Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ada 252 Kasus Campak, Warga Jabar Waspada Penularan Mudik Lebaran

Ada 252 Kasus Campak, Warga Jabar Waspada Penularan Mudik Lebaran
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kasus campak di Jawa Barat melonjak tajam, mencapai 1.785 kasus pada 2025 dan 252 kasus hingga Februari 2026, menjadikannya salah satu provinsi dengan angka tertinggi di Indonesia.
  • Dinkes Jabar mengingatkan masyarakat agar waspada saat mudik Idul Fitri karena campak sangat mudah menular melalui udara, kontak langsung, atau benda yang terkontaminasi virus.
  • Pemerintah daerah melakukan imunisasi respons wabah (ORI) di beberapa wilayah seperti Bogor, Cirebon, dan Garut untuk menekan penyebaran akibat rendahnya cakupan vaksinasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Provinsi Jawa Barat masuk dalam kategori daerah terbanyak di Indonesia dengan kasus campak. Dari kondisi itu, masyarakat Jabar diimbau untuk waspada terhadap penularan penyakit tersebut saat mudik Idul Fitri 2026.

Berdasarkan data, jumlah kasus positif campak pada 2025 di Jabar mencapai 1.785 kasus atau melonjak dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 271 kasus. Sementara, pada Januari 2026 hingga Februari 2026, jumlah kasus campak di Jawa Barat sebanyak 252 kasus.

1. Masyarakat harus waspada saat mudik

ilustrasi virus campak
ilustrasi virus campak (freepik.com/freepik)

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Vini Adiani mengatakan, campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Penularan bisa melalui percikan batuk atau bersin dari penderita, kontak langsung dengan penderita, dan menyentuh benda yang terkontaminasi virus campak. Perhitungannya, dari satu penderita campak dapat menularkan ke 12-18 orang lainnya.

"IdulFitri merupakan momentum pergerakan massa yang masif dan pertemuan banyak orang. Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai penyakit tersebut karena mudah menular," ujar Vini, Kamis (12/3/2026).

2. Campak mudah menular

ilustrasi campak
ilustrasi campak (freepik.com/freepik)

Sebelumnya, Vini mengatakan, banyaknya kasus campak di Jabar karena masih adanya kelompok masyarakat yang menolak vaksinasi atau imunisasi ini. Sehingga, hal itu memicu munculnya kembali kasus penyakit menular tersebut.

"Kasus campak terjadi karena masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Sehingga yang penting harus imunisasi, karena campak adalah virus yang mudah menular," kata Vini.

Dia menegaskan, risiko yang ditimbulkan campak tidak bisa dianggap sepele, terutama bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi. Tanpa perlindungan vaksin, infeksi virus campak dapat memicu komplikasi serius yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.

"Bila tidak diimunisasi, akan menyebabkan radang otak, kebutaan, radang paru dan malnutrisi berat," ucapnya.

Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk segera mengambil langkah pencegahan apabila mengalami gejala campak, sekaligus mencegah penularan ke orang lain.

"Isolasi mandiri, memakai masker, berobat ke fasyankes (fasilitas layanan kesehatan)," kata dia.

3. Penanganan dilakukan secara bertahap

Ilustrasi vaksin campak
Ilustrasi vaksin campak (Freepik/freepik)

Lebih lanjut, Vini mengatakan ia telah menindaklanjuti situasi tersebut dengan memberikan pendampingan intensif kepada kabupaten/kota yang masuk dalam definisi operasional KLB.

Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah campak di sejumlah daerah yang terdampak.

"Kami tindak-lanjuti pelaksanaan ORI campak (outbreak response immunization). Yang sudah melaksanakan ORI antara lain Kabupaten Bogor, Kota Cirebon dan Kabupaten Garut," kata Vini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More