Bayi Hampir Tertukar di RSHS Bandung, Orangtua Curhat di Medsos

- Seorang ibu bernama Nina Saleha mengaku bayinya hampir tertukar dengan bayi lain di ruang NICU RS Hasan Sadikin Bandung dan membagikan kisahnya melalui media sosial TikTok.
- Nina menemukan bayinya sudah berada di tangan orang lain setelah perawat diduga salah menyerahkan bayi, bahkan gelang identitas sang bayi telah dilepas tanpa alasan jelas.
- Pihak RSHS Bandung disebut telah menghubungi Nina, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi atau tindak lanjut terkait insiden tersebut.
Bandung, IDN Times - Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan adanya sebuah video dari salah seorang ibu yang mengaku bayinya hampir ditukar kepada orang lain di Rumah Sakit (RS) Hasan Sadikin, Kota Bandung. Peristiwa itu terjadi saat sang anak menjalani perawatan di rumah sakit milik Kemenkes itu.
Perempuan yang diketahui bernama Nina Saleha ini mengatakan, peristiwa tersebut diduga dilakukan oleh perawat yang bertugas di NICU, Gedung Kesehatan Ibu dan Anak RSHS Bandung. Dia pun menceritakan semuanya di media sosial TikTok.
Ceritanya bermula saat Nina yang sedang menunggu bayinya keluar dari ruang perawatan. Dia yang sudah selesai memandikan, lantas menunggu keluar karena bayinya sudah bisa pulang, setelah beberapa hari menjalani perawatan.
1. Hendak diturunkan dengan orangtua lainnya

Saat sedang menunggu, Nina mengetahui ada ibu bayi lainnya yang menunggu kepulangan anaknya, tetapi batal karena ada masalah di paru-parunya. Karena namanya tak kunjung dipanggil perawat, Nina pergi mencari makan. Namun, dia punya firasat buruk ketika pergi makan.
Semua pernyataan yang keluar dari mulut Nina, disampaikan dengan bahasa Sunda, yang pada intinya dia merasa kecewa dengan peristiwa tersebut.
"Saya tidak menerima dengan pelayanan perawat RS Hasan Sdikin, tega sekali anak saya diberikan kepada orang lain. Orang itu, sudah tahu saya memandikan anak sejak subuh, bawa baju, kan RS menyarankan untuk membawa baju bayi, terus si teteh itu datangnya siang, saya nunggu lama dan kenapa tidak dipanggil-panggil, kenapa si teteh itu sudah dipanggil, kan anak saya jadwalnya pulang, sudah dinyatakan sehat, sedangkan si teteh itu anaknya alami kebocoran paru-paru" ujar Nina.
2. Korban terus mendatangi sang suster

Benar saja, ketika Nina kembali ke ruangan, dia sudah melihat bayinya ada di tangan orang lain. Dia yang mengenali pakaian dan wajah anaknya, lantas menghampiri orang yang menggendong bayinya itu.
"Karena lama, nunggu tidak dipanggil-panggil, saya turun (ke kantin) karena lapar. Ternyata feeling gak enak, seperti ada yang ngasih tahu ke telinga buat lihat anak. Tidak marah gimana? Anak saya sudah ada di tangan orang lain, beruntung belum jauh, bagaimana kalau sudah jauh? Saya tanya teteh pulang? Iya katanya. Ih kenapa bajunya, sama selimutnya kayak anak saya," jelas dia.
Nina kemudian mendatangi perawat yang bertugas di NICU. Katanya, perawat mengakui jika sudah menyerahkan bayinya kepada orang lain, dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Sama saya susul, sus itu kanapa (anaknya) diberikan ke orang lain, terus jawabanya apa? Oh iya tadi saya panggil-panggil Ibu Nina Saleha kenapa tidak ada? Lah terus kalau tidak ada, kenapa diberikan anaka saya ke orang lain? Bodoh tidak? Coba bayangkan kalau kamu ada di posisi saya, terus anak saya hilang dan dibawa jauh? Gimana rasanya? Marah tidak? Ya pasti marah dong kan ini bukan barang, kalau barang tidak masalah, ini anak manusia, darah daging saya," tuturnya.
"Terus apa tanggapan susternya? Oh iya maaf ibunya dipanggil gak ada. Ya sudah saya berikan ke si teteh itu. Apa maksudnya itu? Dibayar gak kamu, dibayar berapa kalau kamu menjual anai saya? Ini anak sehat. Sudah kamu pikir belum?" kata dia.
3. Gelang penanda juga dicopot

Dia juga mempertanyakan, alasan perawat sudah melepas gelang identitas bayinya saat masih di rumah sakit. Padahal sesuai aturan, gelang bayi wajib dipakai selama masih di ruangan, untuk menghindari tertukarnya bayi.
"Terus gelangnya kenapa dicopot? Saya mau tanya, kenapa dicopot gelangnya? Bilangnya takut kena virus di dalam. Di mana-mana juga di rumah sakit takut tertukar anak, sebelum keluar, gelang gak akan dilepas," ucapnya.
Saat dikonfirmasi ulang, Nina membenarkan adanya kejadian tersebut. Bayinya dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung karena mengalami kuning setelah dilahirkan, awal April ini.
"Persalinan Hari Rabu, tanggal 1 di Unpad Sumedang, Jumat saya ke rumah, karena anak saya kuning, Minggu dibawa ke Unpad dan dirujuk ke RSHS, Hari Minggu malam, jam 9 malam," kata Nina.
"Si dede kuning, harus di inkubator, di Unpad gak ada ruangan, ruam biasa, bukan cacar," tuturnya.
Adapun anaknya dirawat selama tiga hari, dan dia menyayangkan adanya kejadian ini. "Jangan sampai terulang lagi, harus diusut surter seperti itu, nanti takutnya hal itu terjadi lagi, apalagi ada unsur sengaja dan diperkjualkan beli bayi," ujarnya.
Pada waktu kejadian, perawatnya hanya sendiri. Dia mengaku janggal, pasalnya anaknya sudah bisa keluar ruangan dan bisa pulang, sedangkan surat izin keluar juga belum keluar.
"Anak saya sudah di luar, sedang surat izin keluar belum ada. Ruangan Nicu Lantai 2, Gedung Ibu dan Anak," ujarnya.
Belum ada tindaklanjut terkait kejadian ini, namun Nina sebut pihak RSHS sudah menghubunginya.
"Belum ada jawaban (tindaklanjut), atau saya disuruh menghadap gak ada," ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, RSHS belum memberikan keterangan resmi mengenai insiden tersebut.

















