Farhan: Bobotoh ke GBK Bukti Sepak Bola Indonesia Makin Dewasa

- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyambut peluang Bobotoh mendukung Persib di GBK sebagai penanda sepak bola Indonesia makin dewasa dalam mengelola rivalitas.
- Farhan menilai kesempatan itu menunjukkan hubungan Bobotoh dan Jakmania semakin terbuka, dengan rivalitas tetap dapat berlangsung dalam koridor sportivitas tanpa konflik.
- Ia menegaskan pengamanan maksimal menjadi syarat utama, seraya optimistis pengalaman GBK menggelar laga besar memungkinkan kehadiran Bobotoh berlangsung aman dan tertib.
Bandung, IDN Times – Peluang Bobotoh kembali memberikan dukungan langsung kepada Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, mendapat sambutan hangat dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Bagi Farhan, rencana tersebut bukan sekadar soal kehadiran suporter tandang dalam sebuah pertandingan, melainkan penanda penting bahwa kultur sepak bola Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih dewasa.
Selama bertahun-tahun, laga yang mempertemukan Persib dan Persija identik dengan rivalitas panas antarsuporter. Situasi itu membuat kehadiran suporter tim tamu menjadi isu sensitif, termasuk bagi Bobotoh yang nyaris tak pernah memiliki ruang untuk mendukung langsung Persib di GBK dalam kompetisi liga. Karena itu, terbukanya peluang tersebut dinilai memiliki makna yang lebih besar dibanding sekadar urusan tribun stadion.
Farhan mengatakan, undangan dari Sekretaris Umum PSSI dan jaminan keamanan dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) menjadi sinyal positif bagi upaya membangun iklim sepak bola yang lebih sehat. Menurut dia, jika Bobotoh benar-benar dapat hadir di GBK, maka hal tersebut menjadi simbol bahwa sepak bola Indonesia semakin matang dalam mengelola rivalitas dan perbedaan.
1. Farhan nilai Bobotoh ke GBK sebagai momen bersejarah

Wali Kota Bandung M Farhan (Dok. Humas Pemkot Bandung) Farhan menyebut kemungkinan hadirnya Bobotoh di GBK sebagai sebuah momen bersejarah. Selama ini, kata dia, terdapat kesan bahwa GBK merupakan tempat yang sulit dijangkau oleh pendukung Persib karena berbagai pertimbangan keamanan dan rivalitas yang sudah berlangsung lama.
Padahal, Persib memiliki kenangan manis di stadion tersebut. Pada 2015, Maung Bandung berhasil meraih gelar juara di GBK. Namun menurut Farhan, konteks yang terjadi saat ini berbeda karena yang dibicarakan bukan hanya prestasi tim di lapangan, melainkan kesempatan bagi suporter untuk kembali hadir dan mendukung klub kebanggaannya secara langsung.
"Ini merupakan sejarah yang sangat penting. Selama ini seakan-akan GBK itu angker bagi Bobotoh. Dalam konteks liga, datang lagi ke GBK sebagai Bobotoh merupakan sebuah pengakuan bahwa sepak bola Indonesia sudah semakin dewasa dan matang," ujarnya.
Bagi Farhan, kehadiran Bobotoh di GBK akan menjadi pesan kuat bahwa rivalitas dalam sepak bola bisa tetap terjaga tanpa harus melahirkan permusuhan di luar lapangan.
2. Hubungan Bobotoh dan Jakmania dinilai semakin terbuka

Potret Jakmania mendukung Persija di JIS saat melawan Persita, Minggu (19/1/2025). (Dok. Persija). Farhan juga menilai peluang tersebut menunjukkan hubungan antarsuporter yang semakin baik. Ia mengungkapkan bahwa di luar rivalitas klub, banyak hubungan personal yang selama ini terjalin baik antara pendukung Persib dan Persija.
Menurutnya, kedewasaan suporter tidak diukur dari hilangnya rivalitas, melainkan dari kemampuan menjaga persaingan tetap berada dalam koridor sportivitas. Karena itu, kehadiran Bobotoh di GBK dapat menjadi contoh bahwa perbedaan identitas klub tidak harus berujung pada konflik.
"Wah, positif pisan ini mah. Kalau memang betul dari Sekum PSSI dan juga liga sudah menyatakan siap mengundang kita, tentu itu kabar baik. Selama ini dalam tataran pribadi kita bersama para pendukung Persija punya hubungan-hubungan tertentu yang tidak pernah bermusuhan," kata Farhan.
Ia berharap momentum tersebut bisa menjadi contoh bagi kelompok suporter lain di Indonesia bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk merayakan pertandingan, bukan mempertajam permusuhan.
3. Faktor keamanan menjadi kunci keberhasilan

Bobotoh di Stadion GBLA saat Persib vs Persis. (IDN Times/Sandy Firdaus) Meski menyambut positif rencana tersebut, Farhan menegaskan aspek keamanan tetap menjadi faktor yang tidak bisa ditawar. Kehadiran ribuan suporter tandang memerlukan pengamanan yang matang agar pertandingan berlangsung aman dan nyaman bagi seluruh pihak.
Namun demikian, ia optimistis karena GBK memiliki pengalaman panjang dalam menggelar pertandingan besar dengan tingkat risiko tinggi. Selain didukung aparat keamanan, stadion utama Indonesia itu juga sudah terbiasa menangani laga yang melibatkan basis suporter besar dari berbagai daerah.
Farhan mencontohkan bahwa Bandung sendiri sebelumnya telah menerima kehadiran sejumlah suporter tim tamu, termasuk pendukung Arema FC dan PSM Makassar. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan pertandingan dengan melibatkan suporter lawan bukan hal yang mustahil selama seluruh pihak berkomitmen menjaga ketertiban.
"Oh, pengamanan pasti. Saya tidak bisa membayangkan kalau pengamanannya tidak maksimal. Pengamanan di GBK memiliki standar yang sangat tinggi," ujarnya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa pada laga final Persib di GBK pada 2015, pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Tito Karnavian. Karena itu, Farhan meyakini kehadiran Bobotoh di GBK dapat diwujudkan dengan aman sekaligus menjadi tonggak baru dalam perjalanan sepak bola Indonesia menuju kultur suporter yang lebih inklusif dan dewasa.

















