6.173 Jiwa di Jabar Terdampak Bencana Alam dalam Sepekan April 2026

- Sebanyak 23 bencana alam terjadi di 11 kabupaten/kota Jawa Barat selama 1–9 April 2026, meliputi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang berdampak pada ribuan warga.
- BPBD Jabar mencatat 6.173 jiwa terdampak, satu korban meninggal, serta ratusan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan akibat rangkaian bencana tersebut.
- BMKG Bandung mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan bencana hidrometeorologi hingga pertengahan April karena kondisi atmosfer masih labil.
Bandung, IDN Times - Sebanyak 23 peristiwa bencana alam turut terjadi di sejumlah daerah Provinsi Jawa Barat selama 1-9 April 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat, bencana alam selama periode ini turut membuat dampak kerusakan rumah warga dan juga fasilitas umum lainnya.
Berdasarkan data BPBD Jabar, bencana alam terjadi di sebelas kabupaten kota dengan rinciannya ada sebanyak tujuh peristiwa banjir, tujuh bencana longsor, dan sembilan cuaca ekstrem. Kepala Pelaksana BPBD Jabar Teten Ali mengatakan, pada periode awal pekan bulan ini 23 kejadian bencana alam terjadi di Jabar.
"Total ada 23 peristiwa bencana alam, mengakibatkan 76 rumah rusak berat, 99 rusak sedang, 102 rusak ringan, 647 rumah terendam, dan 6.173 jiwa terdampak, satu rumah ibadah, lima fasilitas pendidikan, dan satu orang meninggal," ujar Teten, Kamis (9/4/2026).
1. Warga Jabar diminta waspada selama sepekan ke depan

Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung mengimbau, masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh perubahan cuaca dalam mulai tanggal 5-15 April 2026.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu alias Ayyu menyampaikan, berdasarkan prakiraan perkembangan dinamika atmosfer hingga analisis data pengamatan, sebagian wilayah Provonsi Jawa Barat diperkirakan masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir kilat dan angin lencang.
"Dalam sepekan kedepan, terdapat beberapa dinamika atmosfer yang diperkirakan masih mendukung suplai air dan pertumbuhan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat," ungkap Ayyu.
2. Cuaca ekstrem kemungkinan bisa terjadi

BMKG menilai masih ada dukungan suplai air dan pertumbuhan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat diantaranya, suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, kemudian masih adanya potensi terbentuknya daerah belokan angin di sekitar wilayah Jawa Barat.
Selain itu, kondisilabilitas atmosfer juga diperkirakan masih bervariasi pada kategori ringan hingga kuat yang mendukung peningkatan potensi pembentukan awan konvektif pada skala lokal.
"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang," katanya.
"Tetap tenang namun siaga, mengenali risiko di lingkungan sekitar, serta selalu memperbarui informasi cuaca dan mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana," tuturnya.
3. Masyarakat diminta berhati-hati saat bepergian

Selain diminta dapat mengenali risiko lingkungan di tempat tinggal masing-masing, masyarakat pun diimbau untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, khususnya yang bakal melaksanakan perjalanan darat, laut, dan udara, dengan memantau informasi cuaca terkini yang dapat diakses melalui aplikasi infoBMKG.
"Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, khususnya perjalanan darat, laut, dan udara, dengan memantau informasi cuaca terkini," ucapnya.


















