Dari Nilam Aceh ke Botol Parfum, Siapa Menikmati Nilainya?

- Indonesia kaya bahan atsiri seperti nilam Aceh, benzoin Sumatra, dan gaharu Kalimantan, tetapi keterbatasan fraksinasi membuat sebagian bahan diekspor lalu diimpor kembali bernilai lebih tinggi.
- Pasar parfum lokal tumbuh pesat sejak 2021–2022, didorong pergeseran preferensi ke Extrait de Parfum dan meluasnya konsumen muda, termasuk Gen Z.
- Artisan perfumery mendorong parfum sebagai karya kreatif dan identitas lokal, sambil mengedukasi konsumen bahwa konsentrasi parfum tidak otomatis menentukan kualitasnya.
Bandung, IDN Times - Sebotol parfum yang disemprotkan ke tubuh mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengeluarkan aroma harum. Namun, di balik semprotan singkat itu ada rantai proses yang panjang yang jarang diketahui masyarakat.
Bisnis parfum ini tidak bisa dipandang sepele, banyak orang terlibat di dalamnya dan memiliki rantai proses yang cukup panjang dari mulai petani bahan-bahan wewangian hingga akhirnya menjadi produk salah satu parfum dari berbagai merek.
Indonesia secara umum memiliki banyak sumber daya alam untuk menghasilkan bahan wewangian dan produksinya sudah massif, bahkan beberapa diantaranya tembus pasar ekspor. Salah satunya yaitu wewangian dari minyak atsiri yang bahan bakunya melimpah di Indonesia.
Atsiri dari Nilam atau patchouli oil, gaharu dari Kalimantan atau agarwood oil, kemenyan Sumatra yang dihasilkan dari getah resin alami irisan kulit pohon Styrax benzoin, hingga berbagai tanaman penghasil minyak atsiri tumbuh di negeri ini.
Namun, ironisnya, perjalanan bahan-bahan tersebut untuk menjadi parfum bernilai tinggi belum sepenuhnya berlangsung di dalam negeri. Masih banyak tantangan di lapangan khususnya hilirisasi industri parfum di Indonesia.
Tren parfum di Indonesia sendiri saat ini sudah banyak mengalami pergeseran dari yang awalnya pasar sangat menyukai wewangian yang hanya ada di etalase supermarket moderen dengan kategori Eau de Cologne, kini bergeser ke Extrait de Parfum.
Di mana kadar atau kandungan parfumnya sangat tinggi dibandingkan Eau de Cologne, yang kurang lebih di lima persen. Sementara, kandungan parfum kategori Eau de Toilette ada di kisaran 10 sampai 15 persen.
Kemudian, Eau de Parfum 20 persen, dan dari kandungan puluhan persen itu, dalam satu botol parfum sisanya merupakan etanol dan air yang sudah di demineralisasi, di mana kadar mineralnya sangat kecil.
1. Bahan baku banyak menggunakan hasil fraksinasi

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Tren pasar ini turut dirasakan langsung produsen, khusus parfum asal Kota Cimahi, Jawa Barat, PT Sanum Aditama Kosmindo. Banyak kliennya yang kini memesan Extrait de Parfum, dan itu terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
"Karena di Indonesia ini memang rata-rata orangnya tuh pengin dosisnya tinggi. Rata-rata Indonesia karena panas, jadi banyaknya sekarang Extrait. Paling minim-minim itu EDP, Eau de Parfum," ujar Direktur PT Sanum Aditama Kosmindo, Purnomo.
Mengenai penggunaan bahan baku, PT Sanum bisa menyesuaikan dengan keinginan dari para pemegang merek. Namun untuk penggunaan bahan baku atsiri tidak digunakan secara langsung, melainkan dari hasil purifikasi menjadi zat tertentu hingga akhirnya masuk dalam satu botol parfum.
"Jadi bahan baku setengah jadi untuk parfum, itu untuk produk atsiri itu sangat kecil. Saya bilang ya sangat kecil itu artinya bukan berarti produk atsiri nggak dipakai, produk atsiri dipakai tapi bukan produk atsiri langsung dipakai menjadi parfum," kata Purnomo.
