Industri Kripto Mulai Soroti Pengembangan Teknologi Rendah Karbon

- Industri kripto mulai mengadopsi prinsip ESG untuk menekan konsumsi energi tinggi, dengan fokus pada keberlanjutan dan transparansi operasional di sektor aset digital.
- EORMC meluncurkan Program Keuangan Kripto Berkelanjutan yang memanfaatkan AI guna meningkatkan efisiensi energi hingga 30% serta menyediakan laporan penggunaan energi terverifikasi.
- Perusahaan menyiapkan fitur pemantauan jejak karbon dan memperluas penggunaan energi bersih, menargetkan 60% konsumsi dari sumber terbarukan dalam tiga tahun ke depan.
Bandung, IDN Times - Industri aset digital mulai menghadapi tuntutan baru terkait keberlanjutan dan efisiensi energi. Tidak hanya fokus pada inovasi teknologi, perusahaan di sektor kripto kini juga mulai memperhatikan aspek lingkungan dan transparansi operasional.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah platform perdagangan aset digital mengembangkan strategi berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pendekatan ini dinilai penting untuk menjawab kekhawatiran terhadap tingginya konsumsi energi dalam industri kripto.
Salah satu langkah itu dilakukan platform trading kripto EORMC yang baru meluncurkan strategi keuangan hijau melalui program bertajuk Program Keuangan Kripto Berkelanjutan. Program ini diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur aset digital yang lebih rendah karbon.
Perusahaan menyebut strategi tersebut menjadi bagian dari pengembangan tahap baru yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dengan sistem pengelolaan energi yang lebih efisien.
1. Strategi baru fokus pada efisiensi energi

Dalam pengembangan terbarunya, EORMC menyiapkan tiga fokus utama, yakni optimalisasi efisiensi energi, pelacakan jejak karbon, serta pembangunan jaringan daya komputasi hijau.
Perusahaan akan memanfaatkan sistem berbasis AI untuk mengatur alokasi sumber daya komputasi dan node server global secara dinamis sesuai kondisi pasokan energi secara real time.
Langkah tersebut diklaim dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan energi platform hingga lebih dari 30 persen. Selain itu, perusahaan juga berencana menerbitkan laporan penggunaan energi yang telah diverifikasi pihak ketiga.
“Inovasi teknologi tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga tanggung jawab,” ujar Kepala Pengembangan Berkelanjutan EORMC, Granger, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Rabu (27/5/2026).
2. Pengguna akan bisa memantau jejak karbon transaksi

Selain efisiensi energi, EORMC juga menyiapkan fitur visualisasi jejak karbon yang memungkinkan pengguna melihat estimasi emisi karbon dari aktivitas trading mereka.
Melalui fitur tersebut, pengguna disebut dapat memantau dampak lingkungan dari transaksi aset digital secara lebih transparan. Sistem AI juga akan memberikan rekomendasi pengurangan emisi berdasarkan aktivitas pengguna.
Perusahaan menilai fitur ini dapat membantu meningkatkan kesadaran pengguna terhadap dampak lingkungan dalam aktivitas investasi digital.
“Melalui fitur ini, pengguna dapat melihat secara real time estimasi emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas trading-nya,” kata Granger.
2. Infrastruktur energi bersih mulai disiapkan

EORMC juga berencana memperluas penggunaan energi bersih dalam operasional jaringan komputasinya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan fasilitas penambangan berbasis energi terbarukan.
Dalam tiga tahun ke depan, perusahaan menargetkan lebih dari 60 persen konsumsi energinya berasal dari sumber energi bersih.
Selain itu, perusahaan juga akan menghadirkan zona khusus aset hijau bagi pengguna yang tertarik pada investasi berbasis ESG. Sistem tersebut akan dilengkapi fitur rekomendasi portofolio aset digital rendah karbon.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan dan inovasi teknologi bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi,” ujar Granger.
Ia menilai integrasi teknologi AI dengan prinsip ramah lingkungan dapat menjadi arah baru bagi perkembangan industri aset digital di masa depan.
















