Investor Kripto Mulai Lebih Selektif di Tengah Volatilitas Global

- Investor kripto mulai lebih selektif di tengah volatilitas global, dengan fokus pada profil risiko, diversifikasi portofolio, dan strategi investasi jangka panjang.
- OJK mencatat 22,93 juta investor kripto di Indonesia hingga Juli 2026; pertumbuhan ini meningkatkan kebutuhan literasi, terutama bagi investor muda.
- OSL Indonesia mengembangkan layanan berbasis masukan pengguna, keamanan transaksi, dan informasi pasar real-time, sambil mendorong riset mandiri serta pemahaman risiko aset digital.
Bandung, IDN Times - Volatilitas pasar global masih menjadi salah satu tantangan bagi investor aset digital. Di tengah kondisi tersebut, industri kripto justru dinilai mulai memasuki fase yang lebih matang, ditandai dengan perubahan perilaku investor dan meningkatnya perhatian terhadap pengelolaan risiko.
Presiden Direktur OSL Indonesia Ivan Arilito melihat investor mulai bergeser dari perilaku yang hanya berfokus pada pergerakan harga. Pemahaman mengenai profil risiko, diversifikasi aset, serta strategi investasi jangka panjang dinilai semakin menjadi perhatian.
Perkembangan tersebut juga berlangsung seiring dengan infrastruktur industri yang semakin teratur dan meningkatnya partisipasi institusional. Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan aset digital karena jumlah penduduk yang besar, tingkat adopsi kripto yang tinggi, serta kerangka regulasi yang terus berkembang di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam wawancara bersama CNBC Indonesia bertajuk “Crypto Investment Trends Amid Global Volatility”, Ivan mengatakan kondisi tersebut menjadi dasar bagi pelaku industri untuk melihat kebutuhan investor secara lebih luas, termasuk dari sisi layanan, keamanan, dan edukasi.
1. Investor mulai memperhatikan diversifikasi aset

Investor Kripto Mulai Lebih Selektif di Tengah Volatilitas Global (Dok. OSL) Perubahan perilaku investor turut terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap diversifikasi portofolio. Aset dengan karakteristik yang dinilai relatif lebih stabil, seperti Bitcoin, USDGO, USDT, dan XAUT, disebut dapat menjadi bagian dari pilihan strategi diversifikasi investor sesuai profil risiko masing-masing.
“Berdasarkan hal tersebut, inilah yang menjadi pondasi kami untuk menghadirkan lebih dari sekadar platform trading tetapi juga wadah bagi masyarakat Indonesia bertumbuh bersama. Sesuai dengan slogan yang kami miliki yakni Built on Your Feedback, Empowered by Global Compliance,” ungkap Ivan, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Rabu (9/9/2026).
OSL Indonesia juga menilai kebutuhan investor lokal perlu menjadi salah satu dasar dalam pengembangan layanan. Pendekatan tersebut dilakukan melalui voice of customer (VoC), yang digunakan untuk menghimpun masukan pengguna sekaligus memahami kebutuhan mereka terhadap platform aset digital.
Selain aspek layanan, perusahaan juga mengembangkan Auth and Funding Upgrade untuk meningkatkan autentikasi serta keamanan dalam proses deposit dan withdrawal. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat perlindungan pengguna sekaligus merespons kebutuhan yang disampaikan pengguna.
2. Jumlah investor kripto terus bertambah

ilustrasi kripto (pexels.com/Alesia Kozik) Pertumbuhan jumlah investor menjadi salah satu faktor yang membuat edukasi dan literasi aset digital semakin penting. Berdasarkan Statistik Penyelenggara Perdagangan AKD AK Periode Juli 2026, OJK mencatat jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 22,93 juta hingga Juli 2026.
“Dengan populasi masyarakat yang besar, adopsi aset kripto yang tinggi, serta kerangka regulasi yang terus menguat di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan aset digital,” kata Ivan.
Pertumbuhan tersebut juga diikuti oleh tingginya minat investor muda. Kondisi ini membuat pemahaman mengenai karakteristik aset, mekanisme transaksi, diversifikasi, hingga manajemen risiko menjadi bagian penting dalam perkembangan ekosistem aset digital.
OSL Indonesia berencana menghadirkan market buzz yang menyediakan informasi, data, dan perkembangan pasar secara real-time. Layanan tersebut ditujukan untuk membantu pengguna memahami sentimen serta pergerakan pasar dengan informasi yang lebih komprehensif, bukan hanya mengandalkan headline.
3. Edukasi dan keamanan menjadi bagian dari perkembangan industri

ilustrasi token kripto (pexels.com/Jakub Zerdzicki) Seiring bertambahnya jumlah investor dan semakin beragamnya kebutuhan pengguna, perkembangan industri aset digital tidak hanya berkaitan dengan penambahan produk atau layanan. Edukasi, keamanan, transparansi, dan pemahaman terhadap risiko juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang lebih matang.
“Kami ingin membangun platform yang tidak hanya membawa pengalaman dan standar global ke Indonesia, tetapi juga terus berkembang berdasarkan kebutuhan pengguna lokal,” ujar Ivan.
Meski peluang pertumbuhan semakin terbuka, perdagangan dan investasi aset digital tetap memiliki sejumlah risiko, mulai dari fluktuasi harga, potensi kehilangan modal, likuiditas, teknologi, hingga perubahan regulasi. Karena itu, investor perlu memahami karakteristik dan risiko setiap aset sebelum mengambil keputusan.
OSL Indonesia mendorong pengguna melakukan riset mandiri atau do your own research (DYOR), termasuk memahami mekanisme dan dokumentasi masing-masing aset digital. Investor juga perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko serta kondisi finansial masing-masing agar pertumbuhan industri diikuti dengan perilaku investasi yang semakin terukur.



















