BRT Bandung Raya Senilai Rp3,8 Triliun Ditargetkan Beroperasi 2027

- Pemerintah menargetkan sistem BRT Bandung Raya senilai Rp3,8 triliun beroperasi pada 2027, dengan pembangunan depo dan halte yang kini tengah berlangsung di berbagai titik.
- Proyek ini mencakup enam depo, 753 halte, jalur khusus sepanjang 21 km, serta sistem ITS untuk integrasi transportasi seluruh Bandung Raya dalam program nasional MASTRAN.
- Layanan BRT ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit saat jam sibuk dan 15 menit di jam normal demi transportasi publik yang cepat dan andal bagi warga Bandung Raya.
Bandung, IDN Times - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan pembangunan sistem transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT) untuk wilayah Bandung Raya bisa beroperasi pada 2027. Saat ini, pembangunan Depo di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung dipastikan terus beroperasi.
Kemudian, proses pembangunan halte BRT ini pun sudah dilakukan di sejumlah titik di wilayah Bandung Raya. Seperti di Kota Bandung sudah ada di beberapa titik dari wilayah Timur hingga selatan. Namun, dipastikan masih dalam pembangunan.
"Saya rasa mohon doa restunya agar pembangunan BRT ini dapat segera terselesaikan sesuai dengan jangka waktu yang sudah diberikan, dan harapannya pada tahun 2027 BRT ini dapat beroperasi untuk melayani masyarakat Bandung Raya," ujar Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, Rabu (22/7/2026).
1. Nilai pembiayaan sebesar 264 juta US dolar atau setara Rp3,8 triliun

Sementara, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan mengatakan, dalam proyek ini pemerintah akan membangun enam depo BRT, 719 halte off-corridor, 34 halte on-corridor, jalur khusus sepanjang 21 kilometer, serta satu sistem Intelligent Transport System (ITS) yang mengintegrasikan operasional angkutan di seluruh Bandung Raya.
Adapun pembangunan BRT Cekungan Bandung merupakan bagian dari proyek nasional MASTRAN yang didukung pembiayaan Pemerintah Indonesia, World Bank, dan AFD dengan nilai pembiayaan secara keseluruhan mencapai Rp3,8 triliun dan nilai investasi Rp1,3 triliun.
"Secara keseluruhan program MASTRAN ini memiliki nilai pembiayaan sebesar 264 juta US dolar atau setara Rp3,8 triliun yang terdiri atas pinjaman modal dari World Bank sebesar 224 juta US dolar dan pinjaman dari AFD sebesar 40 juta dolar, serta didukung oleh pendanaan pendamping dari Pemerintah Indonesia," katanya.
2. Diklaim bisa menghemat waktu

Saat ini, konstruksi halte off-corridor tahap pertama, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, hingga jalur utama BRT telah berjalan. Tahap berikutnya akan dilanjutkan dengan pembangunan halte ikonik di Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, Kiara Artha Park, serta depo di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.
Jika seluruh proyek rampung, layanan BRT ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan 15 menit pada jam normal.
"Melalui pembangunan infrastruktur dan penerapan ITS, layanan BRT Cekungan Bandung ditargetkan beroperasi dengan headway maksimal 7 menit pada saat jam sibuk dan 15 menit pada saat jam tidak sibuk, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan angkutan umum yang lebih pasti, cepat, nyaman, dan dapat diandalkan," kata Aan.
3. Keberadaan BRT merupakan kebanggaan warga Jabar

Sementara itu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut, pembangunan BRT menjadi kabar baik bagi seluruh masyarakat di kawasan Bandung Raya, termasuk Kabupaten Sumedang. Ia berharap proses pembangunan berlangsung lancar sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat.
"Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya, termasuk di dalamnya ada Sumedang. Kami berharap pembangunannya berjalan aman, lancar, tidak ada gangguan, dan bisa melahirkan kualitas pembangunan yang bermutu tinggi, serta cepat digunakan bagi warga masyarakat di sekitar Bandung Raya," ujar Dedi.
Menurutnya, BRT bukan hanya melayani warga Kota Bandung, tetapi seluruh masyarakat yang beraktivitas di kawasan metropolitan Bandung Raya.
"Dan layanannya bukan hanya masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya, tetapi ini layanan untuk semua warga yang berada di wilayah Bandung Raya. Bisa jadi mereka tinggal, mereka bepergian, atau mereka berkunjung. Artinya, transportasi itu terbuka untuk semua kalangan," kata dia.

















