Udara Bandung Kuning, Kelompok Rentan Diminta Tak Banyak Keluar

- Kualitas udara Bandung berstatus sedang pada Senin, dengan AQI 86 dan PM2,5 28 mikrogram per meter kubik, setelah pagi hari sempat melampaui indeks 100.
- DLH meminta penderita asma dan penyakit pernapasan membatasi aktivitas luar ruang; bila harus keluar, gunakan masker KN95 atau medis. Warga lain juga dianjurkan mengurangi paparan.
- DLH memantau arah angin selatan dan barat karena abu vulkanik berada di barat Bandung; angin menuju timur berpotensi memengaruhi kualitas udara kota.
Bandung, IDN Times - Kualitas udara di Kota Bandung berada pada kategori sedang atau berstatus kuning pada Senin (7/9/2026). Kondisi tersebut terpantau di tengah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mencapai wilayah Bandung. Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, indeks kualitas udara berada di angka 86 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 28 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini masih lebih baik dibandingkan pemantauan pada pagi hari ketika kualitas udara sempat berada di atas angka 100.
Kepala DLH Kota Bandung Darto meminta masyarakat tetap memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Ia secara khusus mengingatkan kelompok rentan, seperti masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan asma, agar membatasi aktivitas di luar karena paparan partikulat berpotensi mengganggu saluran pernapasan.
"Kalau yang sensitif, sebaiknya jangan keluar rumah atau keluar ruangan secara berlebihan karena kondisinya sekarang sedang, statusnya kuning," kata Darto.
1. Kualitas udara Bandung sempat di atas 100

Ilustrasi penggunaan masker. Dokumentasi Istimewa Darto mengatakan kualitas udara Bandung dipantau secara berkala menggunakan Air Quality Index (AQI) dan Air Quality Monitoring System (AQMS). Berdasarkan pemantauan terbaru, indeks kualitas udara berada di angka 86 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 28 mikrogram per meter kubik.
"Kualitas udara Bandung? Per jam sekarang kualitasnya sedang. Tadi pagi itu sedang menjelang buruk. Sekarang sedang dengan parameter 86, di mana PM2,5-nya itu 28 mikrogram per meter kubik. Itu kualitasnya sedang," ujar Darto.
Pada pagi hari, indeks kualitas udara sempat berada di atas angka 100. Darto menjelaskan angka indeks yang semakin tinggi menunjukkan kandungan partikulat di udara juga semakin banyak.
"Dari pagi malah sudah di atas 100. Di atas 100 itu artinya kandungan partikelnya semakin banyak. Semakin tinggi angkanya, berarti kandungan partikel mikron yang kita sebut PM2,5 itu semakin banyak," katanya.
2. Waspada gangguan pada pernapasan

Ilustrasi penggunaan masker. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal Darto mengatakan kondisi udara kategori sedang mulai perlu diperhatikan oleh kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara. Mereka yang memiliki penyakit pernapasan atau asma menjadi kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan akibat paparan partikulat.
"Itu bisa mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. Kelompok rentan itu siapa? Yang punya penyakit pernapasan, yang punya asma, dan sebagainya," ujarnya.
Karena itu, kelompok sensitif disarankan tidak melakukan aktivitas di luar ruangan secara berlebihan. Jika harus keluar rumah, Darto menyarankan penggunaan masker KN95 atau masker medis untuk membantu mengurangi paparan partikulat.
"Jadi, untuk kondisi sedang seperti ini, berarti kelompok sensitif harus menggunakan masker, apa namanya, masker KN95 atau masker medis. Karena bagi kelompok sensitif, itu sudah mulai bisa mengganggu pernapasan. Bagi kelompok normal masih bisa aman," tutur Darto.
Sementara itu, masyarakat yang tidak masuk kelompok rentan juga diminta tetap membatasi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dinilai dapat menjadi langkah pencegahan ketika harus beraktivitas di luar.
"Kalau kelompok normal, ya batasilah, pakai masker lebih aman," katanya.
3. Arah angin jadi perhatian DLH

Popmama.com/Putri Syifa N/AI (membersihkan rumah dari abu vulkanik) Selain memantau kualitas udara, DLH Kota Bandung turut memperhatikan arah angin yang dapat memengaruhi pergerakan sebaran abu vulkanik. Darto mengatakan angin di Kota Bandung saat ini berasal dari arah selatan dan sesekali dari barat.
Menurutnya, pergerakan angin dari barat menuju timur perlu diwaspadai karena sebaran abu vulkanik berada di wilayah barat Kota Bandung. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas udara apabila arah angin membawa partikulat menuju wilayah perkotaan.
"Kalau kita lihat, arah angin sekarang itu dari arah selatan untuk Kota Bandung dan sesekali dari barat. Nah, bila arah angin dari barat ke arah timur, itu yang perlu kita waspadai karena titik sebaran abu vulkanik itu dari arah barat, dari wilayah barat Kota Bandung," kata Darto.
DLH juga memantau perkembangan kualitas udara di wilayah lain melalui AQI Air. Darto menyebut kualitas udara di Jakarta dan Bekasi berdasarkan pemantauan tersebut sudah berada dalam kondisi tidak baik.
"Dan itu tidak jauh dari, kalau dari pantauan AQI Air, Jakarta dan Bekasi kondisinya sudah tidak baik," ujarnya.
Pemantauan kualitas udara di Bandung dilakukan menggunakan AQI Air dan AQMS. Masyarakat diimbau terus memperhatikan perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan.

















