Kaya Migas Tak Cukup, Mengapa Ekonomi Indramayu Tetap Lesu?

- Indramayu mencatat pertumbuhan ekonomi terendah di Jawa Barat tahun 2025, hanya 3,09 persen, jauh di bawah rata-rata provinsi meski kaya sumber daya migas dan pertanian.
- BPS menilai ketergantungan Indramayu pada sektor migas dan pertanian tradisional membuat akselerasi ekonominya tertinggal dibanding daerah yang berkembang lewat industri pengolahan dan jasa modern.
- Margaretha dari BPS menegaskan perlunya transformasi ekonomi Indramayu agar tidak terus bergantung pada komoditas primer dan mampu menciptakan diversifikasi untuk memperkuat daya saing daerah.
Indramayu, IDN Times - Kabupaten Indramayu selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi justru mencatat laju pertumbuhan ekonomi paling rendah di Jawa Barat sepanjang 2025.
Di tengah melesatnya sejumlah daerah lain akibat investasi industri dan jasa modern, ekonomi Indramayu hanya tumbuh 3,09 persen.
Data Badan Pusat Statistik Jawa Barat menunjukkan, capaian itu menjadi yang terendah di antara 27 kabupaten/kota di provinsi tersebut. Angka tersebut juga berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan seluruh daerah di Jawa Barat memang masih mencatat pertumbuhan positif. Namun, kecepatan pertumbuhan antarwilayah menunjukkan kesenjangan yang semakin terlihat.
“Indramayu menjadi wilayah dengan pertumbuhan paling rendah. Ini berkaitan erat dengan struktur ekonomi daerah yang masih bertumpu pada sektor primer,” ujarnya dikutip Sabtu (23/5/2026).
Di saat Indramayu tumbuh lambat, sejumlah daerah lain justru melesat. Kabupaten Kuningan tercatat tumbuh 6,98 persen, Majalengka 6,86 persen, Kabupaten Bandung 6,32 persen, dan Kabupaten Cirebon 6,23 persen.
1. Bertumpu pada migas dan pertanian lama

BPS menilai, perlambatan ekonomi Indramayu tidak bisa dilepaskan dari karakter ekonomi daerah tersebut yang masih mengandalkan migas dan pertanian tradisional.
Ketergantungan pada sektor lama dinilai membuat akselerasi ekonomi berjalan lebih lambat dibanding daerah yang mulai bergerak ke industri pengolahan dan jasa modern.
Margaretha mengatakan, wilayah yang memiliki basis manufaktur, kawasan industri, dan sektor jasa cenderung lebih cepat tumbuh karena mampu menciptakan nilai tambah ekonomi lebih besar.
“Perbedaan struktur ekonomi menjadi penjelas utama variasi pertumbuhan antarwilayah,” katanya.
Kondisi itu memperlihatkan paradoks yang selama ini terjadi di Indramayu. Sebagai daerah penghasil energi dan salah satu lumbung pangan nasional, Indramayu memiliki sumber daya alam besar, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Aktivitas ekonomi di sektor migas juga dinilai belum memberi efek berantai signifikan terhadap pengembangan industri hilir maupun penciptaan lapangan kerja modern di daerah.
2. Daerah industri melaju, Indramayu tertinggal

Data BPS menunjukkan pusat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mulai bergeser ke sejumlah wilayah timur dan selatan yang didorong investasi baru serta pembangunan infrastruktur.
Majalengka misalnya, mulai terdorong oleh pengembangan kawasan industri dan konektivitas baru di kawasan Rebana. Kabupaten Cirebon juga mengalami pertumbuhan lebih tinggi seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan jasa.
Namun, dari sisi kontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB), ekonomi Jawa Barat masih didominasi daerah industri lama seperti Kabupaten Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Bogor.
Kabupaten Bekasi menjadi penyumbang terbesar PDRB Jawa Barat dengan kontribusi 14,86 persen atau senilai Rp451,51 triliun. Sebaliknya, daerah dengan basis ekonomi kecil masih tertinggal jauh.
“Pertumbuhan ekonomi memang mulai menyebar, tetapi nilai ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah industri dan jasa,” kata Margaretha.
3. Alarm transformasi ekonomi daerah

Margaretha mengatakan, ketergantungan pada komoditas primer membuat daerah rentan mengalami perlambatan ketika produktivitas sektor lama stagnan.
Selain itu, pertumbuhan rendah juga berpotensi membatasi kemampuan fiskal daerah dalam mendorong pembangunan baru. Kondisi tersebut dapat berdampak pada penciptaan lapangan kerja, daya beli masyarakat, hingga masuknya investasi baru.
BPS menilai, tantangan utama Indramayu saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan tetap positif, melainkan mengubah fondasi ekonominya agar tidak terus bergantung pada sektor tradisional.
“Daerah dengan pertumbuhan tinggi umumnya berhasil menciptakan diversifikasi ekonomi. Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi wilayah yang pertumbuhannya tertahan,” ujar Margaretha.


















