Aksi Global Soroti Pendanaan World Bank untuk Peternakan Intensif

- Aksi global di lebih dari 20 negara, termasuk Jakarta, menyoroti pendanaan World Bank untuk peternakan intensif yang dinilai memperburuk krisis lingkungan dan kesejahteraan hewan.
- Para aktivis menilai sistem peternakan intensif berkontribusi pada polusi udara, deforestasi, serta ketimpangan sosial yang berdampak besar bagi masyarakat rentan dan keanekaragaman hayati.
- Ketergantungan pada pakan impor dan alih fungsi lahan dinilai mengancam ketahanan ekonomi serta pangan, mendorong AFFA mengadakan webinar untuk membahas solusi pembangunan pangan berkelanjutan.
Bandung, IDN Times - Aksi serentak berlangsung di berbagai negara pada 17 April 2026 untuk menyoroti pendanaan global terhadap industri peternakan intensif. Di Jakarta, aksi digelar di depan kantor World Bank oleh Act for Farmed Animals (AFFA) bersama koalisi Stop Financing Factory Farming (S3F).
Aksi ini menjadi bagian dari gerakan global yang berlangsung di sekitar 20 negara. Para peserta aksi mendesak lembaga keuangan internasional tersebut untuk menghentikan pendanaan terhadap sistem peternakan intensif yang dinilai memiliki dampak luas terhadap lingkungan dan masyarakat.
Isu ini mencuat setelah muncul rencana peningkatan pendanaan hingga USD9 miliar atau sekitar Rp140 triliun per tahun pada 2030. Para aktivis menilai kebijakan tersebut berpotensi mempercepat berbagai krisis lingkungan yang sudah berlangsung saat ini.
Dalam aksi tersebut, peserta juga menampilkan instalasi yang menggambarkan hewan ternak yang terdampak sistem peternakan intensif. Aksi visual ini dimaksudkan untuk mengingatkan publik pada dampak industri peternakan terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan hewan.
1. Aksi global soroti pendanaan peternakan intensif

Act for Farmed Animals bersama koalisi Stop Financing Factory Farming menilai perlu ada evaluasi terhadap arah pendanaan lembaga keuangan internasional terhadap sektor peternakan intensif. Mereka menyebut investasi pada sektor tersebut berpotensi memperparah krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
“World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,” ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye Act for Farmed Animals, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Sabtu (18/4/2026).
Para aktivis berharap lembaga keuangan global dapat mengalihkan pendanaan ke sektor yang dinilai lebih berkelanjutan dan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan maupun kesejahteraan hewan.
2. Sistem peternakan intensif dinilai berdampak pada lingkungan

Sistem peternakan intensif atau Animal Feeding Operations (AFO) disebut berkontribusi terhadap pencemaran udara, khususnya partikel halus PM2.5 yang dapat berdampak pada kesehatan manusia. Dampak polusi ini juga dinilai tidak merata, karena sering kali lebih dirasakan oleh kelompok masyarakat rentan.
Selain itu, sekitar 80 persen lahan pertanian global saat ini digunakan untuk industri peternakan intensif, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan ternak. Produksi kedelai menjadi salah satu faktor utama, di mana sekitar 77 persen kedelai dunia digunakan sebagai pakan ternak, bukan untuk konsumsi manusia.
“Deforestasi adalah salah satu penyebab utama dari krisis iklim. Deforestasi yang masif untuk peternakan intensif dan pakan bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial. Secara global, dampaknya dirasakan oleh berbagai lapisan, termasuk masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya saat kita dihadapkan pada krisis air dan cuaca ekstrem,” ujar Arie Utami, Managing Director Act for Farmed Animals.
3. Dampak juga dirasakan pada ketahanan ekonomi dan pangan

Ketergantungan pada bahan pakan impor, seperti bungkil kedelai, turut menjadi sorotan dalam diskusi mengenai sistem peternakan intensif. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan kerentanan ekonomi, terutama ketika terjadi fluktuasi harga di pasar global.
Selain itu, perluasan lahan untuk peternakan maupun produksi pakan juga berpotensi memicu alih fungsi hutan dan lahan yang berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati. Isu ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan ketahanan lingkungan dan sistem pangan jangka panjang.
Sebagai tindak lanjut dari aksi tersebut, Act for Farmed Animals berencana menggelar webinar untuk membahas lebih jauh dampak sistemik peternakan intensif terhadap ekonomi, lingkungan, dan komunitas terdampak. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperluas diskusi publik mengenai arah pembangunan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.


















