Abu Erupsi Anak Krakatau di Bandung Mulai Menipis, Sukabumi Masih Waspada

- Abu vulkanik Anak Krakatau di Bandung Raya mulai menipis pada Senin pagi, disertai perbaikan kualitas udara, meski BMKG masih melakukan pemantauan.
- Sukabumi dan Bogor masih merasakan abu vulkanik; sebaran pada Senin pagi bergerak ke barat dan barat daya akibat angin dari timur hingga tenggara.
- BMKG memperkirakan abu dapat bertahan satu hingga dua hari, bergantung arah dan kecepatan angin, serta mengimbau warga memakai masker dan kacamata saat beraktivitas luar ruangan.
- Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau di Bandung Raya mulai menipis pada 7 September 2026, disertai perbaikan kualitas udara, meski BMKG tetap memantau partikel yang tersisa.
- Sukabumi dan Bogor masih merasakan abu vulkanik. Sebarannya dipengaruhi arah serta kecepatan angin, dengan pergerakan pagi hari menuju barat dan barat daya.
- BMKG memperkirakan abu dapat bertahan satu hingga dua hari, bergantung cuaca. Warga diminta tetap waspada dan memakai masker serta kacamata saat beraktivitas di luar.
Bandung, IDN Times - Dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang sempat menyelimuti Bandung Raya mulai berkurang pada Senin (7/9/2026). Meski begitu, BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung meminta masyarakat tetap waspada karena partikel abu masih terpantau dan penyebarannya sangat bergantung pada arah serta kecepatan angin.
Forecaster BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Mia Fadila mengatakan, hasil pemantauan menggunakan paper test volcanic ash menunjukkan jumlah abu vulkanik di wilayah Bandung mulai menurun dibandingkan sebelumnya.
"Untuk pantauan kami pada pagi hari ini, pada paper test volcanic ash, terpantau jumlah abu vulkanik yang kami lihat itu sudah mulai berkurang. Namun masih kami pantau untuk ke depannya," ujar Mia saat dikonfirmasi.
1. Abu vulkanik di Bandung sudah mulai berkurang

Gunung Anak Krakatau (Adhari Arief, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Mia menyebut kondisi kualitas udara di Bandung saat ini juga mulai membaik. Namun, pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan sebaran abu vulkanik dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, kondisi berbeda masih dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Barat, terutama bagian barat. Abu vulkanik masih dilaporkan terasa di Sukabumi dan Bogor.
"Untuk wilayah Bandung sendiri sudah mulai berkurang, namun untuk Jawa Barat bagian barat, terutama Sukabumi dan Bogor itu masih dirasakan," katanya.
2. Tergantung pada kecepatan angin

Sebuah foto dokumentasi yang menangkap momen erupsi magmatis Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang menyemburkan lava pijar merah menyala pada malam hari. (Sumber: Pinterest) Mia menjelaskan, pada Senin pagi abu vulkanik terpantau bergerak menuju barat dan barat daya. Kondisi tersebut dipengaruhi angin yang secara umum bertiup dari arah timur hingga tenggara.
Menurut dia, kondisi angin menjadi salah satu faktor utama yang menentukan sejauh mana partikel abu vulkanik dapat menyebar. Sementara itu, cuaca panas yang terjadi di Bandung Raya disebut tidak terlalu berpengaruh terhadap penyebaran abu.
"Kalau untuk cuaca panas sendiri itu kurang berpengaruh, namun yang lebih berpengaruh itu arah dan kecepatan angin karena partikel-partikel debu tersebut dibawa sebarannya oleh angin," tutur Mia.
3. Abu vulkanik bertahan hingga dua hari ke depan

Penampakan mikroskopis abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Dok. BPBD Lampung). Mia memperkirakan abu vulkanik masih dapat bertahan dalam satu hingga dua hari ke depan. Hanya saja, kondisi itu masih bisa berubah mengikuti perkembangan cuaca, terutama arah dan kecepatan angin.
"Abu vulkanik sendiri itu biasanya bertahan satu sampai dua hari ke depan, namun untuk ke depannya masih dilihat lagi perkembangannya karena dipengaruhi oleh faktor-faktor cuaca terutama arah dan kecepatan angin," ujarnya.
Berdasarkan laporan yang diterima BMKG, masyarakat Bandung masih merasakan keberadaan abu vulkanik pada Senin pagi. Meski demikian, intensitasnya disebut sudah tidak setebal sehari sebelumnya.
Mia pun mengimbau masyarakat tetap tenang tetapi tidak mengabaikan kondisi udara saat beraktivitas di luar ruangan.
"Kami imbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tetap waspada, dan menggunakan masker serta kacamata untuk beraktivitas di luar ruangan karena partikel-partikel debu vulkanik tersebut cukup tajam," kata dia.

















