Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jembatan Radug di Kabupaten Bandung Amblas, Warga Tak Bisa Melintas

Jembatan Radug di Kabupaten Bandung Amblas, Warga Tak Bisa Melintas
Jembatan Radug di Kabupaten Bandung amblas usai diterjang air luapan sungai, Kamis (16/4/2026). IDN Times/Istimewa
Intinya Sih
  • Jembatan Radug di Desa Karyalaksana, Kabupaten Bandung amblas akibat hujan deras, membuat warga tidak bisa melintas dan aparat menutup akses demi keselamatan.
  • Air sungai yang meluap mengikis tanah sekitar jembatan hingga satu tiang listrik terancam roboh; polisi dan PLN berkoordinasi untuk mencegah gangguan aliran listrik.
  • BMKG Bandung mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem saat peralihan musim yang ditandai hujan lebat mendadak, petir, serta angin kencang akibat pembentukan awan Cumulonimbus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Hujan yang masih mengguyur kawasan Bandung Raya selain menyebabkan banjir juga membuat sejumlah fasilitas rusak, salah satunya jembatan Radug di Desa Karyalaksana, Kabupaten Bandung

Jembatan tersebut amblas pada Kamis (16/4/2026) malam, dan membuat warga tidak bisa memanfaatkannya. Kapolsek Ibun, Iptu Deny Fourtjahjanto menuturkan, sejak semalam aparat kepolisian dan desa sudah mendatangi titik jembatan yang amblas dan memastikan bahwa masyarakat tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut.

"Sekarang tidak bisa dipakai kembali. Warga yang biasa melintas ke sini untuk tidak dilalui dulu," kata Deny.

1. Tiang listrik juga terancam roboh

Ilustrasi tiang listrik (unsplash.com/Yanping Ma)
Ilustrasi tiang listrik (unsplash.com/Yanping Ma)

Tak hanya membuat jembatan rusak, air sungai yang meluap karena derasnya hujan membuat tanah di sekitar jembatan terkikis dan terdapat satu tiang listrik rawan roboh.

Saat ini kepolisian sudah berkoordinasi dengan petugas dari PLN agar bisa melakukan antisipasi agar tiang tidak roboh yang nantinya bisa membuat aliran listrik ke masyarakat terganggu.

"Kita melihat ada kerawanan tiang listrik kalau ada abrasi dari air dipastikan roboh," kata dia.

2. Kondisi banjir pun bikin resah warga Bandung

IMG-20260417-WA0005.jpg
Ilustrasi banjir di Kota Bandung. Dok Diskominfo

Sementara itu, di Kota Bandung pemerintah kota terus mengintensifkan penanganan genangan yang masih terjadi di sejumlah wilayah di Bandung Timur. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, genangan hingga kini masih terjadi di beberapa RW di Kelurahan Rancabolang, Kecamatan Gedebage, serta Kelurahan Derwati, Kecamatan Rancasari akibat hujan yang mengguyur sejak beberapa hari terakhir.

Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh belum surutnya debit air di Sungai Cisaranten serta banjir di kawasan Sapan Kabupaten Bandung. Hal tersebut menyebabkan upaya pemompaan air dari kawasan permukiman belum dapat dilakukan secara optimal.

“Air masih sulit surut karena sungai penuh dan banjir kiriman juga belum turun. Ini yang membuat kita belum bisa memompa air keluar dari wilayah terdampak,” kata Farhan.

Ke depan, Pemkot Bandung tengah menyiapkan terobosan melalui pembangunan sistem penyaluran air dari Rancabolang menuju Sungai Cipamokolan. Rencana ini akan masuk dalam perencanaan anggaran tahun 2027–2028, bahkan berpeluang dipercepat melalui perubahan anggaran 2026.

Di sisi lain, penanganan darurat terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan warga terdampak tetap terpenuhi. Dapur umum telah didirikan dan beroperasi setiap hari dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

Saat ini, tercatat empat RW masih terdampak cukup parah, masing-masing dua RW di Rancabolang dan dua RW di Derwati.

3. Cuaca ekstrem jelang peralihan musim

IMG-20260415-WA0059.jpg
Banjir melanda kawasan Sapan, Kabupaten Bandung sejak akhir pekan kemarin. Hingga Rabu (15/4/2026) warga masih sulit beraktivitas. IDN Times/Debbie Sutrisno

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, Jawa Barat, meminta masyarakat mewaspadai fenomena cuaca ekstrem yang terjadi saat periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan periode ini ditandai dengan melemahnya angin baratan dan mulai masuknya angin timuran yang memicu ketidakstabilan atmosfer.

“Fenomena ini biasanya diawali dengan cuaca panas dan gerah, kemudian terjadi hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang,” ujar Teguh.

Teguh mengatakan kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang cukup masif, sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, dan angin kencang.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More