Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BRIN Sebut Dentuman Bandung Raya Bukan Disebabkan Space Quake

Kota Bandung
BRIN Sebut Dentuman Bandung Raya Bukan Disebabkan Space Quake
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sabtu dini hari (5/9/2026). (Dok. Badan Geologi)
  • BRIN menyatakan dentuman dan getaran di Bandung Raya bukan berasal dari aktivitas antariksa, termasuk meteor maupun space quake; belum ada laporan meteor besar yang melintas.
  • Badan Geologi menduga dentuman yang terdengar hingga Jawa Barat, Banten, dan Lampung berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau, tetapi keterkaitannya masih berupa dugaan berdasarkan waktu kejadian bersamaan.
  • BMKG Bandung menduga aktivitas gas metana di kawasan bekas Danau Purba Bandung sebagai kemungkinan penyebab, sementara menilai jarak Krakatau terlalu jauh untuk memicu skyquake di Bandung Raya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Dentuman yang dirasakan masyarakat di wilayah Bandung Raya saat ini masih belum diketahui penyebabnya. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun menepis anggapan suara tersebut dipicu meteor maupun fenomena space quake.

Peneliti Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan, tidak ada aktivitas dari luar angkasa yang dapat menjelaskan suara dentuman maupun getaran yang dilaporkan sejumlah warga.

"Yang jelas bukan bersumber dari antariksa," kata Thomas saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).

  1. 1. Tidak ada fenomena space quake

    IMG_20260905_115253.jpg
    Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).

    Thomas juga menepis kemungkinan fenomena yang disebut sebagai space quake atau goncangan ekstrem di medan magnet bumi menjadi penyebab suara seperti gemuruh secara berkala hingga beberapa diantaranya merasakan getaran ekstrem.

    "Tidak ada fenomena space quake (goncangan ekstrem di medan magnet bumi) yang terasa atau terdengar di permukaan bumi. Dugaan saya, sumber dentuman/getaran lokal Bandung, bukan fenomena dari antariksa," kata dia.

    Kemudian, kemungkinan adanya benda langit yang jatuh atau meteor besar melintas juga belum didukung oleh laporan saksi di lapangan. Menurut Thomas, tidak ada laporan mengenai meteor berukuran besar yang terlihat melintas dan berpotensi menimbulkan gelombang kejut.

    "Dan tidak ada saksi yang melihat meteor besar yang melintas yang bisa menyebabkan gelombang kejut," kata Thomas.

  2. 2. Badan Geologi sebut ada dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau

    IMG_20260905_115223.jpg
    Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).

    Di sisi lain, Badan Geologi menduga sumber dentuman yang terjadi pada dini hari berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Suara tersebut dilaporkan muncul dari sejumlah wilayah di Jawa Barat, Banten, hingga Lampung.

    Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, keterkaitan antara suara yang dilaporkan masyarakat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berupa dugaan. Namun, waktu kemunculan kedua fenomena tersebut berlangsung secara bersamaan.

    "Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," kata Lana dalam keterangannya.

  3. 3. BMKG menduga hal ini disebabkan akibat gempa langit

    Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda (Google Map)
    Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda (Google Map)

    Sementara, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, fenomena ini bisa jadi dipicu oleh adanya aktivitas gas metana yang ada di wilayah Bandung Raya.

    "Ada literatur yang menjawab bahwa aktivitas Skyquake tadi ya mungkin adanya aktivitas gas metana yang ada di Danau Purba. Nah ini yang menjadi suatu pertanyaan mungkin nanti teman-teman geologi, Badan Geologi bisa melakukan penelitian ini," ujar Suaidi.

    Analisa Suaidi ini didasari dengan wilayah Bandung Raya yang merupakan area bekas danau purba. Sehingga, BMKG Stasiun Geofisika Bandung menduga penyebab gempa bumi langit ini dari adanya aktivitas gas metana tersebut.

    "Kita ketahui bersama bahwa Kota Bandung dan sekitarnya itu di atas Danau Purba ya, Danau Bandung. Jadi ini yang menjadi kecurigaan kita memang dari segi fenomena alam yang diamati oleh BMKG tidak menunjukkan aktivitas aneh atau yang menjadi anomali berakibat dari dentuman tersebut," jelasnya.

    Jika mengacu pada dugaan dari aktivitas erupsi Gunung Berapi Anak Krakatau, Suaidi berpendapat, jarak antara Bandung Raya dengan lokasi erupsi tersebut tergolong jauh. Apabila hal tersebut terjadi, secara hitungan yang paling merasakan adalah warga di Wimbledon Banten dan sekitarnya.

    "Aktivitas vulkanik yang ada di Krakatau yang kebetulan bersamaan pada jam tertentu tersebut itu artinya tidak memiliki efek dentuman langit atau yang kita sebut dengan skyquake," ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More