Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

62 Ribu Siswa SD-SMA di Bandung Terindikasi Kejiwaan Menyimpang

62 Ribu Siswa SD-SMA di Bandung Terindikasi Kejiwaan Menyimpang
Upacara peringatan Hari Jadi ke-212 Kota Bandung (HJKB) Kota Bandung berlangsung khidmat. Upacara dilaksanakan di Plaza Balai Kota Bandung, Minggu 25 September 2022. (Dok. Bandung)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Sebanyak 62.954 dari 380.151 siswa SD-SMA di Bandung terindikasi mengalami gangguan kejiwaan berdasarkan riset Himpsi Jabar dan Unisba tahun ajaran 2023/2024.
  • Masalah yang ditemukan meliputi peer problem, perilaku prososial rendah, masalah emosional, perilaku menyimpang, serta hiperaktivitas yang berpotensi mengganggu prestasi dan hubungan sosial siswa.
  • Peneliti M Ilmi Hatta menekankan perlunya intervensi pemerintah untuk membangun keterampilan sosial, empati, dan pencegahan bullying demi mencegah dampak jangka panjang pada generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Sebanyak 62.954 siswa kelas 1-12 tingkat SD-SMA sederajat terindikasi mengalami gangguan borderline dengan abnormal (menyimpang/bermasalah). Hal ini diketahui berdasarkan hasil riset Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat sekaligus dosen psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), M. Ilmi Hatta pada tahun 2023/2024.

Penelitian yang melibatkan berbagai pihak termasuk Dinkes Kota Bandung ini turut dilakukan screening psikologis kepada 380.151 peserta didik dari kelas 1-12 SD-SMA sederajat. Hasilnya ditemukan ada sebanyak 62.954 mengalami gangguan kejiwaan yang mengharah kepada penyimpangan.

"Dari 380.151 siswa yang diskrining, secara total 62.954 siswa (dihitung dari jumlah tertinggi) menunjukkan adanya indikasi masalah dalam setidaknya satu domain. Ini adalah angka yang signifikan dan memerlukan perhatian serius," kata Ilmi, dikutip Selasa (7/4/2026).

1. Banyak pelajar terindikasi mengalami masalah teman sebaya

Ilustrasi Gangguan Kejiwaan (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Gangguan Kejiwaan (IDN Times/Arief Rahmat)

Dari data tersebut, Ilmi memaparkan ada sebanyak 16.384 siswa mengalami peer problem atau masalah teman sebaya. Artinya, para siswa itu mungkin mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan teman sebaya, seperti sering diolok-olok, dikucilkan, tidak memiliki teman dekat, sulit bergaul, atau merasa tidak diterima

"Masalah ini sangat krusial di usia SMP, di mana penerimaan kelompok sebaya adalah hal yang sentral. Isolasi sosial dapat memicu stres, kecemasan, rendahnya harga diri dan menjadi faktor risiko untuk penurunan prestasi akademik hingga depresi," ucapnya.

Ilmi turut menemukan ada sebanyak 14.708 siswa dengan prosocial behavior atau perilaku prososial yang mana menunjukkan perilaku yang kurang peduli, kurang suka menolong, kurang berbagi, dan sulit berempati dengan perasaar lain.

Selanjutnya, ada sebanyak 12.293 siswa dengan emotional problems atau masalah emosional. Ilmi menjelaskan, siswa yang terindikasi hal tersebut menunjukkan gejala-gejala yang mengarah pada masalah internal seperti kecemasan berlebihan, rasa sedih yang mendalam, kekhawatiran, ketakutan, dan gejala-gejala depresi.

"Masalah emosional seringkali tidak terlihat secara kasat mata (disebut internalizing problems). Siswa mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang bergumul dengan perasaan negatif di dalam diri. lni dapat sangat mengganggu konsentrasi belajar dan motivasi," katanya.

2. Ada siswa yang berpotensi melawan aturan

ilustrasi gangguan kejiwaan (unsplash.com/Ehimetalor Akhere Unuabona)
ilustrasi gangguan kejiwaan (unsplash.com/Ehimetalor Akhere Unuabona)

Tercatat juga ada 9.551 siswa denan conduct problems atau masalah perilaku yang artinya Ini adalah kebalikan dari masalah emosional. Siswa menunjukkan perilaku yang melawan aturan, seperti berbohong, membolos, berkelahi menggertak (bullying), atau bahkan mencuri.

Kondisi itu berimplikasi karena lebih mudah terlihat dan seringkang mengganggu lingkungan. Ini menunjukkan kesulitan dalam mengendalikan impuls dan mengelola amarah, "Perilaku ini bisa menjadi cara mereka untuk melampiaskan tekanan emosional yang tidak tersalurkar dengan baik," ucap dia.

Kemudian, dari hasil penelitian ini juga ditemukan 9.018 siswa dengan hiperaktivitas atau gejala yang terlihat adalah kesulitan memusatkan perhatian, gelisah, tidak bisa duduk diam, dan bertindak tanpa berpikir panjang alias impulsif.

"Siswa sulit mengikuti pelajaran, menyelesaikan tugas, dan bisa mengganggu teman sekelas. Ini mungkin mengindikasikan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau sekadar kesulitar dalam regulasi diri," katanya.

3. Persoalan ini harus diselesaikan oleh Pemkot Bandung

Ilustrasi gangguan kejiwaan (pexels.com/Alex Green)
Ilustrasi gangguan kejiwaan (pexels.com/Alex Green)

Dari masalah emosional yang dialami oleh 12.293 siswa, Ilmi mengatakan, jika tidak ditangani maka dampaknya akan muncul pada usia 23-25 tahun. Di mana mereka berisiko tinggi mengalami burnout di tempat kerja atau kuliah, putus sekolah atau drop out, kesulitan menjaga pekerjaar tetap, dan dalam kasus yang parah, muncul pikiran untuk bunuh diri.

Dari masalah perilaku dan hiperaktivitas, dampaknya berisiko terlibat dalam perilaku berbahaya seperti penyalahgunaan narkoba, kriminalitas kecil, atau mengemudi ugal-ugalan. Mereka juga akan kesulitan mematuhi deadline dan aturan di tempat kerja.

"Hiperaktivitas yang tidak tertangani akan menjadi dewasa dengan ADHD yang menyulitkan karier dan pengelolaan keuangan," kata dia.

Ilmi mengatakan ada juga dampak gabungan yang nantinya bermuara pada peningkatan jumlah pengangguran muda yang bergantung pada bantuan sosial. Setelah itu pada kesehatan akan terbebani oleh meningkatnya pasien gangguan jiwa dewasa muda.

"Dan dalam sosial ada potensi peningkatan angka perceraian dini, kekerasan dalam rumah tangga, dan ketidakstabilan komunitas," ucapnya.

Dengan kondisi ini, Ilmi mengharapkan agar Pemerintah Kota Bandung turut melakukan penanganan dan bisa langsung menerapkan program yang sifatnya menangani soal kejiwaan para pelajar.

"Data ini adalah sebuah lampu kuning yang sangat jelas bagi orangtua, guru, dan pembuat kebijakan (wali kota), program untuk membangur keterampilan sosial, empati, dan pencegahan perundungan (bullying) harus menjad prioritas utama," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More