KDM Tak Tegas Tolak Duet Gibran, Pengamat: Strategi Co-Branding

Pengamat Unisba Setiawan Santana Kurnia menilai sikap Dedi Mulyadi yang tidak menegaskan rumor duet dengan Gibran sebagai strategi co-branding politik.
Respons KDM disebut komunikasi ambigu: ia tetap menunjukkan identitas kader Gerindra, tanpa secara eksplisit menerima atau menolak isu pasangan politik tersebut.
Fenomena KDM-Gibran dinilai mencerminkan pergeseran komunikasi politik ke platform digital, sekaligus memperluas pasar elektoral tanpa memastikan pencalonan Pilpres 2029.
Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM tidak menolak atau membenarkan mengenai rumor duet bersama Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka untuk maju sebagai kontestan di Pilpres 2026. Sikap orang nomor satu di Jabar ini dinilai sedang melakukan co-branding politik.
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar sekaligus Pakar Komunikasi Ilmu Politik Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof Setiawan Santana Kurnia. Dia menilai, komunikasi KDM terkait isu tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari strategi co-branding politik.
"Ini adalah sebuah strategi co-branding politik. Secara teori personalisasi politik, KDM sedang membangun brand sebagai pemimpin teknokratis, populis Jawa Barat dengan blusukannya, responsifnya menghadapi persoalan masyarakat," ujar Setiawan saat dihubungi, Rabu (23/9/2026).
1. Komunikasi KDM dinilai ambigu

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi alias KDM. Dok. Istimewa Setiawan melihat respons KDM terhadap rumor duet dengan Gibran tidak dapat dibaca semata-mata sebagai penolakan. Sebab, di satu sisi KDM tetap menunjukkan identitasnya sebagai kader Gerindra, tetapi di sisi lain tidak memberikan penolakan secara eksplisit terhadap isu tersebut.
Menurut dia, pola komunikasi seperti itu, merupakan ambiguous communication atau komunikasi ambigu, karena tidak ada penegasan apakah menerima atau menolak.
"Dia tidak menolak Gibran sebagai sosok yang diduetkan, tapi juga dia tidak menolak prosesnya bahwa itu adalah hoaks," katanya.
2. Ada pergeseran komunikasi politik dari rumor tersebut

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Setiawan menyampaikan, komunikasi ambigu tersebut membuat ruang politik KDM tetap terbuka. Sebab, KDM masih dapat menegaskan loyalitas kepartaiannya, sekaligus membiarkan isu mengenai dirinya terus berkembang di ruang publik.
"Makanya saya tidak bisa menjawab mau dan tidak. Saya hanya melihatnya secara komunikasi politik ia telah membikin sebuah co-branding," katanya.
Setiawan juga melihat fenomena KDM-Gibran sebagai bagian dari perubahan pola komunikasi politik di era digital. Menurutnya, komunikasi politik yang sebelumnya lebih banyak dikendalikan partai kini semakin dipengaruhi oleh tokoh politik dan ekosistem platform.
"Isu KDM-Gibran ini menunjukkan pergeseran komunikasi politik yang biasanya dikontrol oleh partai, menjadi komunikasi politik yang dikontrol oleh platform," kata dia.
3. Rumor ini merupakan pencitraan

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Setiawan menilai pernyataan KDM yang kemudian diberitakan media turut memperlihatkan bagaimana otoritas komunikasi tersebut dinegosiasikan kembali. Meski isu duet dengan Gibran terus berkembang, dia menegaskan, strategi co-branding tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa KDM akan maju dalam Pilpres 2029.
"Ini bukan untuk menunjukkan bahwa dia akan maju, ini cuma sebuah pencitraan. Namun kita tahu dampaknya menguntungkan di segala lini," ucapnya.
Setiawan menambahkan, komunikasi ambigu memungkinkan seorang tokoh politik memperluas pasar elektoral tanpa harus memberikan kepastian mengenai pencalonannya.
"Karena waktu kan masih panjang, persoalan juga masih panjang. Masing-masing kan saling mengintip," kata dia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















