Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BINUS Bandung Siapkan AI Engineer untuk Hadapi Kebutuhan Industri

Kota Bandung
BINUS Bandung Siapkan AI Engineer untuk Hadapi Kebutuhan Industri
Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • BINUS University Bandung membuka program studi AI untuk mencetak mahasiswa yang mampu membangun teknologi dan aplikasi AI, bukan sekadar menjadi pengguna.
  • Mahasiswa akan diarahkan mengembangkan solusi berbasis pemrograman untuk sektor pertanian, kesehatan, bisnis, dan kewirausahaan; salah satunya deteksi penyakit teh dan kopi lewat computer vision.
  • Kurikulum mengacu pada universitas luar negeri, standar ACM, dan kebutuhan industri yang mencari pembuat AI; kemampuan matematika serta logika menjadi modal, tanpa menutup peluang bagi latar sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Pertumbuhan penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) turut mendorong dunia pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) sebagai engineering, bukan hanya sebagai pengguna.

Peluang tersebut ditangkap oleh BINUS University Bandung yang telah resmi membuka program studi Artificial Intelligence (AI). Program ini diarahkan untuk mencetak mahasiswa yang mampu membangun teknologi dan aplikasi AI untuk menjawab berbagai persoalan di masyarakat maupun kebutuhan industri.

Direktur Kampus BINUS Bandung, Johan Muliadi Kerta mengatakan, pembukaan program tersebut sejalan dengan tagline BINUS Bandung, yakni kreativitas, teknologi, dan entrepreneurship.

"Untuk itu, kami membuka program artificial intelligence ini untuk membuka kesempatan buat calon mahasiswa atau nanti mahasiswa sendiri untuk mengembangkan kreativitasnya dan juga untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat saat ini," ujar Johan, Selasa (8/9/2026).

  1. 1. BINUS ingin mahasiswa menciptakan sistem AI bukan hanya pengguna

    IMG_20260908_110249.jpg
    Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Menurutnya, mahasiswa nantinya tidak hanya diajarkan menggunakan aplikasi AI seperti ChatGPT untuk mendapatkan jawaban. Mereka justru akan diarahkan untuk membangun solusi AI melalui pemrograman dan pengembangan aplikasi.

    "Jadi bukan untuk meminta ChatGPT menjawab ya, tapi membuat programing-nya atau aplikasinya," katanya.

    Johan mengatakan penerapan AI yang dikembangkan mahasiswa dapat diarahkan untuk berbagai sektor, mulai dari pertanian, kesehatan hingga bisnis dan entrepreneurship.

    Ia mencontohkan salah satu proyek yang dilakukan BINUS Bandung bersama Dinas Perkebunan untuk mendeteksi penyakit pada tanaman teh dan kopi menggunakan teknologi computer vision.

    "Jadi kita pakai HP, kita spot dengan kameranya, kita tahu oh ini masalahnya penyakitnya apa. Jadi kita bisa menggunakan aplikasi AI tersebut untuk mendeteksi hal seperti itu," kata dia.

  2. 2. AI engineer sangat dibutuhkan

    IMG_20260908_110238.jpg
    Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

    Dekan School of Computer Science BINUS University, Derwin Suhartono mengatakan, kebutuhan industri terhadap tenaga yang mampu membangun AI semakin besar. Menurutnya, masyarakat jangan sampai hanya menjadi pengguna AI atau sekadar mengandalkan prompting.

    "Kita pengen masyarakat itu nggak terlalu hanyut sebagai AI user saja, apa-apa prompting, apa-apa minta AI aja, padahal semuanya itu kan harus bermula dari masalah. Nah, masalah itu akan bisa di-solve oleh AI engineer, bukan AI prompter," kata Derwin.

    Ia mengatakan industri saat ini banyak membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami AI, tetapi juga mampu membuat teknologi AI.

    "Industri itu sudah banyak sekali yang minta, 'BINUS ada nggak lulusan yang bisa AI tapi bikin AI-nya'" ucapnya.

  3. 3. Indonesia memerlukan banyak AI engineer

    ilustrasu pekerja AI Engineer
    ilustrasi pekerja AI Engineer (freepik.com/DC Studio)

    Karena itu, BINUS menilai perlu ada lebih banyak mahasiswa yang secara khusus mendapatkan pendidikan AI. Program serupa sebelumnya telah dijalankan di BINUS Jakarta, termasuk di Kemanggisan dan Alam Sutera.

    Derwin menilai Indonesia perlu memperbanyak AI engineer agar tidak tertinggal dari negara lain dalam pengembangan inovasi berbasis kecerdasan buatan.

    "Kita bicara skalanya satu negara, Indonesia itu harus punya AI engineer yang banyak," katanya.

    Derwin menjelaskan kurikulum program AI di BINUS disusun dengan mengacu pada berbagai universitas luar negeri yang memiliki program Computer Science dan AI. Penyusunannya juga mempertimbangkan standar internasional dari Association for Computing Machinery (ACM) serta kebutuhan industri.

    "Kita mixing dari semua aspek supaya kurikulumnya itu enak untuk mahasiswa belajar, mereka senang belajarnya," ujarnya.

    Derwinen menambahkan, lulusan sarjana dinilai dapat menjadi salah satu sumber utama bagi industri karena mereka memasuki dunia kerja sebagai fresh graduate dengan pengetahuan AI yang relatif baru.

    Untuk calon mahasiswa, Derwin mengatakan kemampuan matematika dan logika menjadi modal yang baik untuk mempelajari AI. Namun, latar belakang sosial tidak serta-merta membuat seseorang tidak dapat mempelajari bidang tersebut.

    "Memang keterampilan yang sifatnya saintifik itu jadi modal yang baik. Tapi bukan berarti yang ilmunya sosial pasti nggak bisa," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More