Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fenomena Gempa Langit Bandung Raya Sempat Terjadi di wilayah Bogor

Kota Bandung
Fenomena Gempa Langit Bandung Raya Sempat Terjadi di wilayah Bogor
Ilustrasi gempa seismograf (IDN Times/Sukma Shakti)
  • BMKG Bandung menduga dentuman yang terdengar di Bandung Raya pada 5 September 2026 sebagai fenomena skyquake, namun sumber dan penyebabnya belum teridentifikasi.
  • Fenomena serupa pernah dilaporkan warga Bogor pada April 2020 tanpa aktivitas petir atau gempa, sementara dentuman saat gempa Cianjur 2025 terekam bersama gelombang seismik.
  • Pada kejadian Bandung Raya, BMKG tidak mencatat gempa, dinamika atmosfer, maupun aktivitas sesar; erupsi Anak Krakatau berkorelasi, tetapi secara fisika suaranya seharusnya tidak terdengar jelas di Bandung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Suara dentuman yang dirasakan warga Bandung Raya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari masih belum diketahui penyebab dan sumbernya. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menduga hal ini merupakan gempa langit atau skysquake.

Selain di wilayah Bandung Raya, fenomena serupa ternyata sempat terjadi di wilayah Jawa Barat lainnya. Hanya saja, untuk yang terjadi di wilayah Bandung Raya momentumnya bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, fenomena ini sempat terjadi di wilayah Bogor di mana masyarakat melaporkan mendengar suara dentuman dalam kondisi tidak ada aktivitas petir yang tinggi serta kegempaan.

"Jadi pada bulan April 2020 masyarakat Bogor pernah melaporkan skysquake ini. Jadi kami juga mengecek aktivitas pada waktu itu, aktivitas dari petir, aktivitas dari kegempaan dan lain-lain tidak ada," ujar Suaidi saat dikonfirmasi.

  1. 1. Ketika Gempa Cianjur sempat muncul fenomena tersebut

    Ilustrasi Gempa (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi Gempa (IDN Times/Arief Rahmat)

    Kendati demikian, Suaidi mengungkapkan, fenomena ini sempat muncul saat terjadi gempa bumi di Cianjur di tahun 2025, dan itu terekam langsung oleh BMKG melalui peralatan yang sebelumnya sudah terpasang. Hanya saja, untuk fenomena dentuman di wilayah Bogor sampai saat ini masih belum diketahui penyebabnya.

    "Tapi tahun 2025 ketika gempa Cianjur memang terjadi dentuman, itu sudah terekam dan memang ada gelombang seismiknya dan ada gempanya kan gitu ya. Nah tahun 2020 kemarin itu belum bisa terjawab dentuman ini dari mana," kata dia.

    "Nah di tahun 2026 yaitu saat ini ya, saat ini kebetulan itu berkorelasi dengan letusan gunung api di Krakatau. Korelasinya di sana," ujarnya.

  2. 2. Secara fisika tidak memungkinkan penyebabnya, karena angin kencang saat erupsi Gunung Anak Krakatau

    Ilustrasi gempa seismograf (IDN Times/Sukma Shakti)
    Ilustrasi gempa seismograf (IDN Times/Sukma Shakti)

    Disinggung mengenai ada kemungkinan angin kencang pada saat erupsi Gunung Anak Krakatau, Suaidi mengatakan, memang ada pergerakan angin kencang, karena saat ini masih masuk dalam musim kemarau. Namun, pergerakan angin condong ke wilayah timur.

    "Jadi memang karena ini juga masih masuk kemarau, itu tentunya angin dari timuran juga memiliki (intensitas relatif) cukup kencang. Tapi masalahnya kan arahnya ke timur anginnya. Artinya harusnya kita gak bisa mendengar juga untuk Kota Bandung dan sekitarnya," kata dia.

    Secara fisika, Suaidi juga menegaskan, dentuman yang diduga karena erupsi Gunung Anak Krakatau ini seharusnya tidak terdengar jelas di wilayah Bandung Raya. Sehingga, dia memastikan sumber dentuman ini masih menjadi pertanyaan mengapa bisa terjadi dan dari mana sumbernya.

    "Jadi secara fisika secara fisika letusan gunung api dari Krakatau itu harusnya tidak terdengar di Kota Bandung. Tapi kenapa terjadi dentuman? Itu fenomena alam yang memang masih menjadi misteri bagi kita. Makanya disebut dengan Skyquake," tuturnya.

  3. 3. BMKG tidak punya alat infrason

    Ilustrasi Gempa (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Gempa (IDN Times/Aditya Pratama)

    Lebih lanjut, Suaidi menambahkan, suara dentuman memang bisa saja terjadi dalam kondisi aktivitas kegempaan baik dengan magnitudo besar atau kecil. Hanya saja, untuk kasus di wilayah Bandung Raya sangat berbeda dari yang sempat terjadi di Kabupaten Cianjur diqma saat itu memang terjadi gempa bumi.

    "Gempa-gempa kecil itu menghasilkan dentuman. Tapi fenomena hari ini kami mencatat tidak ada rekaman gempa baik di sesar aktif Sesar Lembang, Sesar Cimandiri dan beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya," katanya.

    Kemudian, disinggung soal kemungkinan fenomena ini terjadi di luar peristiwa alam, Suaidi menegaskan, hal ini masih dalam penelusuran lebih lanjut, karena BMKG tidak memiliki alat geofisika.

    "Itu masih kita curigai karena kita tidak punya ada alat geofisika yang namanya infrason. Jadi kita tidak punya alat itu untuk di BMKG maupun di lembaga lainnya. Jadi infrason itu sebenarnya mencatat getaran mikro suara dengan sangat kecil, sehingga kita bisa mendefinisikannya. Karena kita belum punya alat itu," kata dia.

    BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memastikan, fenomena skysquake di Bandung Raya ini memang belum diketahui sumber dentuman yang di hasilkan dari mana. Namun, ada beberapa kemungkinan, salah satunya dari jejak pesawat tempur.

    "Ini adalah fenomena dentuman yang sumbernya menjadi misteri. Bisa akibat dari sonic boom, akibat jejak dari pesawat tempur. Bisa jejak dari aktivitas kegempaan yang jelas gempa tidak ada, aktivitas dinamika atmosfer tidak ada juga pada saat jam bersamaan," ujar Suaidi.

    "Aktivitas vulkanik Krakatau kebetulan anginnya mengarah ke barat. Nah ini yang menjadi jawaban misteri untuk dikaji lebih lanjut aktivitas Skyquake di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More