Purnomo menjelaskan, Nilam, misalnya, disuling hingga menghasilkan essential oil atau minyak atsiri. Tetapi minyak tersebut belum otomatis dapat digunakan sebagai bahan baku parfum. Di dalamnya terdapat berbagai senyawa, termasuk patchouli alcohol atau PA yang menjadi salah satu komponen penting untuk parfum.
Kandungan PA pada minyak nilam dari proses awal penyulingan petani dapat berada di kisaran 30 persen. Karena itu, minyak tersebut perlu menjalani proses lanjutan berupa fraksinasi untuk memisahkan komponen-komponen di dalamnya.
"Jadi difraksinasi nanti akan terpisah itu antara air, patchouli alkohol dan lain-lain dan lain-lain. Nah patchouli alkohol inilah yang menjadi bahan baku buat parfum," katanya.
2. Pabrik fraksinasi belum banyak di Indonesia

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Sederhananya, satu kilogram minyak nilam tidak serta-merta berubah menjadi satu kilogram bahan baku parfum. Ada proses panjang untuk mendapatkan komponen yang dibutuhkan.
"Bahan baku setengah jadi itu nanti dikirim ke kita sudah menjadi satu note parfum, kemudian kita produksinya tinggal kita pencampuran saja," ucap Purnomo.
Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil tanaman nilam, Purnomo menyebut Aceh sebagai salah satu wilayah dengan kualitas nilam yang menonjol. Produksi juga terdapat di sejumlah wilayah Sumatra, Sulawesi Selatan, hingga Jawa Barat.
Namun, ketersediaan tanaman belum otomatis membuat Indonesia menguasai seluruh rantai industri. Menurut dia, industri fraksinasi di Indonesia masih terbatas. Akibatnya, sebagian minyak atsiri Indonesia justru dikirim keluar negeri untuk menjalani proses lebih lanjut.
"Nah ini dilemanya justru di Indonesia itu fraksinasi itu belum banyak. Fraksinasi belum banyak mungkin kita hanya bisa hitung dengan jari perusahaan-perusahaan yang memproses fraksinasi," katanya.
"Rata-rata itu ya essential oil tadi minyak nilam itu diekspor ke Eropa kemudian diimpor sudah menjadi fraksinasi bahan baku."
Setelah menjadi bahan baku yang memiliki nilai lebih tinggi, produk tersebut kemudian dapat kembali masuk ke pasar Indonesia. Di sinilah nilai tambah yang seharusnya dapat dinikmati industri dalam negeri berpotensi lebih banyak tercipta di luar negeri.
"Makanya tuh kayak termasuk benzoin juga kan di Indonesia (berlimpah) tapi hasil penyulingan nggak bisa jual aja ke sini langsung ke fragrance house mereka nggak akan terima, jadi ekspor, diproses banyaknya di Eropa," kata Purnomo.
3. Rantai industri global yang membuat proses hilirisasi tidak mudah dilakukan

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Kondisi tersebut terjadi bisa jadi ada pertimbangan bisnis, skala produksi, regulasi, investasi, hingga adanya rantai industri global yang membuat proses hilirisasi tidak mudah dilakukan. Purnomo menilai, bagi pelaku usaha, keputusan untuk mengolah sendiri atau menjual bahan mentah maupun setengah jadi pada akhirnya kembali kepada hitungan ekonomi.
"Bicara bahan baku kan global sama kayak minyak BBM. Jadi sehingga ada kepentingan industri-industri tertentu yang memang sudah mendunia dia sudah punya pabrik di Eropa ada, di China ada, di Asia ada, sehingga dia kebijakannya pasti kebijakan korporatnya," tuturnya.
Meski persoalan di hulu belum selesai, cerita berbeda terjadi di hilir. Industri parfum lokal justru mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Purnomo melihat pertumbuhan tersebut semakin terasa setelah pandemi COVID-19. Pasar parfum Indonesia, menurut dia, terus meningkat sejak sekitar 2021-2022.
Pengguna parfum sebenarnya sudah besar sejak lama. Hanya saja, konsumsinya dahulu tersebar melalui parfum impor, parfum refill, serta produk yang dijual di modern market. Pertumbuhan tersebut juga memperluas konsumen. Generasi yang lebih muda, termasuk Gen Z, mulai menjadi bagian penting dari pasar parfum.
