- Inisiatif ini meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan mendorong perubahan pola komunikasi antara pekerja dan perusahaan menuju lingkungan kerja yang lebih inklusif serta produktif.
Bandung, IDN Times - Program Community Development Forum (CDF) yang berjalan di kawasan perkebunan teh Kabupaten Bandung mulai mendorong keterlibatan masyarakat, khususnya perempuan, dalam forum pengambilan keputusan di lingkungan kerja maupun desa.
Program yang berjalan di Desa Banjarsari, Margaluyu, dan Indragiri ini melibatkan unsur pemerintah desa, perusahaan perkebunan, pekerja, hingga masyarakat sekitar.
Forum tersebut pun turut dibahas dalam diskusi publik bertajuk Kolaborasi Multi Pihak dalam Rangka Mewujudkan Perkebunan Teh yang Inklusif, Produktif, dan Berkelanjutan di Kantor PTPN 1 Regional 2 Kota Bandung, Senin (25/5/2026).
1. Partisipasi komunitas mencapai 1.812 orang

CEO CARE Indonesia, Abdul Wahib Situmorang mengatakan, CDF mulai dijalankan sejak 2023 sebagai ruang komunikasi antara pekerja, komunitas, manajemen perkebunan, dan pemerintah desa.
Menurut Wahid, forum tersebut juga dipakai untuk memperkuat mekanisme perlindungan perempuan dan anak melalui pembentukan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (SAPPANA) serta jalur pengaduan di tingkat desa.
"Program ini menunjukkan adanya peningkatan partisipasi komunitas. Sebanyak 1.812 orang terlibat langsung dalam CDF di tiga wilayah perkebunan," kata Wahid.
2. KUBE pun turut dibentuk untuk para pemetik teh

Dia menyebut, sebanyak 91,7 persen anggota komunitas merasa memiliki peran dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka. Selain itu, perempuan kini menempati 145 posisi dalam struktur CDF, termasuk 34 posisi kepemimpinan.
Selain forum diskusi, program tersebut juga mendorong pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Perkebunan Malabar, Pasir Malang, dan Nagara Kanaan.
Jenis usaha yang dijalankan beragam, mulai dari warung teh, penjualan gas elpiji, pupuk, kopi, lemon kering, hingga pengolahan sayur dan buah.
3. Sikap para petani semakin lugas

Wahid mengatakan, hingga November 2025, tiga kelompok usaha itu mencatat omzet sekitar Rp75,6 juta per tahun. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Bandung, H. Marlan menilai pemberdayaan perempuan penting untuk memperluas akses terhadap sumber daya ekonomi, sosial, hingga politik.
Sementara itu, Ketua Srikandi PTPN 1 Regional 2, Mira Sumirah mengatakan pendekatan dialog melalui CDF mulai mengubah pola komunikasi antara pekerja dan perusahaan.
"Kami melihat adanya perubahan sikap dari para pemetik yang menjadi lebih lugas dalam menyampaikan aspirasi kepada atasannya. Demikian juga dengan masyarakat yang tinggal di perkebunan bisa menyampaikan aspirasi dengan baik," tuturnya.
Mira juga menyampaikan, melalui CDF perusahaan semakin memahami kebutuhan para pekerja untuk mendukung produktivitas sekaligus menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyediaan toilet portable di area perkebunan.
Senada dengan itu, Compliance Manager PT. Kabepe Chakra, Muhammad Ridwan, menilai, penguatan partisipasi masyarakat dan perempuan merupakan bagian penting dalam menciptakan tata kelola sosial yang berkelanjutan di lingkungan perkebunan.
"Program ini tidak hanya membentuk forum, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan kolaborasi antar pihak," kata dia.


















