Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal David Germando, Peracik Wewangian Eksklusif dari Kota Kembang

Kota Bandung
Mengenal David Germando, Peracik Wewangian Eksklusif dari Kota Kembang
Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • David Germando membangun Daevu Fragrance Bar di Bandung, tempat pelanggan merancang parfum signature dari pilihan notes, diberi nama sendiri, dan bisa dipesan ulang.
  • Sebagai artisan perfumery, Daevu memakai bahan mentah kimia serta natural untuk kreasi orisinal, termasuk Psychedelic Album berisi tujuh aroma bertema koktail, zat memabukkan, dan imajinasi.
  • David menilai parfum artisan Indonesia berpotensi internasional berkat bahan seperti nilam Aceh, gaharu Kalimantan, dan benzoin Sumatra; ia mendorong kreasi orisinal, kolaborasi, serta edukasi konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Industri parfum Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin ramai. Di tengah bermunculannya berbagai merek lokal, ada pula perfumery yang memilih jalan berbeda, mereka tidak sekadar mengikuti tren pasar atau membuat aroma yang menyerupai parfum merek lain, tetapi menciptakan karya dari bahan mentah dan gagasan sendiri.

Salah satunya David Germando, pemilik sekaligus pendiri Daevu Fragrance Bar dan Perfumery Indonesia. David menyebut Daevu bukan sekadar toko parfum pada umumnya. Konsep fragrance bar yang dibangunnya memungkinkan pelanggan datang untuk merancang aroma sesuai karakter dan selera masing-masing.

Aroma tersebut kemudian dibuat menjadi parfum dengan nama yang dipilih pelanggan dan dapat dipesan kembali. Berbeda dengan konsep parfum yang menggunakan fragrance oil atau bibit parfum, David memilih mengembangkan parfum dari raw material, baik aroma chemical maupun bahan natural.

Bagi David, parfum juga merupakan medium seni. Ia bahkan mengibaratkan proses menciptakan parfum seperti sebuah band ketika membuat album musik. Gagasan itu kemudian melahirkan proyek Psychedelic Album, kumpulan aroma yang terinspirasi dari berbagai pengalaman dan imajinasi tentang zat maupun minuman yang memabukkan.

Kepada IDN Times, David Germando bercerita mengenai perjalanan Daevu, alasan memilih jalur artisan perfumery, eksperimen aroma, potensi bahan baku Indonesia, budaya parfum dupe, hingga harapannya agar Perfumery lokal berani menciptakan karya orisinal.

IDN Times: Sebenarnya Daevu itu seperti apa? Apa yang ingin ditawarkan kepada konsumen?

David Germando: Daevu bisa dibilang brand parfum. Tapi kalau lebih spesifik, konsep tokonya adalah fragrance bar. Jadi kami menggunakan nama Daevu Fragrance Bar.

Konsepnya, orang datang ke sini bukan hanya untuk membeli parfum, tetapi juga mendapatkan experience. Mereka bisa menentukan notes yang mereka inginkan. Setelah notes-nya cocok, kami buatkan parfumnya. Jadi parfum itu benar-benar menjadi signature mereka sendiri. Di botolnya nanti kami berikan label sesuai nama parfum yang mereka inginkan.

Kalau suatu saat ingin repeat order, tinggal menyebutkan nama parfumnya. Jadi mereka tidak hanya membeli parfum, tetapi juga mendapatkan pengalaman membuat aroma yang memang sesuai dengan keinginan mereka.

IDN Times: Daevu dikenal sebagai artisan perfumery. Apa yang membedakannya dengan parfum pada umumnya?

David: Kenapa Daevu bisa disebut artisan perfumery? Karena memang dasar saya adalah perfumery. Saya belajar parfum di Malaysia selama dua tahun dan belajar dari nol. Disebut artisan karena saya menggunakan bahan benar-benar dari nol, dari raw material. Ada aroma chemical, ada juga bahan natural. Semuanya saya gunakan dan saya buat dari awal, bukan dari fragrance oil atau yang orang awam lebih mengenalnya sebagai bibit parfum.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bibit parfum. Selama orang atau pemilik brand-nya tahu dan paham minyak yang bagus seperti apa, bibit yang bagus seperti apa, apa yang mereka cari, apakah tingkat kemiripannya atau kualitas minyaknya, kemudian memahami cara membuat dan melarutkannya, menurut saya tidak ada yang salah.

