Daop 3 Cirebon Kalah Jauh dari Daop 2 Bandung dalam Gaet Penumpang

- Kinerja total kereta api Jawa Barat tumbuh, namun pertumbuhan tidak merata antar wilayah operasi
- Daop 2 Bandung tetap dominan, sementara Daop 3 Cirebon mengalami penurunan performa.
- Daop 2 Bandung dominan, Daop 3 melemah bulanan
Cirebon IDN Times - Kinerja angkutan penumpang kereta api di Jawa Barat pada November 2025 mencatat pertumbuhan positif secara agregat. Namun, di balik tren naik tersebut, Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon justru menunjukkan performa yang relatif lemah, bahkan mengalami penurunan secara bulanan di tengah penguatan wilayah lain.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, jumlah penumpang kereta api pada November 2025 mencapai 2.138.078 orang. Angka ini naik 2,43% dibanding Oktober 2025 dan tumbuh 13,04% secara tahunan.
Secara kumulatif sepanjang Januari–November 2025, total penumpang menembus 23,31 juta orang atau meningkat 13,18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menyebut kinerja tersebut mencerminkan meningkatnya mobilitas masyarakat, khususnya di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi dan pola perjalanan harian yang padat.
1. Agregat menguat, distribusi tak merata

Meskipun kinerja total menunjukkan tren menguat, distribusi pertumbuhan antar wilayah operasi tidak berjalan seimbang. Darwis menegaskan bahwa tidak semua daerah operasi menikmati akselerasi yang sama.
“Secara umum angkutan kereta api masih tumbuh, tetapi jika dilihat per daerah operasi, terdapat perbedaan yang cukup tajam,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).
Ketimpangan ini terlihat jelas antara Daop 2 Bandung dan Daop 3 Cirebon. Daop 2 tetap menjadi tulang punggung angkutan kereta api di Jawa Barat, sementara Daop 3 bergerak lebih lambat.
2. Daop 2 Bandung dominan, Daop 3 melemah bulanan

Pada November 2025, Daop 2 Bandung mencatat volume penumpang sebanyak 1.978.673 orang. Jumlah ini tumbuh 2,68% dibanding bulan sebelumnya dan melonjak 14,13% secara tahunan.
Secara kumulatif hingga November 2025, Daop 2 telah melayani 21,44 juta penumpang, meningkat 14,08% dibanding periode yang sama 2024.
Sebaliknya, Daop 3 Cirebon hanya mencatat 159.405 penumpang pada November 2025. Angka ini turun 0,55% dibanding Oktober 2025, meskipun masih mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 1,06%. Laju ini dinilai sangat terbatas dibandingkan pertumbuhan dua digit yang dicapai wilayah lain.
Darwis menilai, pertumbuhan tahunan yang tipis menunjukkan bahwa peningkatan mobilitas di wilayah Cirebon dan sekitarnya belum sepenuhnya terkonversi menjadi permintaan terhadap moda kereta api.
“Pertumbuhannya masih positif, tetapi skalanya kecil. Ini mengindikasikan daya dorong mobilitas belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan penggunaan kereta api,” katanya.
3. Pemulihan Daop 3 Cirebon paling lambat

Secara kumulatif, sepanjang Januari–November 2025, Daop 3 Cirebon melayani 1.865.901 penumpang. Angka ini tumbuh 3,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jauh di bawah rata-rata pertumbuhan kumulatif Jawa Barat yang mencapai dua digit.
Kondisi tersebut menempatkan Daop 3 sebagai salah satu wilayah dengan pemulihan permintaan paling lambat.
Struktur perjalanan yang masih didominasi jarak menengah dan antarkota, serta persaingan dengan moda transportasi lain, disebut menjadi faktor yang memengaruhi kinerja.
“Ketika pilihan moda semakin banyak dan fleksibel, kereta api harus memiliki nilai tambah yang jelas agar tetap kompetitif,” ujar Darwis.
Penurunan bulanan pada November 2025 menjadi sinyal penting bagi kinerja Daop 3 ke depan. Di tengah pertumbuhan total angkutan kereta api Jawa Barat, kontraksi di wilayah Cirebon menandakan perlunya evaluasi terhadap layanan, pola perjalanan, dan strategi penguatan permintaan agar tidak semakin tertinggal dibanding daerah operasi lainnya.

