"Nah brand-brand lokal ini dia banyak menggaet Gen Z jadi orang-orang yang baru umur SMP, SMA atau kuliah yang sebelumnya zaman dulu itu SD, SMP itu masih jarang lah pakai parfum lah sekarang SD sudah pakai parfum berarti artinya lebih luas sekarang pasarnya," jelas Purnomo.
Perubahan itu, secara perlahan menggeser posisi parfum lokal dari sekadar alternatif menjadi pemain utama di pasar dalam negeri. Marketnya pun sudah terbentuk secara langsung. Bagi masyarakat yang kelas menengah ke bawah cenderung membeli parfum refill.
Sementara, kelas menengah ke atas bisa membeli merek lokal yang saat ini banyak ditemukan di pusat perbelanjaan modern hingga toko digital.
"Toko parfum refill itu kan sudah lama ada sebenarnya sebelum tahun 2000 itu sudah ada berarti artinya sudah 25 tahun 26 tahun yang lalu.hampir 30 tahun sudah ada punya pasar masing-masing," katanya.
4. Industri parfum akan tetap ada dan berlipat ganda

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Menurut Purnomo, Industri parfum merupakan bisnis yang akan terus ada karena penggunaannya dilakukan dari usia balita hingga dewasa, sama halnya seperti industri fesyen yang terus ada, namun hanya berubah gaya.
"Kalau parfum itu adalah bisnis yang sampai kapanpun akan tetap bagus, kenapa? Karena orang dari bayi sampai meninggal itu butuh parfum. Sama kayak fesyen, memang ini bagian dari fesyen juga," kata dia.
Di sisi lain, muncul pula kelompok artisan perfumery yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak mengejar aroma yang sedang laku, melainkan menciptakan karya sendiri. Salah satunya David Germando, pendiri Daevu Fragrance Bar sekaligus perfumery asal Bandung.
David memandang parfum bukan sekadar barang yang harus mengikuti permintaan pasar. Baginya, parfum dapat menjadi karya seni. Bukan lagi hanya komersialisasi semata, namu lebih dari hal tersebut.
"Daefu tidak punya konsep tetap, saya hanya melakukan apa yang saya ingin dan saya suka sebagai seniman," ujar David.
David bahkan membuat konsep yang tidak lazim dalam industri parfum. Dia mengibaratkan proses penciptaan aroma seperti sebuah band membuat album. Sebuah karya tidak harus selesai ketika pasar menginginkannya.
Sebagsi seniman parfum, David bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun karena mengikuti proses kreatif. Selama dua tahun, David mempersiapkan apa yang kemudian menjadi album parfum pertamanya dengan namanya Psychedelic.
Terdiri dari tujuh varian parfum, album tersebut mengambil inspirasi dari berbagai pengalaman dan zat yang memabukkan. Empat aroma terinspirasi dari koktail, seperti Rose Martini, Manhattan, Tequila Sunrise, dan Nigori Sake.
Sementara tiga lainnya bermain di wilayah eksperimental, yakni Tipsy Gypsy, Magic Mushroom, dan Mary Jane. David mencoba menerjemahkan imajinasi menjadi aroma.
Magic Mushroom, misalnya, membawa karakter jamur lembap, tanah, dan hutan. Tipsy Gypsy mengambil inspirasi dari acid dengan aroma kertas dan kaktus. Karya tersebut kemudian dibawa David berkeliling ke lima titik di Indonesia dan lima titik di Malaysia.
"Magic Mushroom, benar-benar wangi jamur yang lembap, tanah, dan hutan. Yang paling ramai kemarin ada Mary Jane, terinspirasi.dari wangi realistis kanabis atau ganja. Jadi saya buat itu, itu kan sudah berfantasi," tuturnya.
Siapa sangka, tour album tersebut kemudian disambut positif oleh pasar. David pun semakin yakin bahwa artisan perfumery Indonesia memiliki kesempatan untuk tampil di pasar internasional.
Keyakinan David bukan tanpa alasan, dia menilai Indonesia memiliki bahan alam yang telah lama digunakan dalam industri parfum dunia. Seperti benzoin Sumatra, gaharu atau oud dari Kalimantan, serta patchouli dari Aceh.