Hanya saja, untuk Daevu sendiri, saya lebih senang dengan original creation. Saya tidak ingin menduplikasi atau mengkloning brand A, B, atau C. Kebanyakan yang kami sediakan di toko adalah accord. Misalnya ada accord rose, jasmine, dan lainnya. Bahkan ada fantasy accord, seperti aroma whiskey, rum, sampai aroma kaktus.

IDN Times: Kalau begitu, dari mana David mendapatkan inspirasi untuk menciptakan aroma?

David: Sebenarnya toko ini sudah berjalan dua tahun. Tapi setiap orang yang datang selalu bertanya, “Mas, ada signature scent-nya Daevu tidak?” Saya selalu jawab belum ada. Padahal sebenarnya saya sedang mempersiapkannya selama dua tahun. Kenapa saya tidak langsung menyebutnya sebagai signature scent Daevu? Karena saya menggunakan proses kreatif seperti sebuah band.

Band ketika berkarya membuat musik atau lagu, mereka bisa menyesuaikan dengan mood. Kapan saja mood itu datang. Selesainya bisa satu tahun, dua tahun, atau bahkan tiga tahun. Saya juga begitu. Kemarin saya mempersiapkannya dengan membuat album, tetapi dalam bentuk aroma.

IDN Times: Seperti apa album aroma yang dibuat Daevu?

David: Album pertama Daevu temanya Psychedelic. Terinspirasi dari berbagai zat yang memabukkan. Ada tujuh varian. Empat aroma terinspirasi dari koktail. Ada Rose Martini, Manhattan, Tequila Sunrise dengan nuansa koktail di tepi pantai, dan Nigori Sake yang merupakan aroma sake Jepang. Tiga lainnya masuk tema love and hate.

Ada Tipsy Gypsy yang terinspirasi dari acid atau LSD yang dulu sering digunakan. Aromanya seperti kertas dan kaktus. Kemudian ada Magic Mushroom. Itu benar-benar dibuat dengan aroma jamur yang lembap, tanah, dan hutan. Yang paling ramai kemarin adalah Mary Jane, yang terinspirasi dari aroma realistis kanabis atau ganja.

Saya membuat semuanya dalam bentuk fantasi. Jadi memang bukan sekadar membuat parfum yang aromanya enak, tetapi ada cerita dan konsep di baliknya.Itulah tema pertama, Psychedelic Album.

IDN Times: Kenapa memilih konsep seperti album musik, bukan sekadar meluncurkan koleksi parfum?

David: Karena menurut saya parfum dan musik ada hubungannya. Daevu sendiri tidak punya konsep yang benar-benar tetap. Saya hanya melakukan apa yang saya ingin dan saya suka sebagai seniman. Yang penting adalah konsisten. Karena konsistensi akan melahirkan identitas. Akhirnya sekarang orang melihat Daevu sangat kental dengan art dan musik karena memang itu yang saya senangi dan saya konsisten di situ.

IDN Times: Bagaimana respons pasar ketika Psychedelic Album dibawa keluar Indonesia?

David: Kemarin Psychedelic Album saya bawa tur. Saya launching di lima titik di Indonesia dan lima titik di Malaysia. Awalnya rencana terakhir adalah Thailand, tetapi kemarin tidak bisa masuk Thailand.

Ketika saya datang ke Malaysia dan memperkenalkan bahwa ini brand dari Indonesia, responsnya sangat baik. Mereka mengatakan industri parfum di Indonesia luar biasa.

Sekarang banyak bermunculan artisan perfumery yang punya idealisme dan karya-karya yang sangat bagus. Kalau brand pada umumnya ketika launching selalu identik dengan dekorasi yang bagus dan cantik, artisan perfumery lebih banyak membawa ide dan karya.

