Industri Batu Bara Dinilai Hadapi Tantangan Besar dalam Transisi ESG

- Industri batu bara menghadapi trilema antara menjaga ketahanan energi nasional, memenuhi tuntutan lingkungan, dan menanggung biaya operasional tinggi dalam penerapan prinsip ESG.
- Ketidakpastian regulasi serta dominasi pasar ekspor ke negara yang belum menekankan standar ESG memperlambat implementasi keberlanjutan di sektor batu bara Indonesia.
- Beberapa perusahaan mulai bertransformasi menuju ekonomi rendah karbon, seperti TBS Energi Utama yang mengembangkan energi hijau dan menerapkan Climate Transition Plan untuk menurunkan emisi secara signifikan.
Bandung, IDN Times - Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor batu bara dinilai menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibanding industri lainnya. Selain dituntut mengurangi emisi dan menjaga lingkungan, industri ini masih memegang peran penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Kondisi tersebut membuat perusahaan tambang harus menjalankan berbagai kepentingan secara bersamaan. Di satu sisi ada tuntutan keberlanjutan lingkungan, sementara di sisi lain kebutuhan energi dan tekanan ekonomi tetap harus dipenuhi.
Isu tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Implementasi ESG dan Transisi Energi di Sektor Batu Bara Indonesia” yang digelar Katadata Green pada Rabu (20/5).
Dalam forum itu, para pelaku industri dan peneliti menilai penerapan ESG di sektor tambang membutuhkan kesiapan regulasi, investasi, hingga perubahan model bisnis yang tidak bisa dilakukan secara instan.
1. Industri batu bara hadapi “trilema” ESG

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Bidang ESG & Good Mining Practice, Ignatius Wurwanto, menyebut tantangan industri batu bara bukan lagi sekadar dilema, melainkan “trilema”.
Menurutnya, perusahaan tambang harus menjaga ketahanan energi nasional, memenuhi tuntutan perlindungan lingkungan, sekaligus menanggung biaya operasional yang terus meningkat.
“Kalau bicara batu bara, ini bukan lagi dilema, tapi trilema. Ada kebutuhan menjaga ketahanan energi, ada tuntutan lingkungan, dan ada biaya yang harus ditanggung,” ujar Wurwanto.
Ia menjelaskan implementasi ESG di sektor tambang tidak bisa disamakan dengan industri lain karena perusahaan juga harus memenuhi berbagai aturan teknis, keselamatan kerja, hingga pengembangan masyarakat yang membutuhkan biaya besar.
2. Regulasi dan pasar ekspor jadi tantangan lain

Selain biaya implementasi, ketidakpastian regulasi disebut menjadi tantangan serius bagi perusahaan tambang dalam menjalankan strategi ESG jangka panjang.
Wurwanto mengatakan perubahan aturan yang terlalu cepat membuat perusahaan harus terus beradaptasi, termasuk dalam menyusun investasi dan model operasional.
“Kalau regulasi berubah-ubah terus, perusahaan juga harus sangat adaptif,” katanya.
Sementara itu, Asisten Peneliti Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Nur Hikmat, menilai struktur pasar batu bara Indonesia juga memengaruhi lambatnya implementasi ESG. Saat ini sekitar 65 persen produksi batu bara Indonesia masih ditujukan untuk pasar ekspor, terutama ke Tiongkok dan India.
Menurut Nur Hikmat, dorongan penerapan ESG belum terlalu kuat karena negara tujuan ekspor utama Indonesia belum menjadikan standar ESG sebagai kebutuhan utama bisnis.
3. Sejumlah perusahaan mulai ubah model bisnis

Di tengah berbagai tantangan tersebut, sejumlah perusahaan tambang mulai melakukan transformasi bisnis menuju sektor ekonomi rendah karbon. Salah satunya dilakukan TBS Energi Utama yang mulai mengembangkan bisnis energi hijau.
SVP Public Affairs TBS Energi Utama, Josefhine Chitra, mengatakan perusahaan telah melakukan divestasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada 2025 sehingga emisi perusahaan turun hingga 85 persen.
“Secara finansial, batu bara mulai dipandang memiliki keterbatasan prospek. Sementara sektor ekonomi hijau justru tumbuh sangat cepat,” ujar Josefhine.
Saat ini perusahaan mulai mengembangkan bisnis di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, hingga kendaraan listrik. TBS juga telah mempublikasikan Climate Transition Plan sebagai peta jalan pengurangan emisi dan investasi bisnis rendah karbon.
Meski begitu, para pelaku industri menilai transisi energi di sektor batu bara tetap membutuhkan waktu panjang, dukungan investasi, dan kebijakan yang konsisten agar keberlanjutan energi nasional tetap terjaga.


















