Pangan Turun, tapi Ongkos Hidup Warga Cirebon Justru Kian Membengkak

- BPS Kota Cirebon mencatat inflasi tahunan Juli 2026 sebesar 2,28 persen, meski terjadi deflasi bulanan 0,07 persen akibat turunnya harga sejumlah pangan.
- Kenaikan biaya hidup didorong terutama oleh bensin, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan restoran; penurunan harga telur, bawang, cabai, serta hortikultura belum mengimbanginya.
- BPS menilai tekanan bergeser ke inflasi biaya produksi dan distribusi, sehingga pengendalian harga perlu mencakup energi, transportasi, distribusi, serta efisiensi rantai pasok.
Cirebon, IDN Times - Badan Pusat Statistisk (BPS) menyebutkan, turunnya harga sejumlah bahan pangan belum mampu membuat biaya hidup masyarakat Kota Cirebon terasa lebih ringan.
Ketika harga bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, beras, hingga minyak goreng mulai melandai, warga justru dihadapkan pada kenaikan pengeluaran yang lebih sulit dihindari, mulai dari biaya bahan bakar minyak (BBM), transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga makan di luar rumah.
Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran, menjelaskan bahwa pada Juli 2026 Kota Cirebon mencatat inflasi secara tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,28 persen.
Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m) terjadi deflasi sebesar 0,07 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,39 persen.
"Meski secara bulanan terjadi penurunan harga secara rata-rata, kondisi tersebut belum cukup mengurangi beban pengeluaran masyarakat karena komponen kebutuhan yang mengalami kenaikan justru merupakan pengeluaran rutin yang sulit ditekan," kata Samiran, Selasa (4/8/2026).
1. Energi dan jasa jadi mesin baru inflasi

Data BPS menunjukkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi bukan lagi didominasi bahan pangan.
Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 4,56 persen, diikuti pendidikan 4,42 persen, transportasi 4,07 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 2,96 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,61 persen.
Di antara berbagai komoditas, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kenaikan harga BBM tersebut diikuti meningkatnya biaya perguruan tinggi, minyak goreng, daging sapi, beras, daging ayam ras, hingga bakso siap santap.
Sebaliknya, beberapa komoditas pangan justru mengalami penurunan harga sehingga menjadi penyumbang deflasi, antara lain telur ayam ras, bawang merah, cabai merah, tomat, bawang putih, kelapa, brokoli, serta sejumlah komoditas hortikultura lainnya.
Kondisi ini memperlihatkan penurunan harga pangan belum mampu mengimbangi kenaikan biaya pada sektor energi dan jasa. Akibatnya, masyarakat tetap merasakan tekanan biaya hidup meskipun harga beberapa kebutuhan pokok lebih murah dibanding sebelumnya.
2. Tekanan bergeser ke ongkos produksi

Samiran mengatakan, perubahan komposisi inflasi tersebut mengindikasikan Kota Cirebon mulai menghadapi tekanan cost-push inflation, yakni inflasi yang dipicu meningkatnya biaya produksi dan distribusi, bukan semata karena lonjakan permintaan masyarakat.
"Ketika harga bensin meningkat, dampaknya tidak berhenti pada biaya transportasi. Pelaku usaha harus mengeluarkan ongkos distribusi lebih besar, biaya logistik meningkat, sementara restoran dan usaha kuliner menghadapi kenaikan biaya operasional," ujar Samiran.
"Kondisi serupa juga dirasakan sektor perdagangan dan UMKM yang bergantung pada mobilitas barang maupun bahan baku," sambungnya.
Di sisi lain, meningkatnya biaya pendidikan dan kesehatan turut mempersempit ruang belanja rumah tangga. Pengeluaran untuk sekolah maupun layanan kesehatan merupakan kebutuhan yang sulit ditunda sehingga berpotensi mengurangi alokasi belanja masyarakat terhadap sektor lain.
Samiran menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi karena sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau naik 2,61 persen, pakaian dan alas kaki 1,27 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,11 persen, perlengkapan rumah tangga 1,69 persen, kesehatan 4,56 persen, transportasi 4,07 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,18 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,13 persen, pendidikan 4,42 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 2,96 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,83 persen.
"Komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain bensin, jeruk, akademi atau perguruan tinggi, Sigaret Kretek Mesin (SKM), minyak goreng, daging sapi, kangkung, pepaya, beras, bakso siap santap, Sigaret Putih Mesin (SPM), daging ayam ras, roti manis, kasur, dan wortel," tuturnya.
3. Tantangan baru pengendalian inflasi

Samiran mengatakan, perubahan struktur inflasi tersebut menjadi sinyal kalau strategi pengendalian harga tidak lagi cukup berfokus pada stabilisasi pasokan pangan.
Pemerintah daerah juga perlu memberi perhatian terhadap faktor-faktor yang memengaruhi biaya energi, distribusi, transportasi, serta efisiensi rantai pasok agar kenaikan ongkos produksi tidak terus merambat menjadi kenaikan harga barang dan jasa.
"Jika tekanan biaya terus meningkat, daya beli masyarakat berpotensi semakin tergerus. Di sisi lain, pelaku usaha menghadapi dilema antara mempertahankan margin keuntungan atau menaikkan harga jual yang dapat mengurangi konsumsi masyarakat," tutupnya.


















