IGD Bandung Kiwari Padat, Banyak Pasien Ringan Ingin Cepat Ditangani

- Dalam 1-21 September 2026, IGD RSUD Bandung Kiwari menerima 2.860 pasien atau rata-rata 136 per hari; sebagian datang dengan kondisi ringan demi penanganan cepat.
- Sebanyak 61 persen pasien IGD lanjut rawat inap, membuat rata-rata 10 pasien per hari menunggu kamar. Rumah sakit tetap melayani dengan triase yang memprioritaskan kondisi mengancam nyawa.
- Pasien ringan banyak datang setelah poli tutup, terutama mulai pukul 16.00 WIB. RSUD mengimbau penggunaan Puskesmas, klinik, atau poli, sementara BOR rumah sakit tercatat 74 persen.
Bandung, IDN Times - Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bandung Kiwari tengah mengalami lonjakan kunjungan pasien. Dalam 21 hari pertama September 2026, tercatat 2.860 pasien datang ke IGD atau rata-rata sekitar 136 pasien setiap hari.
Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari, Arief Budiman, mengatakan bahwa kepadatan IGD tidak hanya dipicu pasien dengan kondisi darurat. Sebagian pasien yang datang justru dalam kondisi ringan dan stabil karena berharap bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.
"Jadi yang mungkin ingin disampaikan, ingin cepat, Pak, ingin cepat ditangani. Kekhawatiran-kekhawatiran tadi, saya kira kalau pasien anak biasanya orang tuanya yang khawatir," kata Arief ditemui di RSUD Kiwari, Rabu (23/9/2026).
1. Ada 61 persen pasien IGD lanjut rawat inap

IGD RS Bandung Kiwari Padat, Dirut: Banyak Pasien Ringan Ingin Cepat Ditangani. IDN Times/Debbie Sutrisno Menurutnya, dari ribuan pasien yang datang ke IGD sepanjang 1-21 September 2026, sekitar 61 persen di antaranya melanjutkan perawatan ke ruang rawat inap. Lonjakan tersebut membuat rata-rata 10 pasien per hari harus masuk daftar tunggu karena belum bisa langsung mendapatkan kamar rawat inap. Jumlah tertinggi terjadi pada 12 September, ketika 23 pasien tidak dapat langsung masuk ruang perawatan.
Meski demikian, Arief memastikan RSUD Bandung Kiwari tidak menutup pelayanan IGD di tengah kondisi tersebut. Setiap pasien tetap diperiksa dan dipilah berdasarkan tingkat kegawatannya melalui proses triase.
"Di tengah lonjakan ini kami tidak pernah menutup pintu. Bagi siapa pun pasien yang datang, tetap kami periksa dan dipilah sesuai dengan kegawatan melalui proses triase," ujarnya.
Pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa akan diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan. Sementara pasien dengan kondisi ringan dan stabil akan diarahkan sesuai kebutuhan medisnya.
2. Pasien ringan banyak datang setelah jam pelayanan poli

IGD RS Bandung Kiwari Padat, Dirut: Banyak Pasien Ringan Ingin Cepat Ditangani. IDN Times/Debbie Sutrisno Menurut Arief, pasien dengan kondisi ringan atau stabil yang datang ke IGD cukup banyak terjadi setelah jam pelayanan poliklinik berakhir, terutama mulai sekitar pukul 16.00 WIB hingga malam hari. Pada kondisi tersebut, masyarakat terkadang memilih IGD karena menganggap pasien bisa langsung mendapatkan penanganan. Terlebih RSUD Bandung Kiwari merupakan rumah sakit pemerintah yang melayani pasien BPJS maupun umum.
"Ketika itu triase hijau, maka sesungguhnya bisa dilayani dan lebih cepat di poli rawat jalan," kata Arief.
Ia menjelaskan, keluhan pasien yang banyak ditemukan juga tidak semuanya berkaitan dengan influenza. Pada pasien anak, misalnya, terdapat kasus demam tinggi, diare hingga dehidrasi. Sementara pada pasien dewasa, salah satu keluhan yang banyak ditangani adalah pneumonia atau radang paru-paru.
Namun, Arief menegaskan pihaknya tidak memiliki data khusus mengenai kasus influenza karena RSUD Bandung Kiwari tidak melakukan pemeriksaan swab untuk penyakit tersebut.
"Kalau gambaran globalnya, pasien kita yang terbanyak itu pasien anak dengan demam tinggi, dan juga pasien dewasa dengan radang paru-paru. Terkait influenza, memang kami tidak melakukan swab-nya, jadi kami tidak punya data," tuturnya.
3. BOR masih 74 persen, masyarakat diminta ke fasilitas kesehatan tingkat pertama

IGD RS Bandung Kiwari Padat, Dirut: Banyak Pasien Ringan Ingin Cepat Ditangani. IDN Times/Debbie Sutrisno Meski IGD mengalami kepadatan, Arief mengatakan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) RSUD Bandung Kiwari masih berada di angka 74 persen. Rumah sakit tersebut memiliki total 333 tempat tidur. Artinya, secara keseluruhan ruang rawat inap masih memiliki kapasitas yang tersedia, meski proses pemindahan pasien dari IGD ke ruang perawatan tetap perlu dilakukan secara bertahap.
Pihak rumah sakit pun berupaya mempercepat perpindahan pasien yang sudah stabil ke ruang rawat inap serta memulangkan pasien yang sudah layak pulang agar dapat melanjutkan kontrol melalui poli rawat jalan.
Arief juga mengusulkan penambahan perawat dan dokter umum di ruang perawatan untuk membantu mempercepat proses tersebut. Rotasi tenaga kesehatan dilakukan untuk memperkuat pelayanan di IGD ketika terjadi lonjakan pasien.
Di sisi lain, Arief mengimbau masyarakat tidak langsung datang ke IGD apabila keluhan yang dialami masih ringan dan stabil. "Datanglah ke IGD kalau memang keadaannya darurat, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, atau kecelakaan," katanya.
Untuk keluhan yang lebih ringan, masyarakat dapat memanfaatkan layanan Puskesmas, klinik, maupun poli rawat jalan di rumah sakit. Menurut Arief, pelayanan tersebut justru dapat lebih cepat karena pasien dapat langsung ditangani sesuai kebutuhan medisnya.
RSUD Bandung Kiwari juga akan memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan agar rujukan dari fasilitas kesehatan lain dapat dikonfirmasi terlebih dahulu melalui Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute). Langkah ini dilakukan untuk mengetahui ketersediaan tempat sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















