Bekasi-Sukabumi Difokuskan Sebagai Kawasan Industri Elektronik

- Pemprov Jawa Barat menetapkan Bekasi, Subang, Purwakarta, dan Sukabumi sebagai pusat industri elektronik serta semikonduktor hilir dalam rencana klasterisasi investasi di 27 kabupaten/kota.
- Tren global menunjukkan pergeseran investasi menuju sektor teknologi tinggi seperti pusat data dan semikonduktor, dipicu oleh perkembangan AI dan kebijakan kedaulatan chip internasional.
- Selain fokus industri padat modal, Jabar juga menyiapkan strategi investasi pangan seiring proyeksi penduduk 2030 mencapai 52,69 juta jiwa dengan kebutuhan bahan pokok yang meningkat tajam.
Bandung, IDN Times - Beberapa wilayah di Jawa Barat akan difokuskan sebagai pusat industri elektronik dan juga semikonduktor hilir. Hal itu dilakukan karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini tengah menyusun klasterisasi investasi di 27 kabupaten kota guna menggaet rencana penanaman modal sejumlah sektor unggulan padat modal.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar, Dedi Taufik mengatakan, pihaknya mencermati dinamika investasi global beberapa tahun terakhir yang mulai terjadi pergeseran dari bidang infrastruktur ke investasi padat modal teknologi tinggi.
"Kami melakukan pendekatan tematik kewilayahan investasi di Jabar," katanya Selasa, (24/2/2026).
1. Pada tahun 2025 investasi industri elektronik sempat mengalami penurunan

Pada tahun 2025, dijelaskan Dedi, tren investasi global didominasi oleh Pusat Data (Data Center) dan Semikonduktor yang mencatat lonjakan pertumbuhan signifikan, di mana pusat data menyumbang seperlima dari nilai proyek baru.
"Sebaliknya, sektor infrastruktur, energi terbarukan, serta industri yang rentan tarif seperti tekstil, elektronik, dan permesinan justru mengalami penurunan investasi yang tajam," katanya.
Menurut dia, lonjakan nilai yang tidak sebanding dengan jumlah proyek pada Semikonduktor, ini kemungkinan besar didorong oleh booming AI (Artificial Intelligence) dan kebijakan kedaulatan chip seperti CHIPS Act di AS dan kebijakan serupa di Eropa/Asia.
"Tren ini mengindikasikan bahwa arus modal global kini lebih selektif, memprioritaskan proyek strategis bernilai tinggi (high-value) dibandingkan ekspansi kuantitas pabrik konvensional," ujarnya.
2. Sudah ada beberapa lokasi yang ditentukan untuk investasi sektor tersebut

Dari hasil klasterisasi yang dilakukan pihaknya bersama kabupaten/kota, Jawa Barat menjadi pusat pengembangan industri elektronik dan semikonduktor hilir. Dedi mengatakan, ada beberapa daerah yang dinilai tepat untuk dijadikan pusat industri tersebut.
"Lokasinya antara lain Kabupaten Bekasi, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Sukabumi,” katanya.
Lalu, Jawa Barat juga diproyeksikan menjadi Hub untuk pengembangan ekonomi digital dan data center di Indonesia dengan total lebih dari 30 perusahaan yang berinvestasi. Lokasi utama investasi ini berada di kawasan industri di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta.
3. Investasi di ekonomi digital mengalami kenaikan

Pada 2025 lalu, kawasan Bogor-Depok-Bekasi-Karawang-Purwakarta (Bodebekarpur) meraih realisasi investasi untuk sektor informasi dan komunikasi mencapai Rp26 triliun. Di sektor yang sama, wilayah Bandung Raya berhasil menggaet Rp3,40 triliun pada 2025 lalu.
"Kenaikan investasi pada ekonomi digital dan semikonduktor mencerminkan pergeseran minat investor ke sektor yang dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat," katanya.
Kepala Bappeda Jabar Dedi Mulyadi menambahkan arah kebijakan investasi Jawa Barat periode 2025-2029 terus mendorong realisasi modal di kawasan terafirmasi 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Gubernur Jabar Dedi Mulyadi pun terus mendorong terciptanya peningkatan iklim investasi dan kemudahan berusaha.
Selain investasi padat modal pihaknya juga mengungkap adanya potensi investasi yang cukup besar di sektor pangan berdasarkan kebutuhan penduduk Jabar dalam 5 tahun ke depan.
"Jabar itu krusial dan potensial untuk dijadikan pusat penanaman modal di Indonesia. Lima tahun yang akan datang pertumbuhan penduduknya luar biasa, ini salah satu potensi market bukan hanya sekedar industrinya saja yang dibangun tapi sekaligus juga pasar," katanya.
Menurutnya dengan proyeksi jumlah penduduk Jabar pada 2030 mencapai 52,69 juta jiwa berbanding lurus dengan tingginya kebutuhan pangan. Dedi mengambil proyeksi kebutuhan beras yang mencapai 4,28 juta ton/tahun, telur 428 ribu ton/tahun hingga daging ayam 578 ribu ton/tahun.
"Kebutuhan ini dan sembako yang lain akan meningkat secara tajam," katanya.
Pemprov Jabar sendiri akan menjadikan pembangunan jaringan jalan dan irigasi sebagai program prioritas agar bisa menghadirkan investasi yang berkelanjutan.

