4. "Parfum yang bagus itu bring back memory"

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Khusus nilam, David mengaku telah mencoba bahan dari sejumlah negara. Menurut penilaiannya, nilam Aceh tetap memiliki kualitas yang sangat baik. Bahkan, menurut David, sejumlah brand parfum internasional mencantumkan Indonesian Patchouli dalam notes mereka.
Artinya, nama Indonesia sebenarnya sudah hadir dalam industri parfum globalz namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah,. seberapa besar nilai tambah dari aroma tersebut yang berhasil tinggal di Indonesia.
Di satu sisi ada petani yang menanam tanaman penghasil atsiri. Di sisi lain ada perfumer yang menciptakan karya dan konsumen yang membeli parfum bernilai tinggi. Hanya saja, di antara keduanya masih terdapat mata rantai pengolahan bahan yang belum sepenuhnya dikuasai industri nasional.
David pun sendiri mencoba mengisi ruang tersebut dari sisi kreativitas. Melalui Daevu Fragrance Bar, konsumen tidak hanya datang untuk membeli parfum jadi. Mereka bisa memilih notes yang diinginkan, kemudian membuat aroma yang menjadi signature scent mereka sendiri.
Botol parfum bahkan dapat diberi label sesuai nama yang dipilih konsumen. Konsep itu membuat aktivitas membeli parfum berubah menjadi pengalaman.
David juga mengedukasi konsumen mengenai berbagai istilah dalam parfum, termasuk Eau de Toilette, Eau de Parfum, dan Extrait de Parfum. Menurutnya, konsentrasi bukan otomatis menunjukkan bahwa sebuah parfum lebih bagus.
"Jadi itu hanya teknis pembuatan saja, bukan berarti Extrait lebih bagus," katanya.
Edukasi seperti itu menjadi semakin penting ketika konsumen Indonesia mulai semakin mengenal notes dan karakter parfum. Pasarnya tidak lagi sekadar mencari "wangi".
Masa depan parfum Indonesia ada pada keberanian mencipta. Bagi David, tantangan industri parfum Indonesia bukan hanya soal bahan baku, tapi ada persoalan lain yang tidak kalah penting yaitu keberanian menciptakan identitas. Ia mendorong brand parfum lokal maupun artisan untuk tidak selamanya menjadi pengikut.
"Sudah saatnya semua brand yang sudah bermain di industri maupun yang masih dupe, ayo bikin original creation," kata dia.
Industri melihat perkembangan dunia parfum lokal dari sisi yang lebih luas. Pergeseran dari dominasi brand luar negeri ke brand lokal menunjukkan bahwa konsumen Indonesia mulai memiliki selera sendiri.
Sementara parfumery melihat perkembangan itu sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa parfum Indonesia mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Keduanya bertemu pada satu titik yang artinya industri parfum Indonesia sedang tumbuh.
Kendati sudah tumbuh, perjalanan menuju industri yang benar-benar kuat belum selesai. Ada petani di hulu yang perlu mendapatkan nilai tambah lebih besar. Ada industri pengolahan yang masih harus diperkuat.
Kemudian, ada perfumer yang membutuhkan ruang untuk bereksperimen, dan ada konsumen yang perlahan menjadi semakin kritis terhadap apa yang mereka semprotkan ke tubuh. Pada akhirnya, parfum bukan hanya soal aroma yang keluar dari botol, dia adalah perjalanan panjang dari tanah, tanaman, teknologi, kreativitas, hingga ingatan manusia.
Seperti yang disampaikan, parfumery David, parfum yang bagus bukan sekadar parfum yang mengeluarkan wewangian enak. Baginya, parfum yang bagus adalah parfum yang mampu membangkitkan mood dan memori.
"Parfum yang bagus itu bring back memory. Orang bisa saja ketika menyemprot parfum ini teringat orang tua atau rumah di kampung zaman dulu. Kalau sudah bisa seperti itu, itu sudah jadi parfum yang bagus," ujar David.
"Tapi kalau mau bikin parfum yang hanya sekadar enak, main bibit saja sudah cukup. Tapi kalau ingin lebih tersegmentasi, main di artisan," sambungnya.





















