Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Badan Geologi: Erupsi Anak Krakatau Selesai, tapi Statusnya Siaga

Kota Bandung
Badan Geologi: Erupsi Anak Krakatau Selesai, tapi Statusnya Siaga
Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Badan Geologi menyatakan erupsi menerus Anak Krakatau berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB, kembali menjadi letusan Strombolian singkat dengan amplitudo terbatas.
  • Pemantauan mencatat delapan letusan kecil berdurasi 10–15 detik pada 8 September; material dan abu terkonsentrasi di sekitar lereng serta kawah.
  • Potensi tsunami dinyatakan nihil, bandara kembali beroperasi, tetapi status Anak Krakatau tetap Level III Siaga dengan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, fase erupsi Gunung Berapi Anak Krakatau di Selat Sunda telah resmi berakhir. Aktivitas vulkanik kini telah kembali ke karakter aslinya yaitu fase erupsi Strombolian dengan durasi dan amplitudo letusan yang relatif pendek.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, fase erupsi menerus yang sempat berlangsung sejak Rabu, 4 September, telah mereda pada Jumat, 6 September dini hari tepat pukul 00.04 WIB. Saat ini, perilaku Gunung Anak Krakatau kembali pada karakter aslinya letusan Strombolian berdurasi singkat.

"Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik," kata Lana di Kantor Badan Geologi, Bandung, Selasa (8/9/2026).

  1. 1. Ada delapan kali letusan kecil dengan durasi 10 hingga 15 detik

    IMG_20260908_132333.jpg
    Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Kondisi ini juga diketahui berdasarkan pemantauan seismik pos pengamatan gunung api, penurunan getaran seismik telah terekam secara konsisten sejak 5 September.

    Kendati demikian, Lana menegaskan, instrumen pencatat masih merekam getaran vulkanik berskala rendah yang disebabkan pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung api.

    "Berdasarkan pengamatan mutakhir per 8 September, terekam delapan kali letusan kecil dengan durasi berkisar antara 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dan abu vulkanik terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah," ucap dia.

  2. 2. Potensi tsunami sangat kecil

    IMG_20260908_132322.jpg
    Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Mengenai, ancaman gelombang laut, Lana menegaskan, kondisi saat ini jauh berbeda dengan peristiwa erupsi katastropik pada Desember 2018 silam. Saat itu, tsunami dipicu oleh runtuhnya sebagian besar dinding tubuh gunung ke dalam palung laut.

    "Sementara saat ini, analisis data deformasi menunjukkan tidak adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran lereng ke perairan," kata dia.

    Morfologi lereng, kata dia, saat ini tergolong dangkal, dan kesimpulan nihil potensi tsunami ini juga dikonfirmasi melalui sinkronisasi data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang tidak mencatat anomali muka air laut di sepanjang Selat Sunda.

  3. 3. Aktivitas nelayan bisa normal dengan catatan menggunakan masker dan kacamata

    Anak Gunung Krakatau (Instagram.com/dailyoverview)
    Anak Gunung Krakatau (Instagram.com/dailyoverview)

    Di sisi lain, membaiknya kondisi atmosfer usai minimnya sebaran kolom abu juga berimbas positif pada sektor penerbangan sipil. Seluruh Notice to Airmen (NOTAM) keselamatan penerbangan telah berstatus hijau/biru, sehingga Kementerian Perhubungan telah resmi membuka kembali operasional sejumlah bandara yang sempat terdampak sebaran abu.

    "Sementara bagi nelayan di pesisir Selat Sunda, aktivitas melaut telah dapat kembali berjalan normal dengan imbauan tetap mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu tipis," kata Lana.

    Lana menegaskan, Badan Geologi belum menurunkan tingkat kewaspadaan. Artinya, status Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi larangan beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari pusat kawah aktif.

    "Meskipun aktivitas vulkanik mulai melandai sejak 5 September. Status tetap Siaga (Level III) dengan radius aman 3 kilometer," ucap dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More