Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dolar Hampir Rp18 Ribu, Industri-Proyek Infrastruktur Jabar Terdampak

Dolar Hampir Rp18 Ribu, Industri-Proyek Infrastruktur Jabar Terdampak
Ilustrasi nilai tukar rupiah melemah (pinterest.com/TubasMedia.com)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.981,30 per dolar AS, memicu kekhawatiran di sektor industri dan infrastruktur Jawa Barat.
  • Lelang proyek Pemprov Jabar sempat sepi peminat karena kenaikan harga bahan konstruksi seperti aspal dan semen membuat perhitungan biaya tidak menguntungkan.
  • Setelah evaluasi, beberapa proyek infrastruktur seperti pelebaran Jalan Raya Bandung-Garut dan pembangunan jembatan kembali diminati kontraktor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandung, IDN Times - Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak luas terhadap industri dan pembangunan infrastruktur di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat lelang tender proyek sempat terjadi penurunan peminat karena bahan baku seperti aspal dan lainnya naik harga.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, sektor industri di Jawa Barat pun saat ini tengah waswas dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mana sudah menembus Rp17.981,30.

Sementara, kondisi industri di Jabar sangat beragam, untuk pabrik produknya sudah sampai ekspor tentunya akan merasa diuntungkan dengan kenaikan ini. Namun, untuk pengusaha yang mengandalkan bahan baku impor menurut Dedi kini dalam kondisi berat.

"Dampaknya pasti ada dua variabelnya. Yang ekspor pasti merasa untung, tapi yang bahan bakunya impor pasti berat. Pasti ada yang dirugikan dan diuntungkan, tapi saya berharap ke depan dolar bisa lebih stabil," ujar Dedi, Rabu (3/5/2026).

1. Lelang proyek sempat tidak ada peminat

Ilustrasi nilai tukar mata uang (katadata.co.id/Agung Jatmiko)
Ilustrasi nilai tukar mata uang (katadata.co.id/Agung Jatmiko)

Di sisi lain, lelang paket pekerjaan milik Pemprov Jabar, seperti perbaikan jalan sempat tidak banyak diminati kontraktor karena dinilai kurang menguntungkan. Bahkan, kata Dedi, beberapa proyek jalan yang biasanya diperebutkan kontraktor justru tidak mendapatkan pendaftar.

"Sebetulnya, itu yang mengakibatkan kemarin beberapa kegiatan Pemprov Jabar lelangnya sempat tidak ada peminat," katanya.

2. Kontraktor menilai tidak ada untungnya mengerjakan proyek Pemprov Jabar

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)

Pemprov Jabar pun sempat melakukan evaluasi, untuk mencari tahu penyebabnya, dan hasilnya peserta lelang belum tertarik karena perhitungan biaya proyek yang semakin tinggi, akibat kenaikan harga material konstruksi.

"Biasanya orang ngantri rebutan. Setelah saya analisis, faktor penyebabnya harga. Mereka menghitung tidak ada untungnya," katanya.

3. Pemprov Jabar langsung melakukan evaluasi

IMG-20260511-WA0029.jpg
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Lebih lanjut, Dedi mengungkapkan, kenaikan nilai tukar dolar berdampak pada harga berbagai bahan konstruksi seperti semen, hot mix atau aspal, hingga beton. Kenaikan biaya tersebut membuat kontraktor lebih berhati-hati dalam mengikuti tender proyek pemerintah.

Kendati begitu, Pemprov Jabar akhirnya melakukan evaluasi terhadap sejumlah paket pekerjaan sehingga proyek-proyek tersebut kembali mendapatkan peminat.

"Tetapi akhirnya juga ada peminatnya setelah kita lakukan evaluasi," ucapnya.

Adapun Pemprov Jabar saat ini tengah menggarap sejumlah proyek infrastruktur, di antaranya rekonstruksi dan pelebaran Jalan Raya perbatasan Bandung-Garut dari lebar sembilan meter menjadi 12 meter, pembangunan dan perbaikan jalan provinsi di berbagai daerah, serta sejumlah proyek jembatan dan sarana konektivitas antarwilayah.

Share Article
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana

Latest News Jawa Barat

See More