Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Gedebage ke Pasar Baru, Angkot Listrik Bandung Mulai Diuji

Kota Bandung
Dari Gedebage ke Pasar Baru, Angkot Listrik Bandung Mulai Diuji
Angkot Listrik Kota Bandung yang diproduksi PT Marlip menjalani uji coba. (IDN Times/Yogi Pasha)
  • PT Marlip Indo Mandiri menguji 22 angkot listrik sebagai feeder rute Gedebage–Pasar Baru; 21 unit untuk operasional dan satu unit cadangan.
  • Layanan dirancang non-tunai melalui QRIS atau uang elektronik, dengan tarif Rp4.900 umum dan Rp2.000 pelajar; kapasitasnya 15 orang termasuk pengemudi.
  • Angkot berbaterai 30 kWh dapat menempuh sekitar 150 kilometer per hari, telah lolos uji tipe dan KIR, serta ditujukan mengurangi emisi kendaraan di Bandung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Bandung selama puluhan tahun identik dengan angkot berwarna-warni yang lalu lalang di berbagai sudut kota. Kendaraan ini menjadi bagian dari denyut kehidupan warga, menghubungkan permukiman dengan pasar, sekolah, hingga pusat aktivitas ekonomi. Namun, di tengah tuntutan transportasi yang lebih modern dan ramah lingkungan, ada wajah baru angkot di Kota Bandung.

Angkutan berbasis listrik mulai menjalani uji coba di Kota Bandung. Sekilas, bentuknya mirip dengan minibus. Lebih besar dari angkot konvensional pada umumnya. Namun ketika mesinnya dinyalakan, tak terdengar suara deru mesin bahan bakar minyak (BBM) yang biasanya menjadi ciri khas kendaraan umum. Yang terdengar justru keheningan dan hanya suara fan dari air condicioner (AC) dan ban saat berjalan.

Kendaraan listrik ini diperkenalkan PT Marlip Indo Mandiri sebagai bagian dari uji coba konsep atau proof of concept (POC) untuk angkutan feeder perkotaan. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, armada ini akan menjadi salah satu langkah awal transformasi transportasi publik di Kota Bandung.

Direktur Operasional PT Marlip, Asep Kuswara, mengatakan angkot listrik tersebut disiapkan untuk melayani rute dari kawasan Gedebage menuju pusat Kota Bandung, termasuk Pasar Baru, sebelum kembali ke titik keberangkatan.

"Total ada 22 unit. Sebanyak 21 unit untuk operasional dan satu unit sebagai cadangan," kata Asep, disela uji coba Angklung (Angkot Listrik Kota Bandung), Selasa (8/9/2026).

  1. 1. Angkot listrik disiapkan menjadi feeder transportasi publik Bandung

    WhatsApp Image 2026-09-08 at 14.10.07.jpeg
    Direktur Operasional PT Marlip, Asep Kuswara (IDN Times/Yogi Pasha)

    Konsep yang ditawarkan pada angkot listrik ini berbeda dengan angkot konvensional yang selama ini beroperasi di Bandung. Selain menggunakan tenaga listrik, sistem pembayarannya juga dirancang sepenuhnya non-tunai.

    Penumpang nantinya dapat melakukan pembayaran menggunakan QRIS maupun uang elektronik. Tarif yang direncanakan sebesar Rp4.900 untuk masyarakat umum dan Rp2.000 bagi pelajar.

    Menurut Asep, sistem tersebut disiapkan agar layanan angkot listrik dapat mengikuti perkembangan transportasi publik modern yang mengedepankan kemudahan transaksi dan kepastian tarif bagi penumpang.

    Kapasitas kendaraan mencapai 15 orang termasuk pengemudi. Dengan daya angkut tersebut, armada diharapkan mampu melayani kebutuhan perjalanan masyarakat di koridor yang telah direncanakan.

  2. 2. Sekali cas bisa melayani perjalanan hingga 150 kilometer

    WhatsApp Image 2026-09-08 at 14.10.08.jpeg
    Angkot Listrik Kota Bandung yang diproduksi PT Marlip menjalani uji coba. (IDN Times/Yogi Pasha)

    Dari sisi teknis, kendaraan ini menggunakan baterai berkapasitas 30 kWh dengan motor listrik berkekuatan 15 kilowatt. Kecepatan maksimalnya mencapai sekitar 60 kilometer per jam.

    Asep menjelaskan satu unit kendaraan ditargetkan dapat beroperasi dari pagi hingga sore hari dengan jarak tempuh sekitar 150 kilometer. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, armada dibekali dua baterai sehingga tidak perlu melakukan pengisian daya saat masih melayani penumpang.

    "Untuk satu feeder ini dari pagi sampai sore itu di 150 kilometer," ujarnya.

    Dalam satu hari operasional, penggunaan baterai diperkirakan mencapai sekitar 80 persen. Karena itu perusahaan memilih memasang kapasitas baterai yang lebih besar sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai kondisi di lapangan, termasuk kemacetan dan perubahan waktu tempuh perjalanan.

    "Kendaraan ini tidak boleh ngecas di sembarangan. Jadi daripada kekurangan, lebih baik kapasitasnya kami lebihkan," katanya.

    Sementara untuk pengisian daya, kendaraan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam jam menggunakan charger 32 ampere hingga baterai kembali penuh.

  3. 3. Disiapkan sebagai solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan

    WhatsApp Image 2026-09-08 at 14.11.09.jpeg
    Angkot Listrik Kota Bandung yang diproduksi PT Marlip menjalani uji coba. (IDN Times/Yogi Pasha)

    Di balik pengembangan angkot listrik, terdapat tujuan yang lebih besar daripada sekadar menghadirkan moda transportasi baru. Asep menilai kendaraan listrik dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor yang selama ini menjadi tantangan di Kota Bandung.

    Menurutnya, kondisi geografis Bandung yang berada di wilayah cekungan membuat persoalan kualitas udara perlu mendapat perhatian serius. Karena itu, penggunaan kendaraan listrik dinilai dapat membantu mengurangi polutan yang berasal dari kendaraan berbahan bakar fosil.

    "Kota Bandung ini adalah cekungan. Kita harus memikirkan masalah polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan konvensional," ujar Asep.

    Ia memastikan kendaraan yang diperkenalkan bukan lagi sekadar prototipe. Angkot listrik tersebut telah menjalani uji tipe di fasilitas pengujian Kementerian Perhubungan di Bekasi dan dinyatakan memenuhi persyaratan teknis serta laik jalan.

    Selain telah lolos berbagai pengujian, kendaraan juga sudah mengantongi dokumen legalitas untuk beroperasi di jalan raya.

    "STNK-nya sudah keluar dan uji KIR-nya sudah ada," katanya.

    Meski masih berada pada tahap uji coba konsep, kehadiran angkot listrik menjadi sinyal bahwa transformasi transportasi publik di Bandung mulai bergerak ke arah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, warga Bandung bukan hanya akan melihat angkot dengan wajah baru, tetapi juga sistem transportasi yang lebih bersih, lebih senyap, dan semakin terintegrasi dengan teknologi digital.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More