Abu Krakatau Terdeteksi di Bandung, Farhan Minta Warga Waspada

- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi di Kota Bandung pada 7 September 2026, sehingga Wali Kota Muhammad Farhan mengimbau warga memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan.
- Sekolah di Bandung tetap beroperasi dan belum menerapkan pembelajaran jarak jauh; Pemkot akan memitigasi dampak dengan memastikan siswa menggunakan masker.
- Kualitas udara Bandung masih kategori sedang, sementara aktivitas erupsi Anak Krakatau meningkat sejak 4 September 2026 dan Badan Geologi terus mengevaluasi potensi bahayanya.
Bandung, IDN Times - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) terdeteksi hingga wilayah Kota Bandung pada Senin (7/9/2026). Kondisi ini membuat Pemerintah Kota Bandung meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengimbau warga menggunakan masker sebagai langkah antisipasi. Di sisi lain, aktivitas sekolah tetap berjalan dan Pemkot Bandung belum menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
1. Disarankan pakai masker ketika di luar ruangan

Popmama.com/Putri Syifa N/AI (membersihkan rumah dari abu vulkanik) Farhan mengatakan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah mencapai Kota Bandung. Ia pun meminta masyarakat tidak mengabaikan kondisi tersebut dan melakukan langkah pencegahan saat beraktivitas di luar ruangan.
"Untuk warga Bandung saya betul-betul menyarankan untuk pakai masker," kata Farhan saat berada di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Senin (7/9/2026).
Farhan bahkan mengaku mengalami suara serak setelah berkeliling Kota Bandung sejak Sabtu malam untuk memantau kondisi di lapangan. Ia menduga kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi paparan abu vulkanik.
"Ini saya sudah jalan dari hari Sabtu malam kan keliling-keliling, ya salah satu akibatnya ini jadi agak serak gitu ya, jadi sebaiknya dilakukan hal itu," ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan warga untuk menggunakan masker, khususnya ketika harus melakukan kegiatan di luar rumah.
2. Sekolah tidak diliburkan

Pengetatan penggunaan masker akan dilakukan kepada anak-anak sekolah. Ilustrasi (pexels.com/August de Richeliu) Meski abu vulkanik telah terdeteksi di Bandung, Pemkot Bandung belum mengambil kebijakan untuk meliburkan sekolah. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa.
Farhan juga memastikan pemerintah belum menerapkan PJJ. Namun, penggunaan masker menjadi salah satu langkah mitigasi yang akan diterapkan bagi para siswa.
"Untuk anak-anak sekolah, saya akan melihat sekolah tidak ada yang libur, semua tidak memerlukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), tetapi kita akan memitigasi dengan memastikan semua anak-anak pakai masker," tuturnya.
Kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi udara di Kota Bandung yang masih berada pada kategori sedang.
3. Kualitas udara Bandung masih kategori sedang
Penggunaan masker di pasar tradisional. IDN Times/Debbie Sutrisno Farhan menyebut kualitas udara di Kota Bandung saat ini berada dalam kategori sedang. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan dampak abu vulkanik sudah mengalami penurunan dibandingkan kondisi yang sebelumnya dikhawatirkan.
"Ya, sedang, jadi belum menuju buruk. Artinya bahwa dampak dari abu vulkanik itu sudah jauh menurun dari kondisi yang mengkhawatirkan," katanya.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas erupsi sejak Jumat (4/9/2026). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut peningkatan tersebut berkaitan dengan dinamika magma yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung api.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan peningkatan aktivitas terlihat dari erupsi yang terjadi berulang dalam beberapa hari terakhir.
"Aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus-menerus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung," ujar Lana secara daring, Minggu (6/9/2026).
Meski frekuensi erupsi meningkat, Lana meminta masyarakat tetap tenang. Menurutnya, erupsi yang terjadi berulang kali belum bisa menjadi dasar untuk menyimpulkan Gunung Anak Krakatau akan mengalami letusan yang lebih besar.
"Erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi," katanya.
Badan Geologi tetap mengingatkan masyarakat mengenai potensi bahaya di sekitar pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Bahaya tersebut meliputi lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, hingga gas vulkanik dengan kadar tinggi.

















