Anak Krakatau Picu Megathrust M8,9? Ini Kata Badan Geologi

- Badan Geologi menyatakan belum ada kajian akademik yang membuktikan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat memicu megathrust Selat Sunda hingga gempa Magnitudo 8,9.
- Menurut Kepala Badan Geologi Lana Saria, aktivitas Anak Krakatau tidak berkaitan dengan Lewotobi Laki-laki, Sinabung, maupun gunung lain karena tiap gunung memiliki karakteristik sendiri.
- Warga diimbau membatasi aktivitas luar ruang akibat abu vulkanik, memakai pelindung jika harus keluar, serta tetap waspada dan mengikuti mitigasi, jalur evakuasi, serta lokasi aman.
Bandung, IDN Times - Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) turut angkat bicara mengenai kabar aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang bisa memicu pergerakan Megathurst Selat Sunda, hingga menghasilkan gempa dengan Magnitudo mencapai angka 8,9.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria mengatakan, sampai saat ini mengenai potensi tersebut belum ada kajian akademik. Menurut dia, setiap gunung memiliki aktivitas dan karakteristik masing-masing.
"Tidak ada kajiannya demikian ya. Masing-masing gunung dengan aktivitas sendiri, dengan karakternya sendiri ya, tidak saling memengaruhi," kata Lana di Kantor PVMBG Badan Geologi pada Selasa (8/9/2026).
1. Aktivitas gunung tidak bisa saling dikaitkan

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di kantor Pusdalops BPBD Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna). Selain itu, Lana menjelaskan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tak ada hubungannya dengan aktivitas vulkanik di Gunung Lewotobi Laki-laki ataupun Gunung Sinabung. Dia menegaskan, setiap gunung mempunyai karakteristiknya masing-masing.
"Kejadian di enam gunung ini bukan berarti kemudian ini adalah saling berhubungan satu sama lain atau saling memicu begitu ya. Karena masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri dari gunung tersebut," kata dia.
2. Masyarakat diminta tetap waspada

Penampakan Gunung Anak Krakatau pada 2018. (Dok. Badan Geologi) Kendati begitu, Lana mengimbau, masyarakat agar tetap membatasi aktivitas di luar rumah agar mencegah paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Apabila tak ada kegiatan yang begitu mendesak, alangkah lebih baik berdiam diri di rumah.
"Bila memang harus keluar karena suatu pekerjaan yang memaksa harus keluar, ya menggunakan pelindung diri ya. Seperti masker, apabila menaiki kendaraan motor menggunakan helm dan juga kacamata seperti itu," kata dia.
3. Mitigasi harus tetap dilakukan sesuai imbauan pemerintah

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia) Sementara itu, bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Anak Krakatau, diimbau agar tak terlena. Sebab, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa saja sewaktu-waktu kembali meningkat.
"Yang paling penting adalah artinya jangan kewaspadaan itu hanya ada pada saat erupsi terjadi gitu ya. Tetapi kewaspadaan itu harus ada, sesuai dengan mitigasi yang kita informasikan begitu," kata dia.
"Kewaspadaan itu harus tetap ada dan ada masyarakat-masyarakat yang memang sudah ditunjuk oleh pemerintah daerah untuk bisa menunjukkan jalur evakuasi, lokasi aman mana, dan apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang rentan," ujarnya.



















