Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Panti Asuhan, Bang Ran Kini Edukasi Ribuan Orang Baca Pasar

Kota Bandung
Dari Panti Asuhan, Bang Ran Kini Edukasi Ribuan Orang Baca Pasar
Dari Panti Asuhan, Bang Ran Kini Edukasi Ribuan Orang Baca Pasar (Dok. Bang Ran)
  • Ranto Siagian atau Bang Ran menghabiskan 11 tahun di panti asuhan karena kondisi ekonomi keluarga; pengalaman itu membentuk disiplin, public speaking, kepercayaan diri, dan pandangannya tentang belajar.
  • Setelah tak dapat melanjutkan kuliah, Bang Ran bekerja dan mendirikan komunitas edukasi pasar keuangan Ran Trade pada 1 Juli 2024, dengan kelas daring serta seminar di beberapa kota.
  • Ran Trade mengajarkan Metode BRG untuk membaca pasar, menentukan area masuk, dan mengelola risiko tanpa menjanjikan profit; komunitasnya mencatat 2.783 anggota aktif dan 87.570 pengikut lintas platform.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Saat memasuki kelas I sekolah dasar, Ranto Siagian belum mengetahui bahwa sebagian besar masa sekolahnya akan dijalani jauh dari keluarga. Kondisi ekonomi yang sedang sulit membuat kedua orangtuanya mengambil keputusan untuk menitipkan Ranto bersama beberapa saudaranya di panti asuhan agar pendidikan mereka tetap berlanjut.

Sebelas tahun kemudian, Ranto meninggalkan panti setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup pria kelahiran Samarinda, 25 Agustus 1998, yang kini dikenal dengan nama Bang Ran.

Kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi belum bisa diwujudkannya karena keterbatasan biaya. Ia kemudian langsung memasuki dunia kerja tanpa menyandang ijazah sarjana.

Namun, pengalaman belajar yang diperolehnya selama berada di panti justru menjadi bekal yang terus dibawa hingga dewasa. Kemampuan berbicara di depan umum, kedisiplinan, serta berbagai aktivitas yang dijalaninya membentuk cara pandangnya terhadap proses belajar.

  1. 1. Pengalaman di panti membentuk keterampilannya

    ilustrasi trading (unsplash.com/Coinstash Australia)
    ilustrasi trading (unsplash.com/Coinstash Australia)

    Bang Ran mengaku masa tinggal di panti tidak semata-mata menjadi cerita tentang keterbatasan. Ia justru mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan berbagai kemampuan melalui aktivitas yang dijalani sehari-hari.

    "Saya belajar bermain musik, berlatih berbicara di depan umum saat berinteraksi dengan para donatur, hingga mengenal kedisiplinan melalui berbagai kegiatan rutin yang terjadwal," katanya, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Jumat (4/9/2026).

    Selain keterampilan tersebut, Bang Ran juga sempat mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari karate, turnamen game, hingga festival band akustik. Pengalaman itu turut membentuk kepercayaan dirinya untuk berinteraksi dengan banyak orang.

    Ketika tidak dapat melanjutkan kuliah, ia memilih memasuki dunia kerja. Pengalaman tersebut kemudian ikut memengaruhi pandangannya bahwa proses pendidikan tidak hanya berkaitan dengan teori, tetapi juga membutuhkan praktik, konsistensi, disiplin, dan kemampuan mengambil keputusan.

  2. 2. Cara belajar itu dibawa ke komunitas Ran Trade

    ilustrasi trading (pexels.com/Roger Brown)
    ilustrasi trading (pexels.com/Roger Brown)

    Pandangan mengenai pendidikan tersebut kemudian diterapkan Bang Ran ketika mendirikan Ran Trade pada 1 Juli 2024. Komunitas edukasi pasar keuangan itu tidak hanya mengandalkan pembelajaran daring, tetapi juga mengadakan seminar tatap muka di sejumlah kota.

    Menurut Bang Ran, pertemuan langsung memberikan kesempatan baginya untuk mengetahui sejauh mana peserta memahami materi yang diberikan. "Kelas online memang lebih praktis, tapi lewat seminar tatap muka saya bisa melihat langsung apakah peserta benar-benar memahami materi dan kesulitan yang mereka alami," ujarnya.

    Seminar terakhir Ran Trade digelar di Surabaya pada Juli lalu dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk sebagian peserta dari luar negeri. Sebelumnya, kegiatan serupa juga telah digelar di Bandung dan Jakarta.

    Dalam kegiatan tersebut, salah satu materi yang diperkenalkan adalah Metode BRG, pendekatan yang disusun Bang Ran berdasarkan pengalamannya di pasar. Materi tersebut mencakup pembacaan arah pasar, penentuan area masuk, hingga pengelolaan risiko sebelum mengambil keputusan.

  3. 3. Edukasi trading ditekankan pada pengelolaan risiko

    ilustrasi trading (pexels.com/Anna Nekrashevich)
    ilustrasi trading (pexels.com/Anna Nekrashevich)

    Bang Ran mengatakan Metode BRG dibuat dengan pendekatan yang terstruktur agar peserta memiliki kerangka ketika membaca kondisi pasar. "Yang membedakan Metode BRG adalah pendekatannya yang terstruktur, mulai dari membaca arah pasar, menentukan area entry, hingga mengatur risiko sebelum mengambil posisi," katanya.

    Meski mengajarkan strategi membaca pasar, ia menegaskan tidak memberikan jaminan keuntungan kepada peserta. Menurutnya, hasil trading tetap dipengaruhi kondisi pasar, kedisiplinan, psikologi, serta kemampuan masing-masing individu dalam mengelola risiko.

    "Saya tidak pernah menjanjikan tingkat keberhasilan atau profit tetap, karena hasil trading tetap dipengaruhi kondisi pasar, kedisiplinan, psikologi, dan cara setiap orang mengelola risikonya. Metode ini adalah panduan untuk membuat keputusan lebih terukur, bukan jaminan pasti untung," ujarnya.

    Menurut Bang Ran, tantangan edukasi trading saat ini bukan lagi sekadar memperkenalkan instrumen pasar keuangan. "Di lapangan, saya menemukan banyak orang sudah mengenal trading, tetapi masih lemah dalam memahami manajemen risiko, membaca struktur pasar, dan menjalankan strategi secara konsisten," katanya.

    Hingga kini, Ran Trade tercatat memiliki 2.783 anggota aktif yang terdiri dari anggota berbayar serta anggota grup Telegram terbuka dan tertutup. Sementara itu, jumlah pengikut akumulatif di Telegram, Instagram, YouTube, dan situs Ran Trade Academy mencapai 87.570 akun. Angka tersebut merupakan jumlah gabungan lintas platform dan tidak menunjukkan jumlah pengguna unik.

    Perjalanan membangun komunitas itu juga tidak sepenuhnya berhenti pada aktivitas edukasi pasar. Pada November tahun lalu, sehari setelah menggelar seminar di Jakarta, Bang Ran mengajak anggota komunitasnya mengunjungi sebuah panti asuhan di kota tersebut. Langkah itu seolah menjadi pengingat bahwa pengalaman yang pernah membentuk dirinya dapat diteruskan dalam bentuk lain kepada orang lain.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More