Penerbangan Luar Jawa Jadi Opsi Bangkitnya Bandara Husein Sastranegara

- Penutupan rute Bandung–Yogyakarta memicu evaluasi arah kebijakan penerbangan di Jawa Barat, dengan dorongan agar pemerintah lebih aktif berdialog dengan industri untuk menentukan rute sesuai kebutuhan pasar.
- Rute pendek antar kota di Pulau Jawa dinilai kurang prospektif, sementara penerbangan lintas pulau dan internasional seperti Bandung–Singapura memiliki potensi tinggi karena permintaan penumpang yang besar.
- ASITA menekankan pentingnya strategi matang dan kolaborasi antara pemerintah daerah serta pelaku pariwisata dalam membuka rute baru agar promosi dan penetrasi pasar bisa dilakukan lebih efektif.
Bandung, IDN Times - Penutupan rute penerbangan Bandung–Yogyakarta oleh maskapai penerbangan Wings Air di Bandara Husein Sastranegara kembali memunculkan evaluasi soal arah kebijakan transportasi udara di Jawa Barat. Pelaku industri pariwisata menilai, kebijakan pembukaan rute selama ini belum sepenuhnya melibatkan kebutuhan pasar yang sebenarnya.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat, Daniel Guna Nugraha menilai bahwa pemerintah harus berperan aktif sebagai fasilitator yang membuka ruang dialog dengan industri penerbangan. Dengan demikian rute yang dibuka sesuai dengan permintaan penumpang dan memiliki peluang bertahan lebih lama.
“Pemerintah itu fasilitator. Kami di industri yang tahu kebutuhan penumpang. Jadi seharusnya diajak bicara sejak awal untuk menentukan rute mana yang memang dibutuhkan,” kata Daniel.
1. Rute pendek di Pulau Jawa kurang prospektif

Menurut Daniel, pembukaan rute-rute pendek di dalam Pulau Jawa, seperti Bandung–Yogyakarta, Bandung-Semarang, atau Bandung-Solo sejak awal memiliki tantangan besar. Selain jarak yang relatif dekat, alternatif transportasi darat sudah sangat kompetitif baik
Ia menyebut, jika pemerintah ingin mendorong penerbangan dari Bandung, sebaiknya fokus pada rute lintas pulau yang benar-benar membutuhkan moda udara.
“Kalau hanya di dalam Jawa dan jaraknya dekat, memang berat. Lebih baik dorong penerbangan keluar Jawa yang jelas kebutuhannya tinggi,” ujarnya.
2. Permintaan tinggi untuk rute internasional

Daniel mengungkapkan, minat masyarakat Bandung Raya untuk terbang ke luar negeri seperti ke Singapura dan Malaysia justru sangat tinggi. Begitu juga sebaliknya, wisatawan dari kedua negara tersebut memiliki ketertarikan besar untuk datang ke Bandung dan menikmati wisata di daerah Bandung Raya.
Sayanganya, peluang ini belum dimaksimalkan secara serius. Ia menilai, penerbangan langsung bisa menjadi kunci untuk menarik pergerakan wisatawan internasional datang ke kota ini. Apalagi, tren wisata saat ini—terutama di kalangan Gen Z dan millennial ebih menyukai perjalanan yang praktis tanpa transit. Maka, tute seperti Bandung–Singapura yang hanya sekitar 1,5 jam dinilai sangat potensial jika dibuka kembali secara optimal.
3. Pemda harus siapkan strategi matang dan libatkan industri

Lebih lanjut, Daniel menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang sebelum membuka rute penerbangan. Promosi dan kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata harus dilakukan jauh hari, tidak mendadak.
Ia mencontohkan, bagaimana pembukaan rute internasional di destinasi lain melibatkan tour operator hingga pemerintah daerah guna melakukan promosi bersama di negara asal wisatawan. Pola seperti itu harus diterapkan jika Bandung dan Jawa Barat ingin menghidupkan kembali konektivitas udara.
“Persiapannya tidak bisa mendadak. Harus dari jauh hari, bahkan bisa satu semester sebelumnya kita sudah penetrasi pasar,” kata dia.
Tanpa penerbangan langsung, wisatawan mancanegara cenderung enggan datang ke Bandung karena harus berpindah-pindah melalui bandara lain seperti Soekarno-Hatta. Padahal, kemudahan akses menjadi faktor utama dalam menarik wisatawan ke suatu destinasi.

















