Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Bandung, DLH: Kualitas Udara Memburuk

- Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau menurunkan kualitas udara Bandung menjadi kategori sedang mendekati buruk, sekaligus memicu penghentian sementara penerbangan di Bandara Husein Sastranegara.
- DLH Bandung mendeteksi kondisi kuning pekat melalui empat titik AQMS; paparan berpotensi berdampak pada kelompok sensitif, termasuk anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan.
- Partikel PM10 dan PM2,5 dalam abu dapat mengganggu pernapasan; warga diimbau memakai masker N95 saat beraktivitas luar ruang, sementara DLH melanjutkan pemantauan intensif.
Bandung, IDN Times - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai berdampak pada kualitas udara di Kota Bandung. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatat kondisi udara saat ini berada pada kategori sedang dan mendekati buruk, seiring terdeteksinya abu vulkanik yang juga memaksa Bandara Husein Sastranegara menghentikan sementara operasional penerbangan.
Kepala DLH Kota Bandung, Darto, mengatakan penurunan kualitas udara terpantau sejak Minggu (6/9/2026) pagi melalui alat pemantau kualitas udara atau Air Quality Monitoring System (AQMS) yang tersebar di sejumlah titik di Kota Bandung.
"Hari ini kualitas udara kita dalam kondisi sedang menjelang buruk," kata Darto.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak sebaran abu vulkanik yang terbawa hingga wilayah Bandung. Data pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi udara tidak dalam keadaan normal seperti hari-hari sebelumnya.
1. Abu vulkanik terdeteksi bersamaan dengan penutupan Bandara Husein

(Dok.Humas Pemkot Bandung) Penurunan kualitas udara terjadi hampir bersamaan dengan hasil pemantauan di Bandara Husein Sastranegara yang menemukan adanya abu vulkanik di kawasan bandara.
Darto menjelaskan, kualitas udara Kota Bandung mulai menunjukkan penurunan sejak pagi hari. Pada saat yang sama, hasil paper test di kawasan bandara juga mengindikasikan adanya paparan abu vulkanik.
"Dari tadi pagi sudah kelihatan kuning," ujarnya.
Saat ini DLH Kota Bandung mengoperasikan empat titik AQMS yang memantau kondisi udara secara berkala. Salah satu alat pemantau tersebut berada di kawasan Ujungberung.
Berdasarkan hasil pemantauan, status kualitas udara berada pada kategori kuning pekat atau mendekati buruk. Kondisi ini sudah berpotensi memberikan dampak bagi kelompok masyarakat yang sensitif, seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
2. Partikel abu vulkanik bisa mengganggu kesehatan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto. (Dok. Humas Pemkot Bandung) Selain berdampak pada penerbangan, abu vulkanik juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Darto menjelaskan abu vulkanik mengandung partikel PM10 dan PM2,5 yang dapat masuk ke sistem pernapasan manusia.
Partikel PM10 dapat menyebabkan iritasi dan gangguan pernapasan. Sementara PM2,5 dinilai lebih berbahaya karena ukurannya sangat kecil sehingga mampu masuk lebih dalam ke paru-paru bahkan ke aliran darah.
"Yang paling berbahaya itu PM2,5 karena bisa masuk ke peredaran darah," kata Darto.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama sebaran abu vulkanik masih terjadi.
3. Warga diimbau gunakan masker saat beraktivitas

(Dok.Humas Pemkot Bandung) DLH Kota Bandung mengimbau warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan partikel abu vulkanik.
Darto menyarankan masyarakat menggunakan masker medis seperti N95 karena lebih efektif menyaring partikel halus yang terbawa di udara.
Selain itu, pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan secara intensif untuk melihat perkembangan dampak abu vulkanik terhadap kondisi lingkungan di Kota Bandung.
"Kami terus memantau karena ini gejala alam yang harus diantisipasi, terutama dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat," ujarnya.
Sejumlah penerbangan di Bandara Husein sebelumnya dihentikan sementara setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya paparan abu vulkanik di kawasan bandara. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengganggu sektor penerbangan, tetapi juga mulai dirasakan oleh masyarakat Bandung melalui penurunan kualitas udara.

