Kemarin ketika saya membawa konsep ini ke Malaysia, awalnya mereka juga merasa aneh karena sesuatu yang baru. Tapi justru karena baru, akhirnya diterima dengan sangat baik oleh pasar Malaysia.

IDN Times: Jadi menurut David, parfum artisan Indonesia sebenarnya mampu bersaing di level internasional?

David: Bisa banget. Saya melihat sendiri ketika membawa karya ke Malaysia. Mereka merespons dengan sangat baik. Saya ingin menunjukkan bahwa ini brand dari Indonesia dan bahwa industri parfum Indonesia juga punya karya yang bisa diperkenalkan ke luar. Banyak sekali perfumery di Indonesia yang mungkin tidak muncul di permukaan, tetapi karya-karyanya bagus. Menurut saya, kita sebenarnya punya potensi besar.

IDN Times: Salah satu kekuatan Indonesia adalah bahan baku alam. Seberapa besar potensi bahan seperti nilam, gaharu, dan atsiri?

David: Atsiri itu banyak sekali dan sangat khas. Yang paling terkenal ada Benzoin Sumatra. Kemudian gaharu, atau di dunia parfum kita menyebutnya oud. Oud dari Kalimantan bagus.

Selain itu ada patchouli atau nilam dari Aceh. Itu juga terkenal. Distiller-distiller di daerah Indonesia sudah sangat bagus menghasilkan kualitas minyaknya dan minyak tersebut digunakan secara internasional.

Jangankan di Asia. Di internasional pun parfum branded seperti Louis Vuitton atau Tom Ford, kalau kita lihat notes-nya, kadang mereka dengan bangga menuliskan “Indonesian Patchouli”.

Saking terkenalnya dan bagusnya kualitas nilam Indonesia. Saya sendiri sebagai perfumer sudah mencoba nilam dari beberapa negara. Tetap menurut saya yang dari Aceh paling bagus.

IDN Times: Kalau bahan baku Indonesia sudah dikenal, apa yang masih menjadi tantangan bagi artisan perfumery?

David: Untuk artisan perfumery, salah satu tantangannya adalah standar IFRA. Kalau dalam sepak bola kita mengenal FIFA, di parfum ada IFRA yang membuat regulasi. Mereka membatasi raw material atau bahan yang kita gunakan, apakah berbahaya atau tidak.

Selain itu, menurut saya sudah saatnya semua brand yang bermain di industri parfum, termasuk yang masih bermain di ranah dupe, mulai membuat original creation.

Mari kita buktikan ke internasional bahwa industri parfum Indonesia tidak kalah bagus dengan brand-brand di luar sana. Banyak perfumer yang tidak muncul di Indonesia, tetapi karya-karyanya bagus.

Kami juga berharap ada dukungan dari pemerintah. Tapi bukan berarti semuanya harus bergantung kepada pemerintah. Kita bisa saling berkolaborasi. Daripada berkompetisi, menurut saya lebih baik berkolaborasi. Misalnya dengan membuat event artisan bersama.

IDN Times: Bagaimana David melihat tren parfum yang berkembang sekarang?

David: Bedanya begini. Brand yang masuk ke industri biasanya melihat pasar. Misalnya sekarang sedang ramai parfum dengan notes hinoki, semua brand bisa mengeluarkan wangi hinoki.

Sedangkan pola pikir artisan perfumery berbeda. Mereka tidak melihat pasar sedang ramai dengan wangi apa. Artisan lebih bebas membuat apa yang memang ingin mereka buat. Kami memang lebih underground atau indie. Tetapi bukan berarti tidak memahami bahan yang digunakan. Kami tetap memahami tingkat alergi suatu bahan, pelarut yang digunakan, dan hal-hal teknis lainnya.

IDN Times: Bagaimana dengan konsumen? Apakah mereka sudah mulai mencari aroma lokal seperti nilam atau bahan khas Indonesia lainnya?

David: Untuk saat ini customer masih banyak mencari parfum yang mirip dengan brand A, B, atau C. Saya biasanya bilang, kalau di sini kami menggunakan konsep original creation, lebih baik kita create saja.

