Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan Tuai Keluhan, Ini Kata Farhan

Kota Bandung
Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan Tuai Keluhan, Ini Kata Farhan
Wali Kota Bandung M Farhan (Dok. Humas Pemkot Bandung)
  • Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Cicadas memicu keluhan karena berpotensi menimbulkan kemacetan dan risiko keselamatan. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut dampak itu sudah diperkirakan.
  • Pemkot Bandung menargetkan pengerjaan halte selesai maksimal dua minggu dan akan memantau kondisi konstruksi serta operasionalnya. Halte tidak dilengkapi JPO karena keterbatasan lebar jalan dan trotoar.
  • Farhan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Bappenas terkait kelayakan teknis BRT. Sebanyak 28 halte direncanakan berada di koridor utama, sementara sosialisasi kepada warga diminta diperkuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Cicadas, Kota Bandung, yang berada di tengah jalan menuai keluhan dari masyarakat. Keberadaan halte tersebut dinilai berpotensi memicu kemacetan sekaligus menimbulkan persoalan keselamatan bagi pengguna jalan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui potensi kemacetan akibat pembangunan halte BRT tersebut memang sudah diperkirakan sejak awal. Karena itu, Pemerintah Kota Bandung terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menekan dampak pembangunan terhadap aktivitas masyarakat.

"Itu sudah diduga sebelumnya. Jadi saya sedang komunikasi bagaimana cara meminimalkan kemacetan supaya pengerjaannya tidak menimbulkan kemacetan," ujar Farhan, dikutip Sabtu (12/9/2026).

  1. 1. Pembangunan ditarget selesai dua pekan

    WhatsApp Image 2026-08-21 at 14.08.09.jpeg
    Menteri Diktisaintek, Prof Brian Yuliarto, Wali Kota Bandung M Farhan, dan CTO Danantara Sigit Puji Santoso memberikan keterangan kepada awak media di Balaikota Bandung, Jumat(21/8/2026).

    Farhan mengatakan, kemacetan yang terjadi selama pembangunan halte BRT bersifat sementara. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pengerjaan halte tersebut diperkirakan selesai dalam waktu paling lama dua pekan.

    "Tapi ini hanya sementara saja. Pengerjaan akan cepat. Menurut kabar itu paling lama selama dua pekan, setelah itu lancar, persis seperti yang di Jalan Jakarta. Itu juga cepat, dalam dua minggu selesai," katanya.

    Meski begitu, Pemkot Bandung tetap akan memantau kondisi di lapangan, terutama selama proses konstruksi berlangsung dan ketika halte mulai digunakan masyarakat.

  2. 2. Halte di tengah jalan tak dilengkapi JPO

    IMG-20260813-WA0011.jpg
    Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (13/8).

    Selain persoalan kemacetan, desain halte BRT di tengah jalan juga menjadi perhatian. Salah satunya karena akses menuju halte tersebut tidak dilengkapi jembatan penyeberangan orang (JPO).

    Farhan menjelaskan, pembangunan JPO terkendala kondisi ruang jalan yang terbatas. Menurutnya, lebar jalan dan trotoar yang tersedia tidak memungkinkan pembangunan fasilitas tersebut.

    "Kenapa tidak dibikin JPO? Karena terlalu sempit kalau untuk JPO. Maka akhirnya dibikinlah jalan seperti itu," ungkapnya.

    Meski demikian, Farhan menegaskan aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Pemkot Bandung akan terus mengamati kondisi halte dan akses pengguna, termasuk potensi risiko bagi kelompok rentan.

    "Kami akan amati terus, karena saya juga tidak mau sampai terjadi kecelakaan. Ditambah lagi, dengan lantai halte yang tinggi, tentu akan ada kesulitan juga bagi penyandang disabilitas," katanya.

  3. 3. Farhan bolak-balik Jakarta bahas teknis BRT

    IMG-20260813-WA0011.jpg
    Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (13/8).

    Farhan mengatakan Pemkot Bandung juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan pembangunan BRT dapat berjalan sesuai aspek teknis yang dibutuhkan.

    Ia menyebut komunikasi dilakukan dengan Kementerian Perhubungan dan Bappenas. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan infrastruktur transportasi massal itu tidak justru mengganggu aktivitas masyarakat secara berlebihan.

    "Itu sebabnya sekarang saya lagi bolak-balik Jakarta terus, ke Kementerian Perhubungan, ke Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat," tuturnya.

    Sementara itu, opsi pelebaran jalan di sekitar halte disebut tidak memungkinkan. Farhan mengatakan fasilitas trotoar di kawasan tersebut sudah terbangun sehingga pelebaran jalan tidak menjadi pilihan.

    "Enggak. Soalnya kan trotoarnya sudah jadi," ujarnya.

    Farhan mengungkapkan, pembangunan halte di tengah jalan bukan hanya dilakukan di kawasan Cicadas. Secara keseluruhan, terdapat 28 halte yang berada di koridor utama BRT atau dibangun dengan konsep halte on corridor.

    "Jangan khawatir, total semuanya 28 halte on koridor," katanya.

    Dia mengakui salah satu persoalan yang banyak dikeluhkan masyarakat saat ini adalah minimnya informasi mengenai pembangunan BRT.

    Karena itu, ia meminta pihak BRT meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk kepada pihak-pihak yang aktivitasnya berada di sekitar lokasi pembangunan.

    "Betul. Itu sebabnya saya meminta kepada BRT melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga. Karena yang tahu teknis pengerjaan semuanya BRT. Kalau saya kan mewakili warga," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More