Kisah Ibu Rumah Tangga Mengembangkan Usaha dari Modal Kecil

- Sri Aryanti Nurafiah, ibu rumah tangga dari Cikarang Barat, berhasil mengembangkan usaha kriya rumahan setelah mendapat akses pembiayaan dari PNM Mekaar pada 2022.
- Pendampingan melalui program Mekaarpreneur membantu Yanti belajar promosi, branding, dan pemasaran digital hingga usahanya berkembang dan meraih Juara 2 kategori nasabah naik kelas wilayah Bekasi-Jakarta.
- Kisah Yanti menunjukkan pentingnya kepercayaan dan kesempatan bagi pelaku usaha ultra mikro perempuan untuk membangun keberanian serta mengubah pandangan terhadap kemampuan diri mereka.
Bandung, IDN Times - Di balik berbagai program pemberdayaan usaha kecil, ada satu persoalan mendasar yang sering tidak terlihat, yakni soal kepercayaan. Banyak pelaku usaha ultra mikro sebenarnya memiliki semangat dan kemauan kuat untuk berkembang, tetapi sulit mendapatkan akses karena keterbatasan modal dan jaminan.
Kondisi itu banyak dialami perempuan pengusaha ultra mikro yang menjalankan usaha rumahan dengan penghasilan terbatas. Mereka tetap bekerja setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarga meski usaha yang dijalankan masih berskala kecil.
Dalam sistem keuangan formal, akses pembiayaan umumnya mensyaratkan aset, agunan, hingga rekam administrasi yang baik. Sementara sebagian pelaku usaha kecil masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga sulit memenuhi syarat tersebut.
Situasi itu membuat banyak pengusaha ultra mikro merasa tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Padahal, akses pembiayaan tanpa jaminan dinilai bisa menjadi langkah awal untuk membangun rasa percaya diri dan keberanian memulai usaha.
1. Modal usaha bantu perempuan mulai berkembang

Pengalaman itu dirasakan Sri Aryanti Nurafiah, nasabah PNM Mekaar dari Cikarang Barat. Sebagai ibu rumah tangga, Yanti awalnya hanya ingin membantu menambah penghasilan keluarga karena merasa pendapatan suaminya belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Berbekal kemampuan membuat gantungan kunci, ia ingin membuka usaha kriya rumahan. Namun keterbatasan modal membuatnya sempat ragu untuk memulai usaha tersebut.
“Kalau hanya mengandalkan gaji suami saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujar Yanti, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Jumat (22/5/2026).
Pada 2022, Yanti mulai mendapatkan akses pembiayaan usaha dari PNM. Modal tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha yang sebelumnya dijalankan secara sederhana dari rumah.
2. Pendampingan disebut jadi titik perubahan usaha

Selain pembiayaan, Yanti mengaku pendampingan usaha menjadi bagian penting dalam perkembangan bisnisnya. Ia mengikuti berbagai pelatihan melalui program Mekaarpreneur yang membahas promosi, branding, packaging, hingga pemasaran digital.
Dari yang sebelumnya hanya menjual produk secara sederhana, kini usahanya mulai memanfaatkan platform digital seperti TikTok dan Shopee untuk memperluas pasar.
“Tak terpikirkan sebelumnya, ternyata usaha saya makin berkembang sampai saat ini. Modal saya juga makin ditambah oleh PNM, maka dari itu saya berani membuka lapak usaha saya,” katanya.
Perkembangan usahanya juga membawanya menjadi Juara 2 Mekaarpreneur kategori nasabah naik kelas wilayah Bekasi-Jakarta. Pengalaman tersebut disebut menjadi pencapaian yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
3. Kepercayaan dinilai jadi modal paling penting

Kisah Yanti dinilai menjadi gambaran bahwa pelaku usaha ultra mikro sebenarnya tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan dan ruang untuk berkembang.
Banyak pengusaha kecil memiliki kemauan kuat untuk bekerja, tetapi terhambat minimnya akses pembiayaan, pendampingan, dan kesempatan belajar yang memadai.
Program pemberdayaan yang menghadirkan pembiayaan sekaligus pendampingan disebut dapat membantu pelaku usaha membangun keberanian dan mengubah cara pandang terhadap diri mereka sendiri.
“Karena bagi perempuan pengusaha ultra mikro, dipercaya adalah modal yang paling mahal nilainya,” tulis siaran pers yang diterima IDN Times.



