Kalau mereka benar-benar ingin wangi seperti brand tertentu, saya lebih memilih membuatnya sendiri. Kita berkreasi. Bisa jadi hasilnya mendekati, bisa juga lebih enak. Karena orang datang ke sini bukan hanya membeli parfum, mereka mendapatkan experience dan knowledge. Saya selalu menjelaskan apa itu Extrait, apa itu EDT, apa itu EDP.

Banyak marketing di luar sana yang menyebut Extrait sebagai yang paling bagus. Bagi saya sebagai perfumer, tidak sesederhana itu. Banyak miskomunikasi yang akhirnya menjadi bola liar.

Mereka datang dan bertanya, “Mas, ini sudah Extrait belum?” karena menganggap Extrait pasti lebih tahan lama, dengan berbagai gimmick yang dibuat dalam pemasaran. Padahal kualitas EDT, EDP, dan Extrait bukan jaminan parfum tersebut pasti lebih tahan lama. Itu sebenarnya lebih kepada teknis bagi perfumer.

Misalnya saya mau membuat aroma A. Dalam proses R&D, saya bisa membuat versi EDT, EDP, dan Extrait menggunakan resep yang sama tetapi dengan konsentrasi berbeda. Hasilnya pasti berbeda-beda aromanya, meskipun resepnya sama. Tinggal mana yang menurut kita lebih cocok dengan aroma yang ingin kita kejar. Jadi itu hanya teknis pembuatan, bukan berarti Extrait otomatis lebih bagus.

IDN Times: Apakah kondisi itu akhirnya membuat pasar Daevu menjadi lebih terkurasi?

David: Iya, akhirnya lebih terkurasi.

Orang yang ingin mengkreasikan aromanya sendiri otomatis datang ke sini. Kalau mereka ingin parfum dupe, mereka pasti lari ke toko refill. Sekarang Daevu lebih banyak mengerjakan parfum untuk brand baru maupun brand yang sudah terkenal, merchandise band, bahkan souvenir pernikahan.

Saya juga sekaligus menjadi konsultan atau creative scent director. Saya senang mengonsep dan memberi tahu hal yang benar itu seperti apa.

IDN Times: David tadi menyebut parfum dan musik. Seberapa penting hubungan keduanya bagi identitas Daevu?

David: Karena menurut saya ada hubungannya. Daevu tidak punya konsep tetap. Saya hanya melakukan apa yang saya ingin dan saya suka sebagai seniman. Yang penting konsisten.

Konsistensi itu yang akhirnya melahirkan identitas, pada akhirnya orang melihat Daevu kental dengan art dan musik karena memang itu yang saya senangi dan saya konsisten di situ.

IDN Times: Terakhir, di tengah maraknya parfum duplikat, apa yang ingin David sampaikan kepada konsumen dan pelaku industri parfum Indonesia?

David: Kalau saya melihat riset pasar sejauh ini, alhamdulillah orang-orang sudah mulai mengeksplor.

Hidung mereka sudah mulai bagus. Mereka bahkan bisa tahu, “Ini duplikatnya ini ya?” Harapan saya, baik brand industri maupun artisan, original creation jauh lebih bagus. Di situlah kita harus berpikir dan mengeluarkan ide.

Menurut saya, kalimatnya bukan “parfum yang enak”, tetapi “parfum yang bagus”. Parfum yang bagus adalah parfum yang bisa membangkitkan dua unsur: pertama mood, kedua memori.

Kalau kita membuatnya dari hati, mood-nya akan sampai kepada orang yang memakai. Parfum yang bagus itu bring back memory. Orang bisa saja ketika menyemprot parfum kemudian teringat orangtua, atau rumah di kampung pada zaman dulu. Kalau sudah bisa seperti itu, menurut saya itu sudah menjadi parfum yang bagus.

Tapi kalau hanya ingin membuat parfum yang sekadar enak, main bibit saja sudah cukup. Kalau ingin lebih tersegmentasi, bermainlah di artisan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More