Bandung Jadi Jalur Darurat Penumpang Pesawat yang Gagal Terbang

- Abu vulkanik Anak Gunung Krakatau membuat penerbangan Bandung belum beroperasi; penumpang dari Jakarta menuju Surabaya, Solo, dan Yogyakarta beralih bus ke Bandung lalu kereta.
- Pemkot Bandung berkoordinasi menambah jadwal kereta sesuai kebutuhan, sementara sekolah tetap berjalan dengan masker wajib dan penyemprotan jalan dilakukan untuk mencegah abu beterbangan.
- Pemerintah menyiagakan fasilitas kesehatan meski belum ada laporan gangguan akibat abu, serta memantau stok masker agar pembelian besar tidak memicu kelangkaan dan kenaikan harga.
Bandung, IDN Times – Abu vulkanik dari erupsi Anak Gunung Krakatau masih berdampak pada aktivitas transportasi di Bandung. Meski kondisi di permukaan mulai terkendali, penerbangan hingga kini belum bisa kembali dibuka karena sebaran abu diduga masih berada di lapisan udara.
Situasi ini tak hanya memengaruhi jadwal penerbangan. Di lapangan, mulai terlihat perubahan pola perjalanan masyarakat hingga meningkatnya kewaspadaan terhadap kesehatan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pemerintah kota terus melakukan berbagai langkah mitigasi sembari menunggu kondisi ruang udara dinyatakan aman.
1. Bandung mendadak jadi jalur alternatif menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur

Sejumlah perempuan berjalan di selasar stasiun saat turun dari gerbong kereta api. (IDN Times/Dok Humas Daop 4 Semarang) Penutupan sementara penerbangan membuat banyak calon penumpang harus mencari cara lain untuk mencapai tujuan mereka. Menurut Farhan, kondisi itu terlihat dari banyaknya penumpang yang semula akan terbang dari Jakarta menuju Surabaya, Solo, dan Yogyakarta.
Alih-alih menunggu penerbangan dibuka kembali, mereka memilih naik bus menuju Bandung. Dari Kota Kembang, perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan kereta api ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Perubahan arus penumpang tersebut membuat pemerintah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk menyesuaikan kapasitas transportasi. Jadwal perjalanan kereta api ke arah timur maupun barat ditambah sesuai kebutuhan.
"Jadi banyak sekali kami lihat tadi dari Jakarta gagal terbang ke arah Surabaya, Jogja, Solo itu pada naik bus ke Bandung, dari Bandung mereka naik kereta api ke arah timur semuanya," ujar Farhan.
Fenomena ini menunjukkan Bandung kini berperan sebagai jalur alternatif ketika akses penerbangan terganggu akibat abu vulkanik.
2. Sekolah tetap berjalan, tetapi masker jadi perlengkapan wajib

(Dok.Humas Pemkot Bandung) Di tengah kondisi abu vulkanik yang masih menjadi perhatian, Pemkot Bandung belum mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh. Aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa.
Meski demikian, siswa diminta menggunakan masker selama berada di lingkungan sekolah. Farhan mengaku telah meninjau sejumlah sekolah dan melihat para siswa mulai menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Kebijakan tersebut diambil karena masih ditemukan sisa abu vulkanik yang mengendap di sejumlah lokasi. Selain lingkungan sekolah, petugas Damkar, BPBD, dan Dinas Perhubungan juga melakukan penyemprotan di ruas jalan yang memiliki lalu lintas tinggi agar abu tidak kembali beterbangan.
Menurut Farhan, hingga saat ini belum ada laporan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat abu vulkanik. Namun pemerintah tetap menyiagakan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
3. Pemkot antisipasi kelangkaan masker

PMI Salurkan Masker untuk Warga Terdampak Bencana Erupsi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAM). (Dok. PMI) Meningkatnya penggunaan masker ternyata memunculkan kekhawatiran baru. Farhan mengaku menerima informasi mengenai mulai sulitnya mendapatkan masker, terutama masker untuk anak-anak.
Namun berbeda dari yang mungkin diperkirakan banyak orang, Pemkot Bandung belum langsung memutuskan membagikan masker gratis secara besar-besaran. Pemerintah justru lebih dulu ingin memastikan stok dan distribusi di pasaran tetap aman.
Farhan menilai pembelian masker dalam jumlah besar oleh pemerintah berpotensi memicu kelangkaan dan kenaikan harga jika tidak dilakukan secara hati-hati. Karena itu, ia meminta Dinas Perdagangan dan Perindustrian memantau distribusi masker di toko modern maupun toko alat kesehatan.
"Saya tidak ingin ketika pemerintah membeli masker dalam jumlah besar, stok di pasaran malah menipis dan harga menjadi naik," katanya.
Sementara itu, hingga pukul 13.00 WIB, penerbangan dari Bandung masih belum mendapatkan izin untuk beroperasi. Pemerintah dan otoritas terkait masih menunggu hasil pemantauan kondisi ruang udara sebelum aktivitas penerbangan kembali dibuka.

















