Inflasi Jabar 2,72 Persen pada Juli 2026, Emas hingga Bensin Jadi Pemicu

- Inflasi tahunan Jawa Barat pada Juli 2026 mencapai 2,72 persen dengan IHK 111,96, naik dari 2,03 persen setahun sebelumnya. Namun, secara bulanan terjadi deflasi 0,05 persen.
- Emas perhiasan, bensin, minyak goreng, dan beras menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Kelompok perawatan pribadi mencatat kenaikan tertinggi 11,46 persen, disusul transportasi dan makanan.
- Seluruh 10 wilayah pemantauan mengalami inflasi tahunan; Kota Bekasi tertinggi 2,87 persen, diikuti Depok 2,85 persen dan Bandung 2,79 persen, sedangkan Kota Cirebon terendah 2,28 persen.
Bandung, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Juli 2026 mencapai 2,72 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,96. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2025 yang tercatat sebesar 2,03 persen, menunjukkan tekanan harga masih terjadi di berbagai sektor pengeluaran masyarakat.
Mengutip laporan BPS Jabar yang dirilis, Senin (3/8/2026), secara bulanan Jawa Barat justru mengalami deflasi 0,05 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Juli 2026 tercatat sebesar 1,64 persen. Kondisi tersebut menunjukkan harga sejumlah komoditas memang mengalami penurunan dibandingkan Juni, namun secara tahunan masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Inflasi tahunan di Jawa Barat dipicu oleh kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan paling besar terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, transportasi, serta makanan, minuman, dan tembakau. Sementara dari sisi komoditas, emas perhiasan, bensin, minyak goreng, dan beras menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga sepanjang satu tahun terakhir.
1. Inflasi tahunan naik, tetapi Juli justru mengalami deflasi

BPS mencatat Jawa Barat mengalami inflasi tahunan sebesar 2,72 persen pada Juli 2026. Angka tersebut berasal dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,00 pada Juli 2025 menjadi 111,96 pada Juli 2026. Dengan capaian tersebut, inflasi Jawa Barat juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 2,03 persen.
Berbeda dengan kondisi tahunan, perkembangan harga selama Juli menunjukkan tren yang lebih terkendali. Secara bulanan (month-to-month), Jawa Barat mengalami deflasi 0,05 persen, sedangkan inflasi tahun kalender hingga Juli mencapai 1,64 persen. Kondisi ini menandakan terdapat penurunan harga pada sejumlah komoditas dibandingkan Juni 2026, meski belum mampu menurunkan inflasi tahunan.
BPS juga mencatat seluruh 10 kabupaten dan kota yang menjadi lokasi pemantauan Indeks Harga Konsumen mengalami inflasi tahunan. Hal tersebut memperlihatkan kenaikan harga masih terjadi secara merata di berbagai wilayah Jawa Barat sepanjang satu tahun terakhir.
2. Emas, bensin, minyak goreng, dan beras menjadi penyebab utama inflasi

Kenaikan inflasi terjadi karena hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami peningkatan indeks harga. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi sebesar 11,46 persen, disusul transportasi 3,84 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau 2,99 persen. Kelompok lain seperti restoran, pendidikan, kesehatan, hingga pakaian juga sama-sama mengalami inflasi meski dalam besaran yang lebih rendah.
Dilihat dari komoditasnya, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,62 persen. Posisi berikutnya ditempati bensin sebesar 0,31 persen, minyak goreng sebesar 0,16 persen, beras sebesar 0,13 persen, serta sigaret kretek mesin sebesar 0,09 persen. Selain itu, kenaikan harga daging ayam ras, daging sapi, air kemasan, ikan kembung, hingga bahan bakar rumah tangga juga ikut mendorong inflasi.
Sementara untuk inflasi bulanan, komoditas yang paling banyak menyumbang kenaikan harga adalah bensin dengan andil 0,09 persen, disusul ketimun, bawang putih, mobil, sepeda motor, serta biaya pendidikan seperti sekolah dasar dan taman kanak-kanak.
3. Makanan masih menjadi penyumbang terbesar inflasi Jawa Barat

Meski kelompok perawatan pribadi mencatat tingkat inflasi paling tinggi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi Jawa Barat. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,94 persen, lebih tinggi dibandingkan kelompok perawatan pribadi sebesar 0,67 persen maupun transportasi sebesar 0,43 persen.
Di dalam kelompok makanan, komoditas yang paling banyak mendorong inflasi adalah minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, daging sapi, air kemasan, dan ikan kembung. Selain itu, kenaikan harga jeruk, pepaya, ketimun, wortel, susu cair kemasan hingga kopi bubuk juga turut memberi andil terhadap kenaikan harga pangan.
Di sisi lain, BPS mencatat sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain telur ayam ras, tomat, bawang merah, dan sawi putih, yang memberikan andil terhadap deflasi pada kelompok makanan.
4. Bekasi jadi kota dengan inflasi tertinggi, Bandung urutan ketiga

Berdasarkan wilayah pemantauan BPS, Kota Bekasi menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Jawa Barat, yakni 2,87 persen. Setelah itu disusul Kota Depok sebesar 2,85 persen, Kota Bandung sebesar 2,79 persen, serta Kabupaten Majalengka sebesar 2,77 persen.
Sementara itu, Kabupaten Bandung mencatat inflasi sebesar 2,55 persen, Kabupaten Subang 2,49 persen, Kota Sukabumi 2,47 persen, Kota Bogor 2,44 persen, Kota Tasikmalaya 2,44 persen, dan Kota Cirebon menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 2,28 persen.
Secara keseluruhan, inflasi tahunan Jawa Barat sebesar 2,72 persen masih berada di tengah rentang inflasi daerah-daerah tersebut. Data BPS menunjukkan tekanan harga sepanjang Juli 2026 terjadi hampir merata di seluruh wilayah pemantauan, meski besarnya berbeda pada masing-masing kabupaten dan kota.

















