Kedelai Impor Naik Tajam, Pemprov Jabar Usulkan Relaksasi Bea Masuk

- Harga kedelai di Jawa Barat melonjak hingga 40 persen akibat ketergantungan impor 94 persen dari Amerika Serikat, membuat harga mencapai sekitar Rp13.800 per kilogram.
- Pemprov Jabar mengusulkan relaksasi bea masuk dan pemerintah pusat menyiapkan subsidi Rp2.000 per kilogram serta kuota 250 ribu ton untuk menekan harga kedelai impor.
- Pemkot Bandung mendorong efisiensi produksi tahu-tempe dan menjaga distribusi agar industri tetap berjalan, meski perajin tertekan oleh pelemahan rupiah dan rencana mogok operasi.
Bandung, IDN Times - Harga kedelai di Jawa Barat mengalami kenaikan signifikan mencapai 40 persen, dibandingkan 2025. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat mencatat harga kedelai saat ini di kisaran Rp13.800 per kilogram, sedangkan tahun lalu masih di angka Rp8.000.
Kepala Disperindag Jabar, Nining Yuliastiani mengatakan, kenaikan ini terjadi karena 94 persen kedelai yang ada di Jabar merupakan impor dari Amerika Serikat. Hanya 6 persen dari kebutuhan yang mampu dipenuhi secara domestik.
Kondisi kenaikan ini pun membuat para perajin tahu dan tempe yang paling banyak membeli kedelai impor tersebut untuk bahan utama, akan diberikan bantuan subsidi dari pemerintah pusat.
"Akan ada bantuan distribusi, setiap kilogram itu dikasih subsidi Rp2.000 sehingga mengurangi harga," ujar Nining, dikitip Senin (15/6/2026).
1. Diberitakan subsidi agar harga beli tidak terlalu tinggi

Pemerintah pusat, kata Nining turut menyiapkan kuota sebanyak 250 ribu ton kedelai dan masing-masing daerah akan mendapatkan sesuai kebutuhan. Pemprov Jabar kata dia, juga telah mengusulkan agar pemerintah pusat memberikan relaksasi bea masuk kedelai impor agar harga tidak terlalu tinggi di pasaran.
"Supaya harganya tidak terlalu tinggi, walaupun ada pelemahan rupiah," ucapnya.
Sementara, Pemerintah Kota Bandung turut menyoroti harga kedelai yang terus merangkak naik dalam kondisi ekonomi saat ini. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, harga kedelai saat ini sudah berada di atas Rp10.000 per kilogram, bahkan mendekati Rp11.000.
Farhan mengakui, lonjakan harga tersebut sulit dikendalikan karena kedelai merupakan komoditas impor yang sangat bergantung pada mekanisme pasar global. Kondisi ini membuat pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam menekan harga di tingkat lokal.
"Harga kedelai itu sekarang enggak bisa ditolong. Sudah di atas Rp10.000 per kilogram, bahkan mendekati Rp11.000. Karena ini barang impor, ya kita mengikuti mekanisme pasar," ujar Farhan dikutip Sabtu (13/6/2026).
2. Pemkot Bandung juga minta agar perajin tahu tetap efisien

Kendati begitu, Pemkot Bandung akan mengambil langkah strategis menjaga keberlangsungan produksi tahu dan tempe, yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat sekaligus penopang usaha mikro.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong para perajin tahu dan tempe untuk meningkatkan efisiensi produksi. Langkah ini dinilai penting agar pelaku usaha tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya bahan baku.
"Kita mengimbau kepada para pengrajin tahu dan tempe agar lebih efisien. Yang penting produksi jangan sampai berhenti," katanya.
Pemkot Bandung juga berupaya menjaga stabilitas distribusi dan akses penjualan di berbagai titik di Kota Bandung. Farhan memastikan, jalur distribusi dan pasar bagi produk tahu dan tempe harus tetap terbuka agar roda ekonomi terus bergerak.
Di sisi lain, pemerintah juga akan berupaya menjaga daya beli masyarakat. Menurut Farhan, keseimbangan antara harga dan kemampuan konsumsi menjadi kunci agar produk berbahan kedelai tetap terjangkau.
"Kita jaga supaya konsumen yang biasa beli kuliner tahu dan tempe tetap punya daya beli. Jadi walaupun harganya naik, masih bisa terbeli," ujarnya.
3. Minta perajin tahu dan tempe tetap beroperasi

Farhan menyebut, keberlangsungan industri tahu dan tempe tidak boleh terganggu, mengingat perannya yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja.
Ia pun berharap para pelaku usaha tetap optimistis dan mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Pemerintah, kata dia, akan terus hadir untuk memastikan ekosistem usaha tetap berjalan.
"Yang paling penting produksi tahu dan tempe jangan sampai berhenti," ungkapnya.
Sebelumnya, 140 Perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung berencana melakukan mogok operasional dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini diambil setelah nilai rupiah terhadap dolar AS yang terus merangkak naik.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar ini sangat berpengaruh karena mayoritas perajin menggunakan kedelai impor dari Amerika, Kanada, dan Brazil. Jika dolar naik, maka secara otomatis harga kedelai pun ikut naik dan berdampak signifikan terhadap industri tahu.
"Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa itu Rp9.000-an per kilogram lah, Rp8 ribu sampai Rp9.000, sekarang sudah nyampai ada yang Rp11.000 perkilogram," ujar M. Zamaludin, Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, sekaligus perajin tahu Cibuntu, Sabtu (6/6/2026).
Pria yang akrab dengan panggilan Zamal ini mengungkapkan, perajin tahu Kota Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat memang sudah mengeluhkan dan was-was terhadap melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
"Kami perajin khawatir, khawatirnya ya kedelai terus naik, terus diikuti juga dengan bahan-bahan yang lain bisa jadi naik juga. Jadi ya kalau dolar naik otomatis lah (terdampak) karena kita pakai impor, bukan pakai lokal," ucapnya.
Perajin tahu di Cibuntu dan Jawa Barat memang sangat ketergantungan dengan kedelai impor karena ketersediaan dari dalam negeri sangat terbatas. Sehingga, mau tidak mau mengandalkan dari impor.
"Kalau harga kedelainya naik terus, mungkin kejadian 2023 kita akan terulang lagi. Kita akan demo, kita ya ingin menaikkan harga ya susah kan kalau menaikkan harga untuk tahu dan tempe, makanya kita ya solusinya salah satunya ya kita demo mogok," tutur Zamal.
















