Anomali El Nino di Sukabumi: ISPA-Diare Melandai, Kasus DBD Melonjak

- Kasus ISPA, diare, dan pneumonia di Kota Sukabumi menurun saat El Nino, tetapi DBD naik menjadi 402 kasus sepanjang Januari–Agustus 2026; Citamiang mencatat sebaran tertinggi.
- Suhu panas ekstrem mempercepat penetasan telur Aedes aegypti dari 6–12 hari menjadi sekitar 5–7 hari, terutama ketika telur di area kering terkena genangan tipis.
- Dinkes menegaskan fogging bukan pencegahan awal; warga didorong menjalankan PSN 3M Plus, menjaga lingkungan bersama, dan memeriksakan demam berkepanjangan ke Puskesmas.
Sukabumi, IDN Times - Fenomena El Nino yang melanda Kota Sukabumi membawa perubahan tak terduga pada peta penyakit menular. Di saat penyakit musim kemarau seperti ISPA, diare, hingga pneumonia mencatatkan penurunan kasus, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) justru melonjak tajam.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi mencatat kasus ISPA melandai ke angka 948 kasus, dari sebelumnya 1.020 kasus di bulan Juli. Kasus diare juga turun dari 360 menjadi 303 kasus, sedangkan pneumonia terjun bebas dari kisaran 45–47 kasus menjadi 30 kasus saja.
Sayangnya, penurunan ini berbanding terbalik dengan grafik kasus DBD yang terus merangkak naik hingga menyentuh total 402 kasus sepanjang Januari–Agustus 2026, dengan Kecamatan Citamiang sebagai wilayah sebaran tertinggi.
"Penyakit lain kalau menurun tentu kita bahagia. Tapi yang naik ini DBD justru. Masyarakat tahunya musim hujan itu DBD naik, padahal justru harus waspada di musim kemarau ini," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Dena Yuliana, Rabu (9/9/2026).
1. Cuaca panas ekstrem percepat penetasan telur nyamuk

Ilustrasi nyamuk DBD (Gambar.net) Melonjaknya kasus DBD di tengah musim kemarau bukan tanpa alasan. Peningkatan suhu udara akibat fenomena El Nino rupanya mempercepat proses inkubasi telur nyamuk Aedes aegypti.
Dalam sekali bertelur, nyamuk betina bisa menghasilkan hingga 300 ribu telur yang sanggup bertahan di tempat kering selama enam bulan. Begitu ada genangan air tipis—seperti di sela-sela paving block saat gerimis—telur tersebut akan langsung menetas.
"Ada peningkatan suhu di Kota Sukabumi akibat cuaca yang makin panas. Semakin tinggi suhunya, penetasan telur nyamuk menjadi jauh lebih cepat seperti telur ayam. Jika kondisi normal butuh waktu enam sampai 12 hari, di suhu panas El Nino saat ini hanya butuh waktu lima hari atau seminggu untuk menetas," kata Dena.
2. Fogging bukan tindakan penanganan awal

ilustrasi fogging untuk pembasmian nyamuk DBD (unsplash.com/Refat Ul Islam) Melihat kondisi ini, Dinkes Kota Sukabumi mengimbau masyarakat agar tidak menggantungkan penanganan pada metode penyemprotan atau fogging. Fogging merupakan langkah paling akhir (terminal phase) yang baru dilakukan jika ditemukan kasus aktif berdasarkan Hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) oleh Puskesmas.
"Masyarakat sering terkecoh iklan, menganggap fogging itu pencegahan (preventif). Padahal bukan. Fogging memakai bahan kimia tinggi yang tidak boleh asal semprot. Harus ada izin dan rekomendasi Dinkes karena bisa mencemari lingkungan serta berbahaya bagi manusia," katanya.
3. PSN 3M Plus jadi kunci utama cegah DBD

ilustrasi nyamuk DBD(Pexels.Com/Pixabay) Langkah paling ampuh untuk memutus rantai penularan DBD tetap melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat Gerakan 3M Plus serta Gerakan 1 Rumah 1 Jentik. Masyarakat juga disarankan memakai lotion antinyamuk, memasang kelambu, menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai dan lavender, hingga memelihara ikan pemakan jentik.
"Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi hingga siang hari saat kita beraktivitas. Karena daya jelajah nyamuk mencapai 100 meter, kebersihan tidak bisa hanya satu rumah. Semua tetangga harus ikut bersih-bersih," katanya.
Warga diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam yang tak kunjung turun selama 1–2 hari. Deteksi dini sangat krusial guna menghindari risiko Dengue Shock Syndrome (DSS) yang berakibat fatal, terutama bagi bayi dan balita. Saat ini, layanan pemeriksaan DBD sudah dapat diakses secara gratis di 15 Puskesmas se-Kota Sukabumi.




















