Cerita Fahri, Pemuda Bandung yang Jadi Juru Sembelih Kurban Sejak SMA

- Fahri Ahlya, pemuda Bandung berusia 34 tahun, sudah menjadi juru sembelih halal sejak SMA setelah belajar langsung dari ayahnya dan para tukang jagal di lingkungannya.
- Profesi juleha kini makin jarang diminati anak muda, sementara banyak tukang potong hewan di Bandung mulai menua sehingga perlu regenerasi agar tradisi tetap terjaga.
- Fahri menekankan pentingnya mengikuti syariat dalam penyembelihan, seperti puasa makan 12 jam untuk hewan kurban, serta berharap profesi ini terus dilestarikan oleh generasi muda.
Bandung, IDN Times - Menjadi juru sembelih halal (juleha) hewan kurban memerlukan keahlian khusus dan ada teknik tersendiri. Tidak bisa sembarang orang mendadak jadi tukang jagal hewan kurban. Anak-anak muda yang ingin menjadi juleha pun saat ini tidak begitu banyak yang tertarik.
Namun berbeda dengan Fahri Ahlya yang sudah berpengalaman menjadi tukang potong hewan dan kerap diperbantukan saat Idul Adha oleh warga Mutiara Mas Regency, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung.
Pria yang saat ini berumur 34 tahun ini terjun menjadi juleha berawal dari sering melihat pemotongan hewan kurban setiap Idul Adha. Hal itu dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu, sembari membantu membagikan daging di lingkungan rumahnya.
"Awal mula tertariknya ya karena pas kurban itu kan hajat orang bersama. Jadi kan istilahnya ramai-ramai gitu, jadi pas melihat orang motong sapi itu kayak tertarik aja gitu. Soalnya kan bisa ikut bantu buat ibadah juga," ujar Fahri saat ditemui, Sabtu (27/5/2026).
1. Sudah menjadi tukang jagal hewan kurban sejak SMA

Setelah sering melihat pemotongan hewan kurban di lingkungan sekitar rumahnya, Fahri mulai belajar dari para tukang jagal lainnya dan akhirnya diberikan kesempatan untuk memotong hewan kurban langsung pada umur sekitar 16 tahun yang mana dia masih duduk di bangku SMA.
Beruntungnya, bapak kandung Fahri memiliki keahlian serupa. Dia pun turut diberikan banyak ilmu dan teknik-teknik untuk menyembelih hewan kurban sesuai syariat Islam.
"Waktu pertama jagal hewan sendiri itu saya pas SMA. Soalnya kan suka ikut-ikut ke musala. Jadi lihat, lihat bapak sendirilah, waktu itu nyobain gitu, ya penasaran pak. Lama-lama ya belajar juga," ujardia.
2. Penjagal hewan kurban harus tetap ada

Selepas lulus SMA, Fahri pun turut terjun langsung untuk menjual daging bersama rekan-rekannya hingga saat ini. Menurut dia, profesi sebagai juleha ini memang sudah jarang dilirik oleh anak-anak muda, sementara para tukang potong hewan khususnya yang ada di kelurahan di Kota Bandung sudah mulai memasuki usia senja.
Kendati begitu, Fahri merasa saat ini pun pemerintah kota sudah mulai memberikan edukasi terhadap para pelajar untuk bisa menjadi juleha.
"Harus banget dilestarikan. Soalnya kan makin ke sini kan kayak ada pergantian lah, ada Ustaz yang udah mulai tua segala macam," tuturnya.
3. Generasi muda saat ini jangan ogah belajar memotong hewan kurban

Lebih lanjut, Fahri mengatakan, untuk menyembelih hewan kurban memang ada peraturan yang harus dijalankan seperti hewan harus melalui puasa makan sebelum dipotong dan beberapa persyaratan lainnya.
"Kalau kayak hewan kurban yang sudah dikirim ke tempat (warga) biasanya itu harus puasa 12 jam kalau syariatnya. Jadi biar nanti pas proses kulitnya nggak nempel segala macam. Cuma minum harus dikasih," ujar dia.
Fahri berharap agar profesi tukang potong hewan ini dalam beberapa tahun mendatang tidak punah dan terus beregenerasi. Dia juga berpesan agar para anak muda tidak anti untuk belajar memotong hewan kurban.
"Harapannya agar terus ada profesi ini, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan meneruskan," tuturnya.
















