Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tertekan, Perajin Tahu Bandung Siap Mogok Besar-besaran?

Rupiah Tertekan, Perajin Tahu Bandung Siap Mogok Besar-besaran?
Perajin tahu Cibuntu Kota Bandung. IDN Times-Azzis Zulkhairil.
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Sebanyak 140 perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Bandung, berencana mogok produksi akibat pelemahan rupiah yang membuat harga kedelai impor melonjak tajam.
  • Kenaikan harga kedelai dari sekitar Rp9.000 menjadi Rp11.000 per kilogram membuat banyak perajin merugi dan khawatir kondisi serupa tahun 2023 akan terulang.
  • Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat meminta pemerintah segera turun tangan dengan langkah konkret seperti subsidi atau penghapusan bea impor kedelai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandung, IDN Times - Sebanyak 140 perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung berencana melakukan mogok operasional beberapa hari ke depan. Langkah ini dilakukan setelah nilai rupiah terhadap dolar AS sudah menyentuh 18.095 per Sabtu (6/6/2026) pukul 11:08 WIB.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar ini sangat berpengaruh karena mayoritas perajin menggunakan kedelai impor dari Amerika, Kanada, dan Brazil. Jika dolar naik, maka secara otomatis harga kedelai pun ikut naik dan berdampak signifikan terhadap industri tahu.

"Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa itu 9.000-an per kilogram lah, 8 ribu sampai 9.000, sekarang sudah nyampai ada yang 11.000 perkilogram," ujar M. Zamaludin, Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, sekaligus perajin tahu Cibuntu, Sabtu (6/6/2026).

1. Khawatir kedelai terus melambung tinggi

IDN Times - Azzis Zulkhairil
Perajin tahu Cibuntu Kota Bandung. IDN Times-Azzis Zulkhairil.

Pria yang akrab disapa Zamal ini menjelaskan, perajin tahu Kota Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat memang sudah mengeluhkan dan waswas terhadap melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

"Kami perajin khawatir, khawatirnya ya kedelai terus naik, terus diikuti juga dengan bahan-bahan yang lain bisa jadi naik juga. Jadi ya kalau dolar naik otomatis lah (terdampak) karena kita pakai impor, bukan pakai lokal," ucapnya.

Perajin tahu di Cibuntu dan Jawa Barat memang sangat ketergantungan dengan kedelai impor karena ketersediaan dari dalam negeri sangat terbatas. Sehingga, mau tidak mau mengandalkan dari impor.

"Kalau harga kedelainya naik terus, mungkin kejadian 2023 kita akan terulang lagi. Kita akan demo, kita ya ingin menaikkan harga ya susah kan kalau menaikkan harga untuk tahu dan tempe, makanya kita ya solusinya salah satunya ya kita demo mogok," tutur Zamal.

2. Mogok massal seperti 2023 berpotensi akan terjadi

Warga sedang berdemo.
ilustrasi demo (pexels.com/Life Matters)

Di tahun 2023, para perajin tahu di Jawa Barat sempat melakukan aksi mogok dengan tidak beroperasi dan membuat keberadaan tahu di pasar-pasar langka. Bahkan, mogok nasional ini juga sempat diikuti beberapa perajin tahu di provinsi lain seperti Aceh.

Zamal menegaskan, jika pemerintah tidak mampu memberikan cara agar harga kedelai tetap murah meski dolar tembus Rp18 ribu, kejadian tersebut akan terulang.

"Mogok massal produksi, seperti yang terjadi tahun 2023, kita mogok massal," kata dia.

3. Berharap pemerintah cari solusi

ilustrasi demonstrasi (unsplash.com/@kslupski)
ilustrasi demonstrasi (unsplash.com/@kslupski)

Kendati begitu, Zamal mengatakan, saat ini para perajin masih memiliki stok untuk kedelai dimana saat itu dolar belum naik seperti sekarang. Sehingga, beberapa diantaranya masih beroperasi dan menjual dengan ukuran yang sesuai tidak diperkecil.

"Kalau ukuran masih tetap, enggak ada pengurangan ukuran, harga kita masih tetap. Cuma ya itu, kita berkurang dari keuntungan aja, malahan ada sampai ada yang merugi juga," jelas dia.

Dia berharap, pemerintah bisa memberikan langkah kongkret untuk membantu menjaga harga kedelai agar tidak terus meningkat karena pelemahan nilai tukar rupiah.

"Harapan saya sih pemerintah segera turun tangan lah bantu. Dulu juga bisa pemerintah turun tangan salah satunya ya subsidi atau ya apa bea-nya seperti plastik lah, bea-nya di-nol kan, dinolkan, itu kan bisa plastik, kenapa kedelai enggak gitu, impor kedelai," kata dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Jawa Barat

See More