Harga Bahan Pokok Naik, Pemprov Jabar Waspadai Kenaikan Inflasi

- Harga sejumlah bahan pokok di Jawa Barat naik pada awal Mei 2026, namun inflasi masih terkendali di angka 2,49 persen menurut data BPS.
- Pemprov Jabar menyiapkan langkah intervensi seperti pasar murah dan regulasi bersama 27 kabupaten/kota untuk mencegah inflasi melewati batas psikologis 3,5 persen.
- Sekda Herman Suryatman mengimbau masyarakat tetap tenang karena pemerintah menjamin harga terjangkau, pasokan aman, dan transportasi lancar demi stabilitas ekonomi daerah.
Bandung, IDN Times - Sejumlah harga kebutuhan pokok, barang dan jasa di Jawa Barat tercatat sudah mengalami kenaikan pada awal Mei 2026. Meski begitu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman memastikan inflasi saat ini masih terkendali.
Berdasarkan data BPS, Inflasi Jawa Barat pada April 2026, berada di angka 2.49 persen, peringkat ke-20 tertinggi dari 38 Provinsi di Indonesia atau dengan kata lain, peringkat ke-19 terendah dari 38 provinsi di Indonesia.
Inflasi di Jabar pernah menyentuh di angka 4.71 persen pada Februari 2026, dan terendah 1.47 persen Mei 2025.
"Kami akan cek dulu. Sampai hari ini inflasi di Jawa Barat masih terkendali. Karena inflasi itu kan rentangnya 1,5 persen sampai 3,5 persen. Rentangnya, yang idealnya kan di 2,5 persen," ujar Herman, Rabu (20/5/2026).
1. Pemprov Jabar terus mengawasi kenaikan harga

Herman mengatakan, sampai saat ini masih belum diketahui apakah nantinya akan ada peningkatan inflasi dengan kondisi harga kebutuhan pokok, barang dan jasa saat ini yang mengalami peningkatan karena berbagai faktor. Dia masih mengacu pada inflasi bulan kemarin.
"Inflasi itu kan harus terkendali, 2,5 persen. Atau satu persen di atas, 3,5 persen maksimal. Satu persen di bawah, 2,5 persen, dan tempo hari, inflasi di Jawa Barat masih di kisaran dua persen," kata dia.
"Kami akan cek ricek, apakah sudah narekel (memanjat) ke tiga persen atau masih di dua persen, nanti kami informasikan," ucapnya.
2. Intervensi akan dilakukan untuk pengendalian harga

Pemprov Jabar pun akan melakukan berbagai tindakan intervensi untuk mengendalikan harga agar inflasi tidak terjadi kenaikan yang signifikan pada bulan ini, bersama dengan pemerintah kabupaten kota.
"Tentu kalau sudah nerekel ke dua persen, apalagi sudah memasuki batas psikologis di 3,5 persen, tentu kami harus treatment, harus intervensi bersama 27 kabupaten/kota," katanya.
Beberapa yang mungkin bisa dilakukan pemerintah daerah, seperti subsidi pasar murah, dan regulasi yang bisa diterapkan kepada para pasar.
"Apakah dengan pasar murah, apakah dengan pasar bersubsidi, apakah dengan treatment yang lain, dengan regulasi, nanti kita lihat," ujar dia.
3. Masyarakat diminta tetap tenang

Lebih lanjut, Herman mengimbau agar masyarakat tidak perlu gelisah mengenai kenaikan harga bahan pokok yang terjadi saat ini. Dia memastikan, Pemprov Jabar akan melakukan intervensi dan pengendalian harga agar kembali terjangkau.
"Yang jelas, kalau ada dinamika harga, masyarakat tenang. Sekali lagi, kalau ada dinamika harga, masyarakat tenang kan tiga syaratnya. Satu, harga-harga terjangkau. Yang kedua, pasokan tersedia. Yang ketiga, mobilitas, transportasi lancar dan kami jagain tiga-tiganya," kata dia.
Sebagai informasi, berdasarkan data dari Disperindag Jabar per 8 Mei 2026, sejumlah komoditas seperti beras medium, beras premium, gula pasir curah, minyak goreng premium, daging sapi, kedelai impor, cabai rawit merah, cabai merah besar, bawang merah, dan bawang putih honan mengalami kenaikan 5,37 persen dibandingkan pada pekan lalu.
Kemudian komoditi yang masih melampaui HET (Harga Eceran Tertinggi)/HAP (Harga Acuan Penjualan) adalah Gulai Pasir, Daging Sapi, Kedelai Impor, dan Cabai Rawit Merah.


















