Permainan Edukatif Mulai Digunakan untuk Kenalkan Isu Iklim

- Peneliti Indonesia dan Australia mengembangkan board game edukatif untuk mengenalkan isu perubahan iklim secara menyenangkan bagi anak-anak, dengan uji coba dilakukan di Nusa Tenggara Timur.
- Anak-anak disebut sebagai kelompok paling terdampak perubahan iklim, mulai dari gangguan belajar akibat cuaca ekstrem hingga tekanan ekonomi keluarga yang memengaruhi kesejahteraan mereka.
- Pendidikan iklim dinilai perlu dukungan kebijakan jangka panjang serta kesiapan guru dan infrastruktur agar pembelajaran berkelanjutan bisa diterapkan di seluruh jenjang pendidikan.
Bandung, IDN Times - Perubahan iklim menjadi isu yang dampaknya semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagi anak-anak usia sekolah, topik tersebut kerap dianggap sulit dipahami karena penjelasannya cenderung teknis dan kompleks.
Kondisi itu mendorong sejumlah peneliti dari Indonesia dan Australia mencari pendekatan pembelajaran yang lebih mudah diterima anak-anak. Salah satunya melalui permainan edukatif berbasis board games yang dirancang khusus untuk mengenalkan isu perubahan iklim secara lebih menyenangkan.
Uji coba permainan ini dilakukan di Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan anak-anak usia sekolah. Hasil riset dan pengembangan tersebut kemudian dibahas dalam diskusi bertajuk Shaping Climate Resilience Policy Through Inclusive Research.
Pendekatan pembelajaran berbasis permainan dinilai dapat menjadi jembatan antara teori dan praktik sehingga anak-anak lebih mudah memahami dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.
1. Anak-anak dinilai perlu jadi fokus edukasi iklim

Ahli Manajemen Risiko Bencana dari PREDIKT, Yusra Tebe, mengatakan pemahaman mengenai perubahan iklim masih tergolong rendah, baik di kalangan siswa, guru, hingga pengambil kebijakan.
Menurutnya, masih ada pihak yang meragukan bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi. Padahal dampaknya sudah dirasakan di berbagai sektor, termasuk pendidikan.
“Kita tahu bahwa perubahan iklim itu nyata dan mengganggu seluruh sektor, khususnya pendidikan, dan ternyata pengetahuan tentang perubahan iklim di peserta didik cukup rendah,” ujar Yusra, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Rabu (27/5/2026).
Ia menambahkan, penggunaan board games dipilih agar proses belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan bagi anak-anak maupun guru.
2. Dampak perubahan iklim dirasakan langsung anak-anak

Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund, Reny Rebeka Haning, menilai anak-anak perlu ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam isu perubahan iklim karena mereka termasuk kelompok yang paling terdampak.
Ia mencontohkan kondisi keluarga nelayan yang penghasilannya menurun akibat perubahan cuaca dan kondisi laut. Tekanan ekonomi tersebut disebut dapat berdampak pada kondisi anak di rumah.
Selain itu, cuaca panas ekstrem juga sempat membuat sejumlah sekolah diliburkan. Kondisi tersebut dinilai mengganggu hak belajar anak secara langsung.
“Anak-anak disabilitas punya kerentanan ganda. Sehingga ketika anak-anak dilibatkan, mereka bisa menceritakan yang mereka rasakan,” kata Reny, dalam siaran pers yang sama.
3. Pendidikan iklim dinilai perlu dukungan jangka panjang

Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, mengatakan pendidikan perubahan iklim membutuhkan konsistensi kebijakan dan dukungan jangka panjang agar dapat diterapkan secara merata di sekolah.
Menurutnya, pendidikan terkait perubahan iklim tidak boleh berhenti di tingkat sekolah dasar, tetapi perlu terintegrasi hingga jenjang pendidikan berikutnya.
Ledia juga menyoroti pentingnya kesiapan guru dan infrastruktur sekolah yang sesuai dengan kondisi iklim di masing-masing daerah.
“Tidak semua guru paham. Harus ada guru yang paham, ada hal yang perlu dijelaskan sehingga mengubah perilaku anak-anak, kemudian mengubah perilaku orang tua,” ujar Ledia.
Ia menambahkan, penguatan pendidikan perubahan iklim membutuhkan komitmen yang konsisten dari seluruh pemangku kepentingan agar pembelajaran tidak berhenti hanya sebagai wacana atau penelitian semata.

















