Harga Cabai Rawit Semakin Pedas, Pemprov Jabar Waspadai Stok

- Jawa Barat mencatat surplus untuk 12 komoditas pangan strategis hingga Agustus 2026, dengan seluruh 27 kabupaten/kota juga berada dalam kondisi surplus.
- DKPP Jabar mewaspadai stok cabai rawit dan bawang merah yang relatif lebih rendah, sehingga rentan terganggu produksi maupun distribusi selama musim kemarau.
- Harga cabai rawit merah mencapai Rp70.101 per kilogram, 22,98 persen di atas batas HAP; beras premium juga melampaui HET menjadi Rp15.020 per kilogram.
Bandung, IDN Times - Sebanyak 12 bahan pangan pokok strategis (bapokting) di wilayah Jawa Barat dalam kondisi suprlus pada September 2026. Hanya saja, Pemprov Jabar mengantisipasi potensi gangguan pasokan dan lonjakan harga pada sejumlah komoditas, terutama cabai rawit.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar, Linda Al Amin mengungkapkan, hasil pembaruan neraca pangan hingga Agustus 2026 menunjukkan seluruh komoditas pangan strategis masih mencatatkan surplus.
"Bahwa dari 12 pangan strategis, beras, jagung, kedelai, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, daging sapi, daging ayam, telur ayam, minyak goreng, dan gula pasir yang dipantau, berada dalam kondisi surplus," kata Linda dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
1. Stok cabai rawit dan bawang merah perlu diwaspadai

Ilustrasi cabai rawit (IDN Times/Umi Kalsum) Kendati begitu, DKPP Jabar mencatat, ketahanan stok cabai rawit dan bawang merah berada pada level yang relatif lebih rendah dibandingkan komoditas strategis lainnya, sehingga berpotensi rentan terhadap gangguan produksi maupun distribusi selama musim kemarau.
"Jika melihat dari ketahanan stok, cabai rawit dan bawang merah perlu diwaspadai," katanya.
Berdasarkan pemantauan melalui Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional per 7 September 2026, komoditas beras premium dan cabai rawit merah melampaui batas harga acuan pemerintah.
2. Posisi harga beras sudah di atas HET

ilustrasi cabai rawit (unsplash/tanushree rao) Untuk beras premium, harga rata-rata konsumen tercatat mencapai Rp15.020 per kilogram atau 0,81 persen di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Meskipun tingkat deviasinya relatif rendah, posisi harganya telah berada di atas batas HET," ucapnya.
Sementara cabai rawit merah, menjadi komoditas dengan tekanan harga paling tinggi. Rata-rata harga mencapai Rp70.101 per kilogram atau 22,98 persen di atas batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah memiliki deviasi yang cukup besar dari rentang harga acuan konsumen, yaitu Rp40.000-Rp57.000/kg," katanya.
3. Sebanyak 12 bapokting dalam kondisi aman jelang puncak musim kemarau

Ilustrasi beras premium. (IDN Times/Anata Siregar) Di tengah kenaikan harga tersebut, laporan realisasi neraca pangan Agustus 2026 menunjukkan seluruh 27 kabupaten/kota di Jawa Barat masih berada dalam kondisi surplus untuk 12 komoditas pangan strategis.
DKPP Jabar memproyeksikan pasokan pangan strategis masih aman menjelang puncak musim kemarau. Namun, cabai rawit tetap menjadi komoditas yang harus mendapat perhatian khusus, karena berpotensi mengalami penurunan stok yang dapat memicu gejolak harga lebih lanjut.
"Hanya saja perlu diwaspadai penurunan stok di komoditas cabai rawit," kata dia.




















