Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dinkes Jabar: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Picu Pneumonia

Kota Bandung
Dinkes Jabar: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Picu Pneumonia
potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Pierre Markuse)
  • Dinkes Jawa Barat meningkatkan kewaspadaan karena abu Anak Krakatau berpotensi memicu ISPA, iritasi pernapasan, kekambuhan asma atau PPOK, hingga pneumonia pada paparan berat.
  • Balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis menjadi prioritas perlindungan; warga diminta mengurangi aktivitas luar ruang dan memakai pelindung pernapasan serta kacamata.
  • Dinkes memperkuat surveilans harian untuk gangguan kesehatan terkait abu, sementara warga diminta menjaga air dan pangan dari kontaminasi serta segera berobat jika mengalami gejala berat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau ke Jawa Barat, berpotensi berdampak serius terhadap kesehatan khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat pun meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak tersebut.

Kepala Dinkes Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat mengganggu saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

"Yang paling perlu diwaspadai adalah ISPA dan iritasi saluran pernapasan, terutama batuk, tenggorokan terasa gatal, pilek, sesak atau rasa berat di dada. Pada penderita asma dan PPOK, abu vulkanik dapat menjadi pencetus kekambuhan atau memperberat gejala," kata Vini dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

  1. 1. Kelompok rentan paling berpotensi terdampak

    Erupsi Gunung Anak Krakatau.
    Erupsi Gunung Anak Krakatau. (commons.wikimedia.org/Adhari Arief)

    Menurut dia, risiko kesehatan tidak berhenti pada gangguan pernapasan ringan. Pada kondisi paparan yang tinggi, dampaknya dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

    "Pada paparan yang berat, terutama pada kelompok rentan, dapat terjadi gangguan pernapasan yang lebih serius termasuk pneumonia," ujarnya.

    Selain gangguan pernapasan, Dinkes Jabar juga memantau kemungkinan peningkatan kasus iritasi mata, gangguan kulit, cedera, serta dampak kesehatan lainnya yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik.

  2. 2. Masyarakat diminta sigap jika mengalami sesak napas

    Erupsi Gunung Anak Krakatau.
    Erupsi Gunung Anak Krakatau. (commons.wikimedia.org/Thomas.Schiet)

    Vini menegaskan balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis harus menjadi prioritas perlindungan selama sebaran abu vulkanik masih terjadi.

    Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, menutup pintu, jendela, dan ventilasi saat konsentrasi abu meningkat, serta menggunakan pelindung pernapasan dan kacamata pelindung apabila terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

    "Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak, napas cepat, nyeri dada atau penurunan kesadaran," katanya.

  3. 3. Kesiapan di fasilitas kesehatan turut ditingkatkan

    Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra di Indonesia.
    Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra di Indonesia. (commons.wikimedia.org/flydime)

    Paparan abu vulkanik juga berpotensi menimbulkan iritasi pada mata. Sebab itu, masyarakat diminta tidak mengucek mata ketika terkena abu. Jika muncul nyeri hebat, mata merah berat, atau gangguan penglihatan, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

    Dinkes Jabar juga mengingatkan masyarakat, untuk melindungi sumber air dan bahan pangan dari kontaminasi abu vulkanik. Sumur terbuka dan tandon air diminta ditutup untuk mencegah masuknya abu. Air yang terlihat tercemar tidak dianjurkan digunakan, sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

    Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Jabar juga memperkuat surveilans harian untuk memantau perkembangan kasus kesehatan akibat sebaran abu vulkanik.

    Pemantauan difokuskan pada gangguan pernapasan, asma, PPOK, iritasi mata, gangguan kulit, cedera, serta dampak kesehatan lainnya. Kelompok dengan penyakit kronis menjadi prioritas dalam upaya perlindungan kesehatan.

    "Pesan kami kepada masyarakat Jawa Barat adalah tidak perlu panik, tetapi jangan menganggap remeh abu vulkanik. Kurangi aktivitas di luar rumah, gunakan masker yang tepat dan pelindung mata," kata Vini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More