Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tantangan ESG di Industri Batu Bara Dinilai Kian Kompleks

Tantangan ESG di Industri Batu Bara Dinilai Kian Kompleks
Ilustrasi tambang batu bara (IDN Times/Aditya)
Intinya Sih
  • Industri batu bara menghadapi 'trilema' ESG, yaitu menjaga ketahanan energi, memenuhi tuntutan lingkungan, dan menekan biaya agar tetap terjangkau di tengah dorongan transisi energi nasional.
  • Perubahan regulasi dan struktur pasar ekspor membuat implementasi ESG berjalan lambat karena tekanan finansial tinggi serta standar keberlanjutan global yang belum seragam di negara tujuan ekspor.
  • Beberapa perusahaan mulai beralih ke ekonomi hijau dengan mengembangkan energi terbarukan dan kendaraan listrik, menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengurangan emisi dan transformasi bisnis berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandung, IDN Times - Industri batu bara dinilai menghadapi tantangan yang lebih rumit dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dibanding sektor industri lain. Selain tuntutan pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan, sektor ini juga masih memikul tanggung jawab menjaga ketahanan energi nasional.

Di tengah dorongan transisi energi, perusahaan tambang harus menyeimbangkan kebutuhan pasokan energi dengan biaya operasional yang terus meningkat. Kondisi tersebut membuat implementasi ESG di sektor batu bara tidak bisa dilakukan secara instan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Bidang ESG and Good Mining Practice, Ignatius Wurwanto, menilai tantangan yang dihadapi industri saat ini sudah melampaui sekadar dilema biasa. Menurutnya, ada tiga tekanan besar yang harus dijalankan secara bersamaan.

Di sisi lain, perubahan regulasi dan tuntutan pasar global juga membuat perusahaan tambang perlu terus beradaptasi. Tidak sedikit pelaku industri yang masih melihat ESG sebagai kewajiban kepatuhan ketimbang strategi bisnis jangka panjang.

1. Industri batu bara hadapi “trilema” ESG

ilustrasi batu bara (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi batu bara (pexels.com/Pixabay)

Ignatius Wurwanto menyebut implementasi ESG di sektor batu bara menghadapi kondisi yang ia istilahkan sebagai “trilema”. Industri harus menjaga ketahanan energi, memenuhi tuntutan lingkungan, sekaligus memastikan biaya energi tetap terjangkau.

“Kalau bicara batu bara, ini bukan lagi dilema, tapi trilema. Ada kebutuhan menjaga ketahanan energi, ada tuntutan lingkungan, dan ada biaya yang harus ditanggung,” kata Wurwanto dalam Focus Group Discussion bertema Implementasi ESG dan Transisi Energi di Sektor Batu Bara Indonesia.

Menurutnya, kompleksitas sektor tambang jauh lebih besar dibanding industri lain karena perusahaan harus memenuhi berbagai aturan teknis, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, hingga pengembangan masyarakat. Seluruh aspek tersebut membutuhkan investasi besar dan kesiapan operasional yang tidak sederhana.

APBI mencatat saat ini terdapat 93 perusahaan anggota aktif yang menyumbang sekitar 66 persen produksi batu bara nasional. Namun, tingkat pemahaman terhadap implementasi ESG di hampir 960 perusahaan tambang batu bara di Indonesia masih sangat beragam.

2. Regulasi dan pasar global dinilai memengaruhi implementasi ESG

Ilustrasi tambang batu bara (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi tambang batu bara (IDN Times/Aditya Pratama)

Asisten Peneliti Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Nur Hikmat, menilai implementasi ESG pada tahap awal memang memberikan tekanan finansial cukup besar bagi perusahaan tambang. Menurutnya, biaya tambahan menjadi salah satu faktor yang membuat penerapan ESG berjalan lambat.

“Secara pragmatis, implementasi ESG pada tahap awal pasti menjadi first hit cost yang memberikan tekanan finansial cukup besar bagi perusahaan,” ujar Nur Hikmat.

Ia menjelaskan, struktur pasar batu bara Indonesia juga memengaruhi dorongan implementasi ESG. Sekitar 65 persen produksi batu bara nasional masih ditujukan untuk pasar ekspor, terutama ke Tiongkok dan India yang dinilai belum menerapkan standar ESG seketat negara-negara Eropa.

Selain itu, ketidakpastian regulasi disebut menjadi tantangan lain bagi perusahaan tambang. Perubahan aturan yang terlalu cepat dinilai menyulitkan pelaku usaha dalam menyusun strategi investasi jangka panjang dan menyesuaikan model bisnis mereka.

3. Sejumlah perusahaan mulai beralih ke ekonomi hijau

ilustrasi batu bara (pexels.com/Tom Fisk)
ilustrasi batu bara (pexels.com/Tom Fisk)

Di tengah tantangan tersebut, beberapa perusahaan mulai melakukan transformasi bisnis menuju sektor ekonomi rendah karbon. Salah satunya dilakukan TBS Energi Utama yang mulai mengembangkan bisnis energi terbarukan dan kendaraan listrik.

SVP Public Affairs TBS Energi Utama, Josefhine Chitra, mengatakan perubahan strategi bisnis dilakukan setelah perusahaan melihat perubahan tren global, termasuk pembatasan pendanaan sektor batu bara oleh investor internasional.

“Secara finansial, batu bara mulai dipandang memiliki keterbatasan prospek. Sementara sektor ekonomi hijau justru tumbuh sangat cepat,” ujar Josefhine.

Menurutnya, proses transisi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat dan membutuhkan komitmen jangka panjang dari perusahaan. Sejak 2021, TBS membentuk tim sustainability dan menyusun Climate Transition Plan yang memuat strategi pengurangan emisi serta pengembangan bisnis rendah karbon.

Pada akhirnya, implementasi ESG dan transisi energi di sektor batu bara dinilai akan terus berjalan di tengah berbagai tantangan struktural. Selama batu bara masih menjadi salah satu penopang energi nasional, keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan kebutuhan energi akan tetap menjadi perhatian utama industri.

Share Article
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana

Latest News Jawa Barat

See More