Harga Kedelai di Bandung Meroket, Farhan: Sudah Tidak Bisa Ditolong

Harga kedelai impor di Bandung tembus hampir Rp11 ribu per kilogram, membuat Wali Kota Farhan mengakui sulitnya pengendalian karena bergantung pada pasar global.
Pemkot Bandung mendorong perajin tahu dan tempe meningkatkan efisiensi produksi agar tetap bertahan, sambil menjaga daya beli masyarakat melalui stabilitas distribusi dan harga.
Farhan meminta perajin tidak mogok produksi meski biaya bahan baku melonjak, menegaskan pentingnya keberlangsungan industri tahu-tempe bagi ekonomi lokal dan kebutuhan protein warga.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung menyoroti harga kedelai untuk produksi tahu dan tempe yang terus naik. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, harga kedelai saat ini sudah berada di atas Rp10 ribu per kilogram, bahkan mendekati Rp11 ribu.
Farhan mengakui, lonjakan harga tersebut sulit dikendalikan karena kedelai merupakan komoditas impor yang sangat bergantung pada mekanisme pasar global. Kondisi ini membuat pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam menekan harga di tingkat lokal.
"Harga kedelai itu sekarang enggak bisa ditolong. Sudah di atas Rp10 ribu per kilogram, bahkan mendekati Rp11 ribu. Karena ini barang impor, ya kita mengikuti mekanisme pasar," ujar Farhan dikutip Sabtu (13/6/2026).
1. Minta para perajin tahu lebih efisien

Pemkot Bandung akan mengambil langkah strategis menjaga keberlangsungan produksi tahu dan tempe, yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat sekaligus penopang usaha mikro. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong para perajin untuk meningkatkan efisiensi produksi. Langkah ini dinilai penting agar pelaku usaha tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya bahan baku.
"Kita mengimbau kepada para pengrajin tahu dan tempe agar lebih efisien. Yang penting produksi jangan sampai berhenti," katanya.
2. Pastikan masyarakat masih memiliki daya beli

Selain itu, Pemkot Bandung juga berupaya menjaga stabilitas distribusi dan akses penjualan di berbagai titik di Kota Bandung. Farhan memastikan, jalur distribusi dan pasar bagi produk tahu dan tempe harus tetap terbuka agar roda ekonomi terus bergerak.
Di sisi lain, pemerintah berusaha menjaga daya beli masyarakat. Menurut Farhan, keseimbangan antara harga dan kemampuan konsumsi menjadi kunci agar produk berbahan kedelai tetap terjangkau.
"Kita jaga supaya konsumen yang biasa beli kuliner tahu dan tempe tetap punya daya beli. Jadi walaupun harganya naik, masih bisa terbeli," ujarnya.
3. Farhan minta perajin tahu tidak mogok produksi

Farhan menyebut, keberlangsungan industri tahu dan tempe tidak boleh terganggu, mengingat perannya yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja.
Ia pun berharap para pelaku usaha tetap optimistis dan mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Pemerintah, kata dia, akan terus hadir untuk memastikan ekosistem usaha tetap berjalan.
"Yang paling penting produksi tahu dan tempe jangan sampai berhenti," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya di IDN TImes, sebanyak 140 Perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung berencana mogok operasional dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini diambil setelah nilai rupiah terhadap dolar AS terus naik.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar ini sangat berpengaruh karena mayoritas perajin menggunakan kedelai impor dari Amerika, Kanada, dan Brazil. Jika dolar naik, otomatis harga kedelai pun naik dan berdampak signifikan terhadap industri tahu.
"Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa itu Rp9 ribuab per kilogram lah, Rp8 ribu sampai Rp9 ribu sekarang sudah nyampai ada yang Rp11 ribu per kilogram," ujar M. Zamaludin, Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, sekaligus perajin tahu Cibuntu, Sabtu (6/6/2026).
Pria yang akrab dengan panggilan Zamal ini mengungkapkan, perajin tahu Kota Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat sudah mengeluhkan dan was-was terhadap melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
"Kami perajin khawatir, khawatirnya ya kedelai terus naik, terus diikuti juga dengan bahan-bahan yang lain bisa jadi naik juga. Jadi ya kalau dolar naik otomatis lah (terdampak) karena kita pakai impor, bukan pakai lokal," ucapnya.
Perajin tahu di Cibuntu dan Jawa Barat memang sangat ketergantungan dengan kedelai impor karena ketersediaan dari dalam negeri sangat terbatas. Sehingga, mau tidak mau mengandalkan dari impor.
"Kalau harga kedelainya naik terus, mungkin kejadian 2023 kita akan terulang lagi. Kita akan demo, kita ya ingin menaikkan harga ya susah kan kalau menaikkan harga untuk tahu dan tempe, makanya kita ya solusinya salah satunya ya kita demo mogok," tutur Zamal.


















