Sungai di Sukabumi Diduga Tercemar Limbah Tambang Batu Hijau

- Tim gabungan DLH Jawa Barat dan Sukabumi melakukan pemeriksaan intensif di Sungai Cibojong setelah muncul dugaan pencemaran limbah tambang batu hijau yang viral di media sosial.
- Pemerintah kecamatan menegaskan agar pengusaha pemotongan batu hijau segera menyediakan fasilitas pengolahan limbah demi mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut.
- Tindakan cepat ini dilakukan untuk menjaga pasokan air bersih warga sekitar, terutama menjelang musim kemarau ketika Sungai Cibojong menjadi sumber utama kebutuhan harian.
Sukabumi, IDN Times - Isu pencemaran lingkungan di Kabupaten Sukabumi telah menyedot perhatian serius pemerintah. Tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat bersama DLH Kabupaten Sukabumi langsung turun gunung memeriksa kondisi air Sungai Cibojong di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Pemeriksaan maraton ini dilakukan untuk merespons aduan masyarakat serta video viral di platform media sosial TikTok terkait aktivitas pengolahan tambang batu hijau yang diduga mencemari lingkungan. Kasus ini bahkan sempat mendulang atensi khusus dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
1. Inspeksi mendadak dari hulu ke hilir

Inspeksi mendadak (sidak) yang menyisir area hulu hingga hilir sungai ini turut menggandeng aparatur setempat, mulai dari Sekretaris Kecamatan (Sekmat) Cikembar, Kasi Trantibum, Kepala Desa Bojong hingga tim khusus dari DLH Jawa Barat.
Sekmat Cikembar, Lenni Nurlilah, membeberkan bahwa peninjauan ini krusial untuk mengukur kualitas dan kadar air Sungai Cibojong secara akurat. Langkah tersebut sekaligus membuktikan kebenaran indikasi limbah pemotongan batu hijau di Kampung Cikaramat yang ramai diperbincangkan warganet.
"Kegiatan ini difokuskan di area hulu dan hilir Sungai Cibojong untuk mengidentifikasi keadaan ril di lapangan, sekaligus menindaklanjuti laporan warga yang viral dan tersampaikan ke Gubernur," ungkap Lenni, Senin (20/7/2026).
2. Peringatan tegas ke pelaku usaha lokal

Melalui investigasi lapangan ini, kecamatan setempat mendesak para pelaku usaha lokal agar lebih kooperatif dan sadar lingkungan. Lenni secara tegas meminta pengusaha pemotongan batu hijau yang belum memiliki fasilitas pengolahan limbah untuk segera berbenah.
"Kami berharap kegiatan ini memberikan informasi yang jelas, terutama bagi pengusaha pemotongan batu hijau yang tidak memiliki tampungan limbah, agar segera memperbaiki dan menyediakannya," katanya.
3. Lindungi kebutuhan air bersih warga saat kemarau

Langkah preventif ini dinilai sangat mendesak demi menyelamatkan hajat hidup orang banyak. Mengingat, aliran Sungai Cibojong selama ini menjadi tumpuan utama warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
"Jangan sampai aktivitas usaha ini merugikan masyarakat, terutama saat memasuki musim kemarau. Sebab, air sungai tersebut selama ini digunakan secara masif oleh warga setempat," katanya.




















