Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tren Kripto Naik, PINTU, OJK, dan Unpad Dorong Literasi Mahasiswa

Tren Kripto Naik, PINTU, OJK, dan Unpad Dorong Literasi Mahasiswa
IDN Times/PINTU
Intinya Sih
  • Minat investasi kripto di kalangan muda meningkat pesat, dengan lebih dari 21 juta investor di Indonesia, mendorong perlunya edukasi agar pemahaman risiko dan peluang semakin matang.
  • OJK menyoroti kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan kripto, mengingatkan pentingnya prinsip Legal dan Logis agar masyarakat terhindar dari penipuan investasi digital.
  • Unpad menegaskan peran kampus dalam membentuk generasi investor cerdas melalui literasi keuangan, berkolaborasi dengan OJK dan PINTU untuk memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia finansial digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times – Tren investasi aset kripto terus menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di kalangan generasi muda. Tingginya minat ini mendorong berbagai pihak untuk memperkuat literasi keuangan agar masyarakat, terutama mahasiswa, tidak hanya ikut tren tetapi juga memahami risiko dan peluang investasi.

Melihat kondisi tersebut, PINTU bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar program edukasi bertajuk Pintu Goes to Campus: Financial Literacy di Bale Sawala Unpad, Jatinangor. Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 mahasiswa dan menjadi ruang diskusi antara regulator, akademisi, serta pelaku industri.

1. Minat kripto meningkat, investor tembus jutaan

WhatsApp Image 2026-04-13 at 11.19.021.jpeg
IDN Times/PINTU

Pertumbuhan investor kripto di Indonesia menunjukkan tren positif. Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin, mengungkapkan jumlah investor kripto kini telah mencapai lebih dari 21 juta orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa aset digital semakin diterima sebagai salah satu instrumen investasi alternatif, khususnya oleh generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Namun demikian, menurut Timothius, tantangan utama bukan lagi pada adopsi, melainkan pada tingkat pemahaman masyarakat terhadap instrumen tersebut.

“Masalahnya bukan pada adopsi, tapi literasi. Karena itu kami aktif melakukan edukasi ke kampus agar generasi muda lebih siap sebelum berinvestasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, tanpa pemahaman yang memadai, potensi risiko dalam investasi kripto dapat berdampak pada keputusan finansial yang kurang tepat.

2. OJK soroti kesenjangan literasi dan inklusi

Logo Otoritas Jasa Keuangan. (ojk.com)
Logo Otoritas Jasa Keuangan. (ojk.com)

Dari sisi regulator, OJK menyoroti masih adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan di sektor kripto. Artinya, jumlah pengguna terus meningkat, tetapi tidak semuanya diiringi dengan pemahaman yang cukup.

Perwakilan OJK, Djoko Kurnijanto, mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur oleh iming-iming keuntungan instan yang kerap beredar di ruang digital.

“Pastikan investasi memenuhi prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis. Jangan mudah tergiur keuntungan pasti,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya memastikan legalitas platform serta memahami mekanisme investasi sebelum memutuskan untuk bertransaksi.

Menurutnya, edukasi menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari potensi risiko, termasuk penipuan berkedok investasi.

3. Kampus ambil peran siapkan investor cerdas

ilustrasi mahasiswa Unpad (instagram.com/universitaspadjadjaran)
ilustrasi mahasiswa Unpad (instagram.com/universitaspadjadjaran)

Peran perguruan tinggi dinilai krusial dalam membentuk pemahaman mahasiswa terhadap literasi keuangan. Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menegaskan bahwa literasi keuangan kini menjadi kebutuhan dasar di tengah pesatnya perkembangan produk investasi.

“Literasi keuangan, termasuk kripto, penting dipahami agar tidak menimbulkan masalah di masa depan,” ujarnya.

Ia menilai kampus tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan hidup, termasuk dalam mengelola keuangan.

Secara global, tren serupa juga terjadi. Data World Economic Forum menunjukkan sekitar 42 persen investor Gen Z telah memiliki aset kripto. Hal ini mempertegas bahwa generasi muda menjadi kelompok yang paling cepat mengadopsi inovasi di sektor keuangan digital.

Melalui kolaborasi antara industri, regulator, dan akademisi ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menjadi investor yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan finansial.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